Beranda Islam Hukum dan Adab I’tikaf

Hukum dan Adab I’tikaf

Disunnahkan untuk beri'tikaf di mesjid pada 10 hari terakhir Ramadhan. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Disunnahkan untuk beri’tikaf di mesjid pada 10 hari terakhir Ramadhan. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Oleh:  M. Farid Wajdi, S.H.i

PALONTARAQ.ID – I’tikaf (الاعتكاف) dari segi bahasa berasal dari kata (العكوف) yang artinya menetap dan berada di sekitarnya pada masa yang lama sebagaimana disebutkan dalam  dalam Qs. Al-Anbiya: 52 dan Qs. Asy-Syu’ara: 71.

Dari segi istilah, yang dimaksud i’tikaf adalah menetap di masjid dalam waktu tertentu dengan niat beribadah.

Syariat I’tikaf dinyatakan dalam Alquran, hadits, serta perbuatan Rasulullah SAW dan para sahabat.

Dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 125 Allah SWT berfirman:

أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ  -سورة البقرة: 125

Artinya:

“……. Bersihkan rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.” (QS. Al-Baqarah: 125)

Aisyah radhiallahu anha berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ -متفق عليه

Artinya:

“Sesungguhnya Nabi SAW melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga beliau wafat. Kemudian para istrinya melakukan I’tikaf sesudahnya.” (Muttafaq alaih).

Para ulama sepakat bahwa i’tikaf adalah perbuatan sunnah baik bagi laki-laki maupun perempuan, kecuali jika seseorang bernazar untuk i’tikaf, maka dia wajib menunaikan nazarnya.

Selain dikenal sebagai salah satu ibadah yang dianjurkan dalam Islam, I’tikaf juga merupakan ajaran yang direkomendasi syariat bagi mereka yang ingin lebih berkonsentrasi untuk membersihkan dan membina jiwanya agar hubungannya kepada Allah lebih kuat.

I’tikaf juga dimaksudkan agar ketergantungannya terhadap dunia tidak mendominasi dalam diri.

Dengan I’tikaf akan lahir kesadaran dalam jiwa seorang muslim, bahwa kebersihan hati dan jiwa yang tidak didominasi tuntutan duniawi merupakan syarat utama untuk mendapatkan keselamatan hidup, dunia maupun akhirat.

Mesjid Amirul Mukminin, Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Mesjid Amirul Mukminin, Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Waktu I’tikaf

Pendapat yang kuat bahwa lama I’tikaf minimal sehari atau semalam, berdasarkan riwayat dari Umar bin Khattab, bahwa beliau menyampaikan kepada Rasulullah SAW bahwa dirinya di masa jahiliah pernah bernazar untuk I’tikaf di Masjidil Haram selama satu malam, maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Tunaikan nazarmu.” (HR. Abu Daud dan Tirmizi)

Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa I’tikaf dapat dilakukan walau beberapa saat saja diam di masjid. Namun, selain bahwa hal ini tidak ada landasan dalilnya, juga tidak sesuai dengan makna I’tikaf yang menunjukkan berdiam di suatu tempat dalam waktu yang lama.

Imam Nawawi (Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazzab) yang bermazhab Syafi’i berpendapat bahwa i’tikaf boleh dilakukan walau sesaat tetap menganjurkan agar I’tikaf dilakukan tidak kurang dari sehari, karena tidak ada riwayat dari Rasulullah SAW dan para sahabat bahwa mereka melakukan i’tikaf kurang dari sehari.

Lama maksimal i’tikaf tidak ada batasnya dengan syarat seseorang tidak melalaikan kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya atau melalaikan hak orang lain. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW di tahun wafatnya pernah melakukan I’tikaf selama 20  hari (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Berdasarkan jumhur ulama, waktu i’tikaf sunnah dilakukan kapan saja, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan i’tikaf di Bulan Syawal (Muttafaq alaih).

Beliau Nabi SAW juga diriwayatkan pernah i’tikaf di awal, di pertengahan dan akhir Ramadan (HR. Muslim). Namun waktu i’tikaf yang paling utama dan selalu Rasulullah SAW lakukan hingga akhir hayatnya adalah pada sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadan.

foto: ist/palontaraq
foto: ist/palontaraq

 

Tempat I’tikaf

Masjid yang disyaratkan sebagai tempat i’tikaf adalah masjid yang biasa dipakai untuk shalat berjamaah lima waktu.

