BerandaBeritaLiputan KhususMuhasabah: Bencana adalah Peringatan Ilahi

Muhasabah: Bencana adalah Peringatan Ilahi

Oleh: M. Farid Wajdi, S.H.i

PALONTARAQ.ID – INDONESIA  merupakan negeri yang rawan bencana. Tak salah jika pemerintah membentuk satu badan nasional tersendiri yang khusus menangani bencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Negeri yang membentang dari Barat (Sabang) ke Timur (Merauke) dengan gugusan Pulau dan bukit indah, hamparan persawahan, perkebunan dan hutan nan mempesona, serta dikelilingi gunung berapi dan kawasan karst yang menakjubkan.

Negeri ini dikelilingi cincin api, ring of fore dari pegunungan berapi yang tersebar di banyak daerah. Keindahan pulau dengan pantai dan pesisirnya yang eksotik. Sungai, danau, teluk, dengan pepohonannya yang rindang dan menghijau sungguh pemandangan yang sulit didapatkan di belahan bumi manapun.

Indonesia benar-benar negeri beriklim tropis yang sangat mempesona. Semua keindahan ini sungguh hal yang patut disyukuri dengan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Kesyukuran yang seharusnya menambah keimanan dan taqwa kita kepada Allah SWT.

Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)
Dampak Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)

Saudaraku, tidakkah kita memperhatikan dan merenungi semua itu, tentang keindahan dan pesona alam di negeri yang dibangun para ulama ini.

Semua itu menunjukkan adanya Sang Pencipta yang Maha Berkuasa, Pemilik segala sesuatu. Pemilik segala kerajaan, di langit dan di bumi, serta apa yang ada diantara keduanya. Allah SWT berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ
وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ
وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

 

Artinya:

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (Qs. Al-Baqarah:164)

وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا

Artinya:

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin lagi pahit  dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.” (Qs. Al-Furqan:53)

Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)
Dampak Musibah Tsunami dan Gempa di Palu. (foto: repro/ist)

 

أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ

حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا

أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ * أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا

وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا

أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

 

Artinya:

“Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah? Kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apakah di samping Allah ada tuhan (selain-Nya)? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). Bukankah Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan yang menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (selainNya)? Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Qs. An-Naml:60-61)

Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)
Dampak Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)

Dialah Allah SWT yang menciptakan semua itu, makhluk-makhluk indah dan cantik mempesona, agar kalian hanya beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun.

Sayangnya, segala keindahan dan pesona tersebut dihancurkan, dieksploitasi habis-habisan tanpa memikirkan kelestarian dan kelanjutannya untuk generasi mendatang.

Allah SWT mengabarkan bahwa kerusakan tersebut disebabkan oleh ulah perbuatan manusia.

 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

 

Artinya:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs. Ar-Rum:41)

Berkata Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah:

ﺑﻴﻦ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﺃﻥ اﻟﺸﺮﻙ ﻭاﻟﻤﻌﺎﺻﻲ ﺳﺒﺐ ﻟﻈﻬﻮﺭ اﻟﻔﺴﺎﺩ ﻓﻲ اﻟﻌﺎﻟﻢ

Artinya:

“Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa syirik dan maksiat-maksiat adalah sebab munculnya kerusakan di alam ini.” (Fathul-Qadir:4/263)

Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)
Dampak Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)

Dari sini kita ketahui dua sebab utama kehancuran dan kebinasaan suatu umat atau kaum, yaitu karena tersebarnya kesyirikan dan tersebarnya maksiat.

Tersebarnya kesyirikan dan maksiat yang merajalela menjadi sebab kebinasaan Orang-orang Terdahulu. Allah SWT telah memerintahkan untuk mengambil pelajaran dari setiap kejadian kaum terdahulu yang dibinasakan karena sebab kesyirikan dan kemaksiatannya yang melampaui batas.

 

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ

 

Artinya:

“Katakanlah (Hai Muhammad), “Bepergianlah di muka bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berbuat kesyirikan kepada (Allah).”  (Qs. Ar-Rum:42)

Berkata Al-Allamah Ibnul-Jauzi rahimahullah:

ﻭاﻟﻤﻌﻨﻰ: اﻧﻈﺮﻭا ﺇﻟﻰ ﻣﺴﺎﻛﻨﻬﻢ ﻭﺁﺛﺎﺭﻫﻢ، ﻛﺎﻥ ﺃﻛﺜﺮﻫﻢ ﻣﺸﺮﻛﻴﻦ اﻟﻤﻌﻨﻰ: ﻓﺄﻫﻠﻜﻮا ﺑﺸﺮﻛﻬﻢ.

 

Artinya:

“Perhatikanlah tempat-tempat tinggal mereka dan jejak-jejak mereka (yang telah dihancurkan), kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berbuat kesyirikan, maknanya: mereka dibinasakan karena sebab kesyirikan mereka.” (Zadul-Masir: 3/425)

Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)
Dampak Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)

Berkata Al-Allamah Shiddiq Hasan Khan rahimahullah:

(ﻛﺎﻥ ﺃﻛﺜﺮﻫﻢ ﻣﺸﺮﻛﻴﻦ) ﻣﺴﺘﺄﻧﻔﺔ ﻟﺒﻴﺎﻥ اﻟﺤﺎﻟﺔ اﻟﺘﻲ ﻛﺎﻧﻮا ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻭﺇﻳﻀﺎﺡ اﻟﺴﺒﺐ اﻟﺬﻱ ﺻﺎﺭﺕ ﻋﺎﻗﺒﺘﻬﻢ ﺑﻪ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﺻﺎﺭﺕ ﺇﻟﻴﻪ،

ﻭﻫﻮ ﻓﺸﻮ اﻟﺸﺮﻙ ﻭاﻟﻌﺼﻴﺎﻥ ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻴﻨﻬﻢ، ﺃﻭ ﻛﺎﻥ اﻟﺸﺮﻙ ﻓﻲ ﺃﻛﺜﺮﻫﻢ ﻭﻣﺎ ﺩﻭﻧﻪ ﻣﻦ اﻟﻤﻌﺎﺻﻲ ﻓﻲ ﻗﻠﻴﻞ ﻣﻨﻬﻢ.

 

Artinya:

“FirmanNya kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berbuat kesyirikan” adalah kalimat baru (dari ayat) sebagai penjelasan keadaan mereka yang dahulu (sebelum dibinasakan) dan penjelasan sebab yang dengannya menjadi akibat kesudahan (kebinasaan) mereka, yaitu tersebarnya kesyirikan dan kemaksiatan ditengah-tengah mereka, atau tersebarnya kesyirikan pada kebanyakan mereka dan yang lebih kecil darinya berupa maksiat yang tersebar pada sebagian kecil dari mereka.” (Fathul-Bayãn:10/257)

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Artinya:

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”  (Qs. Asy-Syura:30)

Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)
Dampak Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)

Berkata Al-Mufassir Ibnu Juzay rahimahullah:

 

اﻟﻤﻌﻨﻰ ﺃﻥ اﻟﻤﺼﺎﺋﺐ اﻟﺘﻲ ﺗﺼﻴﺐ اﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﺃﻧﻔﺴﻬﻢ ﻭﺃﻣﻮاﻟﻬﻢ ﺇﻧﻤﺎ ﻫﻲ ﺑﺴﺒﺐ اﻟﺬنوب

 

Artinya:

Bahwasanya musibah-musibah yang menimpa manusia pada diri mereka dan harta mereka hanyalah disebabkan karena dosa-dosa (mereka). (At-Tashil Li Ulûmit-Tanzîl:2/249)

Berkata Al-Allamah Ibnul-Qayyim rahimahullah:

ﻭﻣﻦ ﺗﺄﺛﻴﺮ ﻣﻌﺎﺻﻲ اﻟﻠﻪ ﻓﻲ اﻷﺭﺽ ﻣﺎ ﻳﺤﻞ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ اﻟﺨﺴﻒ ﻭاﻟﺰﻻﺯﻝ، ﻭﻳﻤﺤﻖ ﺑﺮﻛﺘﻬﺎ

 

Artinya:
Diantara pengaruh maksiat kepada Allah di muka bumi adalah apa yang menimpa padanya berupa tenggelamnya (daratan), gempa, dan hilangnya berkahnya. (Ad-Dã wad-Dawã’:100)

Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)
Dampak Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)

Maka demikianlah, musibah dan bencana datang silih berganti menimpa dan menerjang daerah dan wilayah Indonesia. Ada apa dengan masyarakat Indonesia?

Mengapa daerah ini diterjang berbagai bencana. Tsunami yang meneggelamkan, gempa yang menggoyang dan memporak-porandakan, tanah yang menelan, banjir bandang yang menghanyutkan, gunung api yang menggetarkan, serta berbagai bencana lainnya?

Bencana silih berganti menghilangkan nyawa, melenyapkan keluarga, menenggelamkan segala harta benda dan properti kesayangan, hancurnya tempat tinggal serta lenyapnya segala kenyamanan hidup.

Maka hisablah diri. Apakah masyarakat ini tidak peduli lagi dengan agama. Tidak ada lagi kasih sayang diantara masyarakat karena semua masing-masing sibuk mengurus kebutuhan duniawi, tidak ada lagi yang saling mengingatkan dan menasehati akan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Padahal kata Allah SWT, jika suatu daerah bergelimang maksiat, maka bukan saja yang berbuat maksiat yang ditenggelamkan tapi yang tidak berbuat apa-apa pun akan terkena bencana. Sangat disayangkan, kebanyakan diantara kita tenggelam dalam kubangan kesyirikan dan maksiat, dalam keadaan lalai dari mengingat Allah.

 

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ * أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya:

Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bersenang-senang? Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi. (Qs. Al-A’raf: 97-99)

 

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ

وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Artinya:

Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab karena dosa-dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak hendak menzhalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri. (Qs. Al-Ankabut:40)

Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)
Dampak Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)

Berkata Al-Allamah Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah:

ﻓﺎﺣﺬﺭﻭا ﺃﻥ ﺗﻔﻌﻠﻮا ﻓﻌﺎﻟﻬﻢ ﻳﺤﺬﻯ ﺑﻜﻢ ﺣﺬﻭﻫﻢ ﻓﺈﻥ ﻋﺪﻝ اﻟﻠﻪ ﻭﺣﻜﻤﺘﻪ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺯﻣﺎﻥ ﻭﻣﻜﺎﻥ.

 

Artinya:
Maka berhati-hatilah dari melakukan seperti perbuatan mereka sehingga kalian terikuti jejak mereka (dalam kebinasaan), sungguh keadilan Allah dan hikmahNya berlaku di setiap zaman dan tempat. (Tafsir As-Sa’di: Ar-Rum ayat 42)

Saudaraku, Sekali lagi, penyebab turunnya bencana adalah tersebarnya kesyirikan dan maksiat, tidak semata karena persoalan gesekan lempengan bumi atau gejala alam lainnya.

Mari tinggalkan kesyirikan! Jangan lakukan sesajen-sesajen kepada jin, wali, penunggu sungai, laut, gunung, dengan mengatas-namakan adat. Tradisi syirik itu sudah harus ditinggalkan dan ditanggalkan.

Mari pula untuk mengajak sekalian tinggalkan maksiat. Mari hancurkan segala bentuk penyebaran minuman keras, zina, LGBT, musik, riba, dan berbagai maksiat lainnya.

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

 

Artinya:
Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh keikhlasan kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). (Qs. Al-Ankabut:65)

 

(وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ ۖ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا)

 

Artinya:
Dan apabila kalian ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang kalian seru (selain Allah), kecuali Dia (yaitu Allah). Tetapi ketika Dia menyelamatkan kalian ke daratan, kalian berpaling (dari-Nya). Dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur). (Qs. Al-Isra:67)

Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)
Dampak Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)

Saudaraku, Jangan tertipu dengan kesenangan dunia dan perhiasannya yang sementara. Takutlah dengan adzab Allah yang datang tiba-tiba tanpa engkau ketahui dan tanpa meminta izin, sebelum engkau menjadi orang-orang yang menyesal. Allah SWT berfirman:

 

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

 

Artinya:
Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa. (Qs. Al-An’am: 44)

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya:

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya. (Qs. Al-Anfal:25)

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

Artinya:

Dan Rabbmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim, selama penduduknya orang-orang yang mengadakan perbaikan. (Qs. Huud:117)

Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)
Bencana Banjir di Desa Biringere, Pangkep  (foto: mfaridwm/ist)

(وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)

Artinya:

Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang beriman niscaya kalian akan beruntung. (Qs. An-Nur:31)

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Artinya:

Dan tidaklah Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan. (Qs. Al-Anfal:33)

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

Artinya:

Maka setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang orang berbuat jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (Qs. Al-A’raf:165)

 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

 

Artinya:
Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS.Al-A’raf:96)

Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)
Dampak Musibah Tsunami di Palu. (foto: repro/ist)

 

إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ

Artinya:

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala (kadang) menangguhkan siksaan bagi orang yang berbuat zhalim. Dan apabila Allah telah menghukumnya, maka Dia tidak akan pernah melepaskannya. (HR.Al-Bukhari dan Muslim)

 

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهِ ثُمَّ لَتَدْعُنَّهُ فَلَا يَسْتَجِيبُ لَكُمْ

 

Artinya:
Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, hendaklah kalian memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran atau hampir Allah mengirim adzab atas kalian dari sisiNya lalu kalian berdoa padaNya dan Dia tidak mengabulkannya untuk kalian.  (HR.Ahmad dan At-Tirmidzi, hasan lighairih)

Saudaraku, Mari kembali di jalan Allah. Mari setiap saat bertaubat kepada Allah SWT dan beristghfar kepadaNya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberuntungan dan dijauhkan dari adzab.

Tak ada tempat kembali selain kembali kepadaNYA. Karena itu mari kembali memurnikan keimanan dan meningkatkan ketaqwaan kepadaNya.

Semoga Allah SWT memperbaiki keadaan negeri ini, menyelamatkannya dari bencana dan memakmurkan negeri ini. (*)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT