BerandaLiterasiPuisi: Matan Kehidupan Seorang Santri

Puisi: Matan Kehidupan Seorang Santri

Oleh: Etta Adil *)

PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik yang disusun dan dirangkai atas nama “Amirah Zahidah” ini menekankan bahwa kehidupan seorang santriwati ideal diibaratkan seperti ilmu hadits—memiliki sanad yang kuat (amal yang konsisten) dan matan yang baik (akhlak yang indah). Sosok Amirah digambarkan bukan hanya rajin beribadah dan cerdas, tetapi juga menjaga kejujuran, ketekunan, serta tanggung jawab dalam setiap langkah.

Matan Kehidupan Seorang Santri

(1)

Amalnya terjaga bagai sanad yang bersambung rapi,
Matan akhlaknya indah, jernih tanpa cela diri,
Ilmu diraih seperti riwayah yang teliti,
Rajin ibadah laksana jarh wa ta’dil menilai hati,
Adanya ia menenangkan, seolah rawi tsiqah yang pasti.

Zikirnya mengalir seperti hadits shahih yang suci,
Akalnya cerdas menimbang makna penuh arti,
Harapan orang tua terpaut seperti rantai periwayatan sejati,
Istiqamahnya bagai ittishal sanad yang tak terputus lagi,
Derajat keluarga terangkat oleh amal dan prestasi,
Amanah di pundak dipikul tanpa lari,
Hadir sebagai muslimah tangguh, dapat diandalkan setiap hari.

(2)

Ayat dan hadits ia rangkai dalam dirayah yang bijak,
Menata niat seperti musthalah yang tertib dan layak,
Ibadahnya tekun bagai hadits hasan yang menapak,
Rasa ingin tahunya tajam meneliti makna tak retak,
Adabul ilmu menjadi cahaya yang tak pernah surut.

Zuhud di hati seperti perawi menjaga amanat,
Aman dalam tutur bak matan yang kuat,
Hikmah dipetik dari setiap nasihat,
Inteligensinya menyatu dengan iman yang lekat,
Doa orang tua menjadi penguat tekad,
Amalnya menanjak mengangkat martabat,
Harumnya nama keluarga pun tersemat.

***

Kedua puisi ini memotret Amirah Zahidah sebagai santriwati yang menapaki hidup seperti ilmu hadits: menjaga kesinambungan amal (sanad), memperindah isi akhlak (matan), serta menjadikan ilmu dan ibadah sebagai jalan untuk menjadi muslimah tangguh yang membanggakan dan meninggikan derajat keluarga.

Inti pesannya meliputi: Ilmu dan ibadah sebagai fondasi ketangguhan diri, Akhlak mulia sebagai isi utama keberhasilan hidup, Harapan dan doa orang tua sebagai energi pendorong, serta Kesinambungan usaha dan keistiqamahan akan mengangkat derajat keluarga serta menjadikan seseorang dapat diandalkan. Sebagaimana ‘Ulumul hadits yang meneliti kebenaran periwayatan dengan teliti, kehidupan pun membutuhkan ketekunan, kejujuran, dan konsistensi agar menghasilkan pribadi yang kuat, terpercaya, dan membanggakan. (*)

Minasatene-Pangkep, 23 Desember 2025

(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT