Protes Gencatan Senjata, Menhan Israel Mundur dan PM Netanyahu Didemo

Palestinians survey a destroyed residential building hit by Israeli airstrikes, in Gaza City, Tuesday, Nov. 13, 2018. (AP Photo/Hatem Moussa)

Palestinians survey a destroyed residential building hit by Israeli airstrikes, in Gaza City, Tuesday, Nov. 13, 2018. (AP Photo/Hatem Moussa)

 

PALONTARAQ.ID, YERUSALEM — Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya, pada Rabu (14/11) waktu setempat, tepat sehari setelah Perdana Menteri Israel Netanyahu meminta gencatan senjata dari Mujahid Palestina. “Saya tidak mencari-cari alasan untuk mengundurkan diri,” kata Lieberman dalam konferensi pers, dilansir kantor berita Turki, Anadolu Agency, Rabu (14/11).

Dilansir Aljazirah, Lieberman mengundurkan diri sebagai protes terhadap kesepakatan gencatan senjata Israel dengan Palestina di jalur Gaza. Lieberman juga memprotes langkah negaranya mengizinkan Qatar memberikan bantuan 15 juta dolar Amerika ke jalur Gaza pada pekan lalu, karena mengkhawatirkan dana tersebut dipakai untuk kebutuhan para mujahid Palestina dalam memerangi negara penjajah Israel.

Menurut Otoritas Penyiaran Israel, menjelang konfrensi pers itu Lieberman menyampaikan pengunduran diri dalam pertemuan tutup dengan anggota Partai Yisrael Beiteinu. Dia menganggap kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas berarti menyerah pada aksi teror. Sumber yang dekat dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan, pengunduran diri Lieberman ini bisa menyebabkan parlemen Israel atau Knesset bubar.

Kelompok Mujahid  Palestina, termasuk Hamas dan Jihad Islam, sebelumnya melakukan serangan roket terhadap Israel sebagai  bentuk pembalasan karena anggotanya syahid pada hari Ahad lalu.  Israel melakukan serangan udara setelahnya,  pada Senin (12/11) waktu setempat, tujuh orang Palestina tewas dan 25 lainnya terluka. Sementara itu, roket yang ditembakkan Mujahid  Palestina di Gaza menewaskan seorang perwira Israel dan melukai 50 lainnya.

Kelompok Hamas mengumumkan gencatan senjata dengan Israel pada Selasa (13/11) waktu setempat, dengan mediasi Mesir tercapai  menyusul naiknya eskalasi ketegangan yang terjadi di wilayah perbatasan Gaza. Mundurnya Avigdor Leberman dari jabatanya sebagai Menteri Pertahanan Israel disambut gembira Hamas di Gaza, Palestina. Di mata Hamas dan rakyat Palestina, Lieberman merupakan aktor tindak kekerasan terhadap warga Palestina, utamanya di jalur Gaza.

Hamas mengklaim mundurnya Lieberman sebagai sebuah kemenangan politik bagi Gaza. “Pengunduran diri Lieberman mengisyaratkan pengakuan kekalahan dan kegagalan untuk menghadapi perlawanan Palestina,” kata Sami Abu Zuhri, salah satu juru bicara kelompok Palestina seperti dilansir Aljazirah pada Kamis (15/11) dini hari.

Gencatan senjata sekaligus mengakhiri serangan udara Israel ke Gaza yang dilakukan dua hari setelah operasi rahasia Israel di wilayah tersebut. Palestina membalas serangan Israel dengan tembakan roketnya. Dalam serangan tersebut sedikitnya sebanyak 15 orang warga Palestina dan dua orang warga Israel tewas. Lieberman pun mengangap pihak-pihak yang melakukan perlawanan terhadap tindakan represif militer Israel sebagai teroris. Di lain sisi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meyakini kebijakan gencatan senjata tersebut merupakan langkah yang tepat.

Sementara itu, seorang nelayan Palestina Nawar Al Attar (20 tahun) tewas ditembak angkatan laut Israel setelah gencatan senjata diberlakukan. Nawar ditembak setelah melakukan penangkapan ikan di radius tiga mil di lepas pantai jalur Gaza utara yang dilarang oleh otoritas Israel. Hal itu pun membuat Hamas mempertanyakan kembali gencatan senjata di jalur Gaza. “Jika Israel menghentikan agresinya dan kembali ke gencatan senjata, mungkin akan paham,” tutur seorang pejabat Hamas, Ismail Haniya.

***

Terdapat lebih dari 1.000 orang Israel berpawai di Tel Aviv pada Kamis (15/11) untuk menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu, menyusul kesepakatan gencatan senjata Israel dengan faksi Palestina yang berpusat di Jalur Gaza. Menurut media Israel, sebagaimana dikutip Kantor Berita Anadolu, sebanyak 1.500 pemrotes mencela keputusan Netanyahu yang menyetujui gencatan senjata di Jalur Gaza. Demonstran menuduh Netanyahu “gagal memimpin militer”.

Pada Rabu, sejumlah tentara penjajah Israel berpawai di luar Knesset (Parlemen Israel) di Jerusalem untuk menyerukan pengunduran diri Netanyahu. Sejak Ahad, sedikitnya 14 orang Palestina telah gugur  oleh tembakan artileri dan serangan udara Israel di seluruh wilayah yang diblokade tersebut.  Pada Ahad malam, seorang perwira Israel tewas dan seorang lagi cedera dalam operasi darat yang gagal di Jalur Gaza. Ketegangan terlihat mulai reda pada Selasa dan faksi pejuang Palestina yang berpusat di Jalur Gaza menyepakati gencata senjata yang diperantarai oleh Mesir. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response