Berwisata ke Rumah Sakit

Pasien di Rumah Sakit. (foto: ist/palontaraq)

Pasien di Rumah Sakit. (foto: ist/palontaraq)

BAGI sebagian besar diantara kita, berwisata itu artinya mendatangi tempat-tempat yang indah. Berwisata berarti melihat pemandangan pantai, gunung, laut, sungai, danau, bentangan persawahan dan kebun, dengan segala kesejukan udaranya. Begitulah pemahaman sebagian besar orang tentang berwisata, atau tepatnya berlibur. Berwisata diartikan sebagai meninggalkan rutinitas yang dirasa menjemukan untuk mendapatkan suasana hati yang adem, tenang, dan damai.

Tak sedikit pula yang beranggapan bahwa berwisata itu berarti melepas stress, karena itu berwisata dipahami dengan kegiatan ngumpul bareng teman, nonkrong di cafe, jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, nonton bioskop, atau keliling-keliling kota mencari spot berswafoto yang bagus. Intinya, pemahaman umum tentang berwisata adalah lari dari rutinitas. Melepaskan beban pekerjaan atau tumpukan masalah di kantor dengan mendatangi suatu tempat, yang tempat itu dirasa menghilangkan stress. Karena itu pula, ada berwisata ke tempat-tempat karaoke, rumah bernyanyi, atau pusat hiburan malam lainnya.

Hanya sedikit sekali orang tua, yang memilih berwisata di Rumah Sakit. Suatu kesyukuran jika ada yang menjadikannya sebagai kebiasaan, bersilaturrahim ke rumah sakit atau terhadap pasien yang merupakan kerabat, teman, sahabat atau keluarga. Tapi sebenarnya, yang penulis maksudkan disini, adalah berwisata ke rumah sakit sebagai suatu terapi psikologis, suatu cara mengsyukuri nikmatnya kesehatan, serta sebagai sarana muhasabah mengingat kematian.

Marilah berwisata ke Ruang ICU, disana dapat dilihat pasien yang sedang berjuang mempertahankan nyawanya. Mereka terlihat sangat lemah sehingga didampingi berbagai macam alat bantu, berupa alat monitor dan selang untuk mempertahankan hidup. Disana, kan kita dapati kesyukuran yang luar biasa masih diberikan Tuhan limpahan berkah nikmat kesehatan. Berapa banyak saudara kita, teman, sahabat, dan sanak keluarga yang harus terbaring di Ruang ICU, yang kelihatannya antara hidup dan mati.

Marilah kita melangkah ke Ruang Kemoterapi. Disana kita lihat orang tengah berjuang melawan penyakit kanker. Lihat dan perhatikanlah dengan seksama wajah-wajah mereka pucat, tidak ada keceriaan dan terlihat kurus, kulit mereka menghitam akibat radiasi. Tidakkah kita bersyukur tidak ditempatkan Tuhan berada di posisi mereka.

Melangkahlah pula ke Ruang Hemodialisa. Disana berjejer terbaring manusia dengan tangan terikat selang. Mesin Hermodialisa sedang menggantikan peran Ginjal yang sudah tidak berfungsi. Berapa banyak diantara kita yang selama ini memperhatikan bagaimana seharusnya ginjal kita dijaga dan dirawat. Berapa banyak malahan yang menghembuskan nafasnya di ambulance, dalam perjalanan ke rumah sakit.

Penulis malah dapati ada satu rumah sakit khusus Jantung, saking banyaknya penderita penyakit Jantung. Tidakkah kita bersyukur selama ini tidak berada dalam posisi yang diuji Allah sedang terbaring di Rumah Sakit? Berapa banyak diantara kita hidupnya ugal-ugalan, dalam gaya hidup dan kesombongan, namun baru tersadar setelah diuji berada di Ruang Perawatan Jantung.

Membesuk Pasien di Rumah Sakit bagus sebagai Sarana Muhasabah (foto: ist/palontaraq)

Membesuk Pasien di Rumah Sakit bagus sebagai Sarana Muhasabah (foto: ist/palontaraq)

Marilah berwisata ke Rumah Sakit dan perhatikanlah dengan seksama keseluruhan penghuni di Ruang Rawat Inap. Disana kita menemukan berbagai macam penyakit, dari sesak nafas sampai susah Buang Air Besar, diabetes, stroke, jantung, dan lain-lainnya. Tak hanya sampai disitu, sebelum pulang singgahlah pula menengok Bagian Administrasi Rumah Sakit. Disana kita akan melihat keluarga pasien membayar jutaan rupiah bahkan puluhan juta rupiah sebagai biaya pengobatan karena pasien sudah sembuh, bahkan yang sudah meninggal pun tetap harus bayar biaya administrasinya.

Bagaimana dengan diri kita yang hidup nyaman di Rumah? Hidup kita relatif tidak dibantu alat apapun. Enak, kan? Sampai saat ini kita masih bernafas di alam bebas tanpa dibantu oksigen, Nikmat, kan? Kita masih bisa leluasa makan, minum, dan bercanda dengan keluarga, Sedap, kan? Apakah kita sudah bersyukur dengan semua nikmat Tuhan tersebut. Sudahkah kita bersyukur bahwa Tuhan sebenarnya masih menanti kita memenuhi panggilannya di setiap lima waktu yang telah ditentukan, serta mengharu biru dalam sujud penghambaan kepadaNYA.

Sudahkah kita bersyukur hari ini tidak berada dalam posisi yang diuji berbaring di Rumah Sakit? Sudah kita melaksanakan Perintah ALLAH dan RasulullahNYA? Mari sesama kita saling mengingatkan, saling cinta dan menyayangi karena Allah, saling rukun dan damai karena sebenarnya tidak ada yang patut disombongkan di dunia ini. Mari kita saling menghormati dan menghargai, karena toh tak ada seorangpun di dunia ini yang dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Mari saling mengalah dan melepas Ego masing-masing, yang kita cari dan yang perlu dikejar sebenarnya adalah keridhaan Allah SWT.

Mari berwisata ke Rumah Sakit sebagai sarana silaturrahim, sebagai sarana muhasabah, serta sebagai pengingat diri agar bersyukur atas segala nikmat kesehatan yang diberikan Allah SWT. Berbuat baiklah selagi kita masih diberi nafas kehidupan. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response