Lebih utama lagi jika masjid tersebut juga digunakan untuk shalat Jum’at. Lebih utama lagi jika dilakukan di tiga masjid utama; Masjidilharam, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.

Terdapat atsar dari Ali bin Thalib dan Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa i’tikaf tidak sah kecuali di masjid yang dilaksanakan di dalamnya shalat berjamaah (Mushannaf Abdurrazzaq, no. 8009).

Disamping itu, jika i’tikaf dilakukan di masjid yang tidak ada jamaah shalat fardhu, peserta i’tikaf akan dihadapkan dua perkara negatif; Dia tidak dapat shalat berjamaah, atau akan sering keluar tempat i’tikafnya untuk shalat berjamaah di masjid lain.

Yang dimaksud masjid sebagai tempat i’tikaf adalah tempat yang dikhususkan untuk shalat dan semua area yang bersambung dengan masjid serta dibatasipagar masjid, termasuk halaman, ruang menyimpan barang, atau kantor di dalam masjid.

Secara teknis, akan lebih baik jika masjidnya memiliki fasilitas yang dibutuhkan peserta i’tikaf, seperti MCK yang cukup, atau ruangan yang luas tempat tidur  dan menyimpan barang bawaan.

Puasa Penghapus Dosa. (foto: ist/palontaraq)
Puasa Penghapus Dosa. (foto: ist/palontaraq)

 

I’tikaf di Bulan Ramadhan

Kapan mulai I’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan dan kapan berakhir? Jumhur ulama berpendapat bahwa i’tikaf dimulai sejak sebelum matahari terbenam di malam ke-21 Ramadan.

Berdasarkan kenyataan bahwa malam 21 adalah bagian dari sepuluh malam terakhir Ramadan, bahkan termasuk malam ganjil yang diharapkan turun Lailatul Qadr.  Ada juga yang berpendapat bahwa awal i’tikaf dimulai sejak shalat Fajar tanggal 21 Ramadan.

Berdasarkan hadits Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW jika hendak i’tikaf, beliau shalat Fajar, setelah itu beliau masuk ke tempat i’tikafnya (HR. Muslim).

Adapun waktu berakhirnya, sebagian ulama berpendapat bahwa i’tikaf berakhir ketika dia akan keluar untuk melakukan Shalat Id, namun tidak terlarang jika dia ingin keluar sebelum waktu itu.

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa waktu i’tikaf berakhir sejak matahari terbenam di hari terakhir Ramadan.

Perempuan dibolehkan melakukan I’tikaf berdasarkan keumuman ayat. Juga berdasarkan hadits yang telah disebutkan bahwa istri-istri Rasulullah SAW melakukan i’tikaf.

Terdapat juga riwayat bahwa Rasulullah SAW mengizinkan Aisyah dan Hafshah untuk melakukan I’tikaf (HR. Bukhari).

Meski begitu,  para ulama umumnya memberikan syarat bagi wanita yang hendak melakukan I’tikaf, yaitu mereka harus mendapatkan izin dari walinya, atau suaminya bagi yang sudah menikah, tidak menimbulkan fitnah, ada tempat khusus bagi wanita di masjid dan tidak sedang dalam haidh dan nifas.

Mesjid Besar Nurul Huda, Tanete Riaja, Kabupaten Barru. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Mesjid Besar Nurul Huda, Tanete Riaja, Kabupaten Barru. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pembatal I’tikaf

Berdasarkan ayat yang telah disebutkan, bahwa yang jelas-jelas dilarang saat I’tikaf adalah berjimak. Maka para ulama sepakat bahwa berjimak membatalkan I’tikaf.

Adapun bercumbu, sebagian ulama mengatakan bahwa hal tersebut membatalkan jika diiringi syahwat dan keluar mani. Adapun jika tidak diiringi syahwat dan tidak mengeluarkan mani, tidak membatalkan.

Akan tetapi jika seseorang keluar dari area masjid tanpa kebutuhan mendesak, seperti berjual beli, bekerja, berkunjung, dan keperluan lainnya, maka i’tikafnya batal.

Jika dia ingin kembali, maka niat i’tikaf lagi dari awal. Bahkan,  orang yang sedang i’tikaf disunahkan tidak keluar masjid untuk menjenguk orang sakit, menyaksikan jenazah dan mencumbu istrinya, sebagaimana perkataan Aisyah dalam hal ini (HR. Abu Daud).

