Laporan: Ramadhan Makkulau
PALONTARAQ.ID, JAKARTA – Janji-janji Presiden Jokowi kembali dipertanyakan. Setiap tahun impor beras gencar dilaksanakan Pemerintah, sekalipun stok beras di beberapa daerah cukup melimpah. Itulah sebabnya banyak netizen di dunia maya berteriak bahwa janji Jokowi yang ingin memuliakan petani hanya janji belaka, yang tak kunjung ingin diwujudkan. Begitu pula jeritan petani pada beberapa lumbung beras di Indonesia yang sangat menyesalkan kebijakan impor tersebut justru pada saat beberapa daerah sedang berlimpah hasil panen padi.
Seperti dikutip dari Merdeka.com, Pemerintah kembali mengeluarkan izin impor beras bagi Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) sebesar 1 juta ton pada pertengahan tahun ini. Izin impor ini merupakan ketiga kalinya setelah sebelumnya pemerintah secara berturut-turut mengeluarkan izin impor beras sebesar 500 ribu, sebanyak dua kali kepada Bulog. “Tahap 3 sudah. Kemarin 1 juta ton. Jadi 2 juta ton secara keseluruhan di tahun ini,” ujar Direktur Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan di Jakarta, Senin, 20 Agustus 2018.
Beras yang diimpor rencananya berasal dari berbagai negara yang juga mengimpor beras ke Indonesia beberapa waktu lalu. “Impor dari berbagai negara. Tergantung, Myanmar, India, Pakistan, Vietnam, dan Thailand. Saat ini belum diketahui berapa total jumlah beras tahap ketiga yang telah masuk ke Indonesia. Hal itu dikatakan merupakan wewenang Bulog sebagai badan yang ditugaskan oleh pemerintah. Mengenai jumlahnya, tanya Bulog dong. Kan itu sudah tahapan mereka untuk realisasi. Kalau saya nerbitin izin saja,” jelas Oke Nirwan.

Sementara itu, Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita mengatakan, impor beras tahap ketiga ini sudah dibicarakan dengan beberapa lembaga terkait beberapa waktu lalu. Hal ini kembali dilakukan dengan melihat stok beras Bulog. “Melihat perkembangan dari stok yang ada maka kita harus impor, gitu keputusannya dan sudah disetujui. Semua keputusan ketok palu dan ada notulennya. Impor itu dibutuhkan atas dasar rakor karena melihat stok,” jelasnya. (*)


