Beranda Narasi Sejarah Andi Djemma, Nurani Masyarakat Luwu

Andi Djemma, Nurani Masyarakat Luwu

Datu Luwu, Andi Djemma. (tengah). (foto: dok.Kedatuan Luwu/palontaraq)
Datu Luwu, Andi Djemma. (tengah). (foto: ist/palontaraq)

Oleh: La Oddang Tosessungriu

PALONTARAQ.ID – Membaca biografi Opu Topapoatanna PapoataE Pajung Luwu ini pada berbagai berbagai tulisan, pahit getirnya perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia di medan gerilya tergambar secara utuh pada sosok agungnya.

Profil seorang raja besar sekaligus patriot sejati tergurat jelas pada penanda identitas Pajung Luwu ini. Hingga kemudian dalam banyak kali perbincangan dengan Junjungan kami Cenning Luwu Opu DaEng Ripajung, tergambarlah sosok lain beliau sebagai seorang ayah, seorang suami, seorang kakek dan pula seorang Maharaja yang disegani kawan dan ditakuti lawan, namun dikasihi oleh segenap rakyatnya.

Terlahir di Palopo, 15 Januari 1901 dan wafat di Makassar pada tanggal 23 Pebruari 1965 dengan nama dan gelar lengkapnya, yakni La Patiware’ Andi DjEmma BaruE Opu ToappamEnE Wara-WaraE Petta MatinroE ri AmaradEkanna Datu/Pajung Luwu XXXIV/XXXVI.

Gelar dan namanya selaku “Andi DjEmma BaruE” yang bermakna sebagai “Rakyat Baru” dinyatakan oleh suatu sumber bahwa nama gelar itu diperolehnya tatkala menjabat selaku SullEwatampare’ pada masa pemerintahan Ibundanya, yaitu: Opu TopapoataE Andi Kambo’ Opu DaEng Risompa Petta MatinroE Bintangna Datu/Pajung Luwu XXXIII.

Hal mana kemudian gelar “DjEmma BaruE” tersebut disematkan pula pada putera bungsunya. Namun hal menarik perihal gelar tersebut dapat diuraikan disini, bahwa nama itu bermakna “kerakyatan” yang meliputi segenap sendi-sendi masyarakat Tana Luwu pada seluruh lapisan.

Maka inilah bangsawan tertinggi Luwu yang memiliki nurani manunggal dengan rakyatnya. Suatu statement yang sangat tegas, bahwa suatu sosok disebut “raja” tak lain karena memiliki “rakyat”.

Pada tanggal 5 Oktober 1945, Datu Luwu XXXIV ini mengultimatum pihak sekutu agar segera melucuti senjatanya dan kembali berkumpul dalam tangsinya di Palopo. Kiranya inilah satu-satunya Raja ataupun Tokoh Perjuangan di Indonesia yang berani mengultimatum sekutu pada masa itu.

Hal mana kemudian, ultimatum itu dijawab oleh Gubernur Jenderal Belanda Van Mook dengan memborbardir Kota Palopo dengan hujan bom. Namun Datu/Pajung Luwu beserta segenap rakyatnya melakukan perlawanan hebat hingga mencetuskan Perlawanan Rakyat Semesta Rakyat Luwu pada 23 Januari 1946 yang heroiK itu.

Hingga kemudian, sejarah Bangsa Indonesia mencatat, bahwa Tana Luwu adalah satu-satunya kerajaan di Indonesia yang paling singkat dikuasai oleh Belanda sejak Pax Nederlandica, yakni hanya 30 tahun.

Dibalik sosoknya yang memiliki semangat keberanian dan patriotism tak terukur oleh neraca sejarah, didapati kelembutan dan kerendahan hati yang bersahaja dalam diri Pajung Luwu ini.

Bahwa semasa pemerintahannya selaku puncak payung kerajaan Luwu, kerapkali didapati hadir pada acara hajatan yang diselenggarakan rakyatnya tanpa pandang bulu.

Tatkala beliau berkeliling kota ataupun dalam wilayah Tana Luwu, suatu ketika didapatinya keramaian. Dimintanyalah supirnya untuk berhenti seraya membuka sendiri pintu mobilnya lalu bernjak menuju acara hajatan itu. Tak peduli apakah itu acara pengantin, syukuran aqikah, terlebih jika perhelatan duka kematian.

Semuanya dihadiri dengan meskipun tak diundang serta tak membeda-bedakan agama, suku dan strata sosial. Maka inilah sosok raja yang bermurah hati serta berbelas kasih pada segenap rakyatnya.

Suatu peristiwa menarik tatkala beliau dan permaisuri serta cucu tertuanya (Opu Cenning Luwu) tinggal menetap di Istana Jongaya (Makassar), yakni Istana Petta Mangkau’E Andi Mappanyukki’, ayah mertuanya.

Pada suatu hari dalam tahun 1957 (?), Istana Raja Bone itu dikunjungi petinggi Pemerintah Pusat Republik Indonesia, yaitu Jenderal Abdul Haris Nasution selaku Panglima KSAD.

Pada ruang tamu Istana tersebut, telah hadir Jenderal Besar itu dan segenap rombongan, Gubernur Sulawesi Selatan serta segenap jajarannya, Raja-Raja Se-Sulawesi Selatan/Barat dan Petta Mangkau’E BonE Andi Mappanyukki selaku tuan rumah.

Namun sebuah kursi kebesaran disamping Petta Mangkau’E nampak masih kosong, yakni kursi khusus yang dipersiapkan untuk Datu/Pajung Luwu Andi Djemma. Maka rapat pertemuan itu belum dimulai atas titah Petta Mangkau’E demi menunggu menantunya tersebut.

Sementara itu didalam kamar kediaman Datu/Pajung Luwu, cucundanya panik seraya mendesak PajungngE untuk bersegera kedepan. “Asijja’ni’ Pata (PapoataE), idi’mani itajeng” (bersegeralah Tuanku, tinggal andalah yang ditunggu).

Namun dengan santainya beliau baru mengenakan jas tutupnya lalu memasang sarungnya seadanya. “aja’mua tamapperri-perri, natajengmua’ tuu” (tak usahlah terlalu tergesa-gesa, pastilah aku ditunggu), ujarnya tenang.

Hingga kemudian melangkahkan kaki dengan tenang keluar, cucundanya mengikuti hingga dibatas tirai seraya menarik ujung sarungnya kebawah agar nampak lebih rapi. “Pakkua bawangniE, makessingni” (Biarlah begini saja, ini sudah bagus), katanya dengan nada rendah namun sangat percaya diri.

Setibanya di balairung ruang tamu, Sang Pajung Luwu melangkah dengan tenang tanpa menoleh kiri kanan pada tetamu serta juga tak mengucap salam. Pandangan matanya lurus kedepan menuju kursi kosong disamping Petta Mangkau’E.

Semua tetamu berdiri menyambutnya, kecuali Ayah Mertuanya yang mempersilahkan untuk menduduki kursi di sampingnya. Setelah duduk, beliau duduk dengan antengnya serta dagu sedikit terangkat, diam dengan agungnya dengan bahkan tanpa mengucap basa-basi “mohon maaf, saya terlambat”. Selanjutnya Petta Mangkau’E menitahkan agar acara pertemuan dimulai.

Para ananda dan adinda yang membaca uraian ini kemudian bertanya-tanya, apakah maksud dan hikmah uraian ini? Bahwa inilah karakteristik nurani seorang Raja Luwu. Bermurah hati dan dekat dengan seisi Istananya serta rakyatnya tanpa kecuali, namun menjaga sikap dan jarak pada raja ataupun pihak diluar Luwu, demi kewibawaan Kerajaan Luwu.

Tak seorang-pun abdinya di Luwu yang tak merasa diri sebagai “orang penting” karena kemampuannya memanagement fungsi sehingga menyebut pemuka masyarakatnya sebagai Tomakaka, ParEngE, Macoa dan Matoa yang sama-sama berarti “Yang Dituakan”.

Beliau memahami bahwa dirinya adalah manifestasi keagungan seluruh Luwu beserta sejarah dan budayanya, maka segala langkah dan perkataannya senantiasa terukur dan didasari timbangan neraca Pangadereng Luwu.

Bahwa setiap langkah kebijakannya adalah tak terlepas dari 33 Datu/Pajung Luwu sebelumnya serta pada kedua pundaknya yang mulia terletak hakekat “Massolompawo Mangelle’ WaE Pasang”. Olehnya itulah sehingga beliau mendapat gelar khusus sebagai : “Opu ToappamEnE Wara-WaraE” (Tuan kita yang menimbulkan semangat).

Pada saat lain sebelumnya, tatkala Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang diperjuangkannya bersama rakyatnya berhasil dipertahankan, Presiden Soekarno menawarkan imbalan jasa kepada beliau. Namun dengan mantapnya, Sang Pajung ini hanya meminta 2 hal, yaitu :

1. Pulihkan keamanan Rakyat Luwu;

2. Jaga kedamaian dan ketentraman Rakyat Luwu.

Beliau takkan meminta harta benda untuk memakmurkan keluarga besarnya. Raja besar ini tidak pula meminta tanah kerajaan berikut kekuasaan politiknya yang telah diintegrasikan kepada negara kesatuan ini.

Olehnya itu, hingga akhir masa hidupnya, beliau hanya mendapat uang pensiunan setiap bulan yang tak seberapa untuk sekedar belanja hari-hari hingga akhir masa hidupnya yang penuh bersahaja.

Suatu keterangan dari Opu TopapoataE Datu Luwu XL kini yakni semasa kecilnya senantiasa “ditugaskan” untuk mengantarkan uang pensiuan beliau ke Istana Jongaya.

Betapa ibanya hati, ketika mendapati PajungngE mengenakan baju kaos dalaman merk Swan warna putih yang sudah bolong-bolong kecil disekitar lehernya.

Drama kehidupan seorang Raja Besar yang sesungguhnya memimpin suatu kerajaan yang wilayah kekuasaan adatnya meliputi 3 provinsi, menampakkan kita suatu bukti bahwa suatu nama yang kemudian ditulis dengan tinta emas sejarah lalu dibingkai dengan kehormatan atas nama masa, tidak diukur dari kemewahan duniawi.

Kurusumange’ torilangina Opu Topapoatanna PapoataE, mamuarE macekkE’ passapunna rilaleng je’ra AmaradEkanna, namalebbi maneng sining wElareng paddimunrinna. MassEddi tessipEkka-pEkka, napada lolongeng maneng toto madEcEng mallongi-longi.

AlfatEhah. Amin Yaa Robbal Alamin.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT