Tulisan Sebelumnya: Catatan Etta Adil: Lantai Masjid (1)
Lantai Masjid (2): Ajakan untuk “memakmurkan masjid” senantiasa kita dengar dari ustaz atau khatib. Dalam kenyataannya, sebagian besar dari kita lebih suka “bertawaf” dalam pasar dan “memakmurkan” mall.
Adakah memang lebih nyaman berada dalam pasar, apalagi mall dibanding berada dalam masjid. Alasannya: Banyak yang bisa dilihat, untuk belanja atau sekadar jalan-jalan, bahkan sekarang ini banyak remaja/ABG yang keluyuran di mall pada saat jam sekolah.
Adakah ini menjadi ukuran, lebih banyak orang mengejar kepentingan dunia dibanding kebutuhan akherat? Miris memang melihat banyak masjid ditinggalkan jamaahnya.
Barisan makmum yang salat di belakang imam bisa dihitung jari. Bukan tidak boleh mengunjungi pasar dan mall, tapi cobalah tengok betapa pasar dan mall kadang lebih diperhatikan kebersihannya dibanding masjid.
Memangnya salah kalau di masjid juga disiapkan pelayan kebersihan, pengharum lantai, pengharum ruangan, dipasangi AC, disediakan rak cantik khusus Al Qur’an dan Buku-buku agama serta dinding masjid dicat warna cerah semisal warna merah jambu atau biru langit?
Ataukah memang sebagian besar diantara kita memang senang membiarkan lantai masjid kotor, kusam, lembab, dipenuhi tahi cicak, leleran air liur jamaah yang tidur, bau sumpek karpet yang tak pernah diganti dan melupakan bahwa “kebersihan sebagian dari Iman”.
Lagipula, kalau di rumah sendiri kita bisa ciptakan kebersihan, keindahan dan suasana betah, mengapa di “Rumah Tuhan” kita enggan melakukannya? Adakah kita peduli?
Makassar, 14 November 2012