Termasuk yang dianggap membatalkan adalah keluar dari masjid tanpa keperluan pribadi yang mendesak. Begitu pula dianggap membatalkan jika seseorang niat dengan azam kuat untuk keluar dari I’tikaf, walaupun dia masih berdiam di masjid.

Seseorang dibolehkan membatalkan I’tikafnya dan tidak ada konsekuensi apa-apa baginya. Namun jika tidak ada alasan mendesak, hal tersebut dimakruhkan, karena ibadah yang sudah dimulai hendaknya diselesaikan kecuali ada alasan yang kuat untuk menghentikannya.

Mesjid Jami' Majauleng, Tosora, Wajo. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Mesjid Jami’ Majauleng, Tosora, Wajo. (foto: mfaridwm/palontaraq)

 

Anjuran dalam I’tikaf

Dianjurkan untuk fokus dan konsentrasi dalam ibadah, khususnya shalat fardhu, dan memperbanyak ibadah sunah, seperti  tilawatul quran , berdoa, berzikir, muhasabah, talabul ilmi, membaca bacaan bermanfaat, dan kegiatan bermanfaat lainnya.

Dibolehkan dalam I’tikaf

Perkara-perkara yang dianggap kebutuhan mendesak bagi  yang i’tikaf, seperti buang hajat, bersuci, makan, minum, shalat Jumat dan perkara lainnya yang mendesak, sehingga dibolehkan untuk keluar sementara dari mesjid.  Keluar dari masjid karena melakukan hal-hal tersebut tidak membatalkan I’tikaf.

Seorang yang i’tikaf boleh pulang ke rumahnya untuk melakukan hal tersebut lalu lekas kembali jika telah selesai dan kemudian meneruskan kembali i’tikafnya.

Bagi perempuan yang I’tikaf, juga boleh pulang sementara ke rumahnya jika sifatnya darurat, seperti  mengalami haid atau nifas di tengah i’tikaf.

Secara umum, orang yang sedang i’tikaf tidak boleh keluar dari masjid. Kecuali jika ada kebutuhan pribadi mendesak yang membuatnya harus keluar dari masjid.

Aisyah radhillahu anha berkata:

وَإِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُدْخِلُ عَلَيَّ رَأْسَهُ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَأُرَجِّلُهُ وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ

إِلَّا لِحَاجَةٍ إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا  -متفق عليه

Artinya:

“Adalah Rasulullah SAW menyorongkan kepalanya kepadaku sedangkan dia berada di dalam masjid, lalu aku menyisir kepalanya. Beliau tidak masuk rumah kecuali jika ada kebutuhan jika sedang I’tikaf.” (Muttafaq alaih)

Kegiatan seperti  berbicara atau mengobrol dibolehkan dalam I’tikaf, hanya saja seperlunya saja dan tidak menjadi bagian utama kegiatan i’tikaf.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW dikunjungi Safhiah binti Huyay, istrinya saat beliau i’tikaf dan berbicara dengannya beberapa saat.

Dibolehkan pula membersihkan diri dan merapikan penampilan sebagaimana Rasulullah SAW disisirkan Aisyah ra, saat beliau I’tikaf.

Islamic Center Dato ri Tiro, Bulukumba. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Islamic Center Dato ri Tiro, Bulukumba. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Dilarang saat I’tikaf

Dilarang saat I’tikaf menyibukkan diri dalam urusan dunia, apalagi melakukan perbuatan yang haram seperti ghibah, namimah atau memandang pandangan yang haram baik secara langsung maupun tidak langsung.

Meski tidak dilarang bagi yang i’tikaf, tapi dianjurkan untuk menghindari  perkara-perkara yang berlebihan walau dibolehkan, seperti makan, minum, tidur, ngobrol, dan lain-lainnya supaya tidak mengganggu kegiatan ibadah

Penutup

Dalam konteks kekinian, I’tikaf merupakan jawaban aplikatif atas budaya masyarakat yang cenderung mengakhiri bulan Ramadan dengan meninggalkan masjid dan beralih ke pusat-pusat perbelanjaan.

Karena itu,  melakukan i’tikaf pada zaman sekarang, dapat dikatagorikan sebagai tindakan menghidupkan sunah yang telah banyak diabaikan masyarakat.

Sebagai tambahan referensi, dapat dibaca kitab Al-Mughni dari Ibnu Qudamah, Hiwar fil I’tikaf Ma’a Samahatis Syekh Al-Allamah Abdullah bin Jibrin, serta Fiqhul I’tikaf, Dr. Khalid bin Ali Al-Musyaiqih.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT