Beranda Narasi Sejarah Pangkep lebih dulu terima Islam dibanding Gowa

Pangkep lebih dulu terima Islam dibanding Gowa

Pangkajene dalam Tahun 1860 (Sumber: Tropenmuesum Royal Tropical Institute/ist)
Pangkajene dalam Tahun 1860 (Sumber: Tropenmuesum Royal Tropical Institute/ist)

Oleh:  M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID – DALAM catatan Portugis, saat kedatangan Antonio de Payva di Siang(1542 dan 1544), selain untuk kepentingan ekonomi perdagangan, dia juga datang untuk menyebarkan kristianisme di Siang (Pangkep) namun tidak mendapatkan tempat karena masyarakat Siang masih bersandar kepada kehadiran Bissu.

Uniknya, karena pada saat kedatangannya tersebut, Antonio de Payva terkejut menyaksikan pemandangan yang sangat indah, yaitu ditemukannya permukimanpedagang melayu muslim di sepanjang pesisir pantai barat Siang. (Makkulau, 2007)

Antonio de Payva malahan mendapat informasi mengenai keberadaan komunitas Melayu itu telah bermukim selama 50 tahun, bahkan sudah hidup berdampingan dengan penduduk Siang.

Jika merujuk kepada informasi ini, itu berarti Islam lebih dulu tiba dan lebih awal diterima di Siang (Pangkep) dibanding Gowa. Bedanya, Islam masuk di Pangkep melalui pintu perdagangan sedang di Gowa, Islam masuk melalui pintu kekuasaan (politik) sejak kedatangan Dato Tallua dan diterima dengan baik oleh pihak istana Gowa. (Makkulau, 2007)

Sampai saat ini jejak budaya dan warisan Bahasa Melayu itu masih hidup sampai sekarang. Mereka tidak mau kehilangan panggilan khas, ’Enci’ yang berarti paman dalam Bahasa Melayu.

Sebutan ini mendapatkan penyesuaian bahasa yang sangat khas, yaitu ”Ince” atau ”Unda”. Mereka yang masih memiliki darah keturunan Melayu saat ini di Pangkep mendiami Kampung Lempangan, Bontomangape, Tekolabbua, serta sedikit diantaranya di kampung Paccelang, Lekiboddong, Bulu-bulu dan Parang-Parang.

Meski darah keturunan melayu ini sudah bercampur baur dengan darah orang Bugis Makassar di Pangkep sejak masa kerajaan, namun mereka tetap bangga mengakui diri dan moyangnya sebagai ”to malaju”, yang berkarakter sebagai pekerja keras. Moyang orang melayu ini terkenal sebagai ahli pertanian, bangunan dan senjata. Tidak sedikit karya arsitektur melayu mewarnai ciri khas bangunan rumah adat Bugis Makassar.

Ketika Siang tidak strategis lagi secara ekonomi karena pengendapan dan pendangkalan pelabuhannya selama 800 tahun, fungsi tersebut telah diambil alih Pelabuhan Sombaopu di sebelah selatannya.(Makkulau, 2007)

Siang kemudian dengan mudah dijadikan daerah bawahan (wanua palili) Gowa. Kejatuhan Siang, memberi Gowa tenaga pakar bidang pertanian padi sawah, kayu, besi dan ahli emas (yang sebagian besar orang Melayu).

Di belakang hari, tenaga ahli dari Siang inilah yang dimanfaatkan Gowa dalam membangun benteng pertahanan di perairan Makassar. Tenaga pakar orang Melayu dari Siang inilah juga yang menjadi penopang kemajuan sektor ekonomi pertaniannya bahkan Gowa membuka Kampung Mangallekana sebagai kampung khusus komunitas Melayu di Gowa.

Dalam sejarah Gowa, kita juga mengenal Ince Amin (seorang Melayu) yang mendapatkan kedudukan sangat terhormat dalam Istana Gowa. Beliau diangkat sebagai sekretaris kerajaan pada Masa Pemerintahan Sultan Hasanuddin. Beliau juga menulis syair Perang Makassar saat berlangsungnya Perang Gowa-Belanda. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya orang Melayu sejak dibawa dari Siang sampai Kerajaan Gowa mencapai puncak keemasannya.

Informasi Antonio de Payva mengenai keberadaan permukiman Melayu di Siang ini seharusnya dapat menjadi titik terang bagi kita dalam mengadakan perbandingan soal masalah penentuan masuknya islam di Sulawesi Selatan yang selama ini melulu terpaku pada islamisasi Kerajaan Gowa (1667) saat kedatangan Dato Tallua, Dato ri Bandang, Dato Patimang dan Dato ri Tiro yang berlanjut dengan ditandainya secara resmi dengan Shalat Jum’at pertama di Masjid Katangka.

Sejarah inilah yang dikenang sampai saat ini. Usai Shalat Jumat di Katangka dilanjutkan dengan momen pemberian nama Islam kepada Raja dan Mangkubumi Gowa, Sultan Alauddin dan Sultan Abdullah Awwalul Islam. Islamisasi Kerajaan Gowa-Tallo (Makassar) inilah juga yang dijadikan dasar penetapan Hari Jadi Kota Makassar.

Jadi, jika merujuk kepada penanggalan islamisasidi Gowa ini jelas Pangkep (sebagai bekas wilayah Kerajaan Siang) jauh lebih dahulu menerima Islam dibanding Gowa-Tallo (Makassar). (***).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT