Oleh: Etta Adil
PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik yang disusun dan dirangkai atas nama “Nurhikmah” ini memenekankan bahwa keindahan diri bukan hanya pada rupa, tetapi pada sikap, proses, dan nilai yang dipegang.
Sosok Nurhikmah digambarkan sebagai santri yang memadukan identitas dan latar keluarga (Pangkep–Menado) sebagai kekayaan, bukan kebingungan. Saat ini sedang berproses menemukan konsep diri, tidak tergesa, namun terus bergerak maju, Jujur dan apa adanya dalam berbicara, tidak berlebihan dalam bertindak.
Cahaya Hikmah dalam Langkah Sederhana
(1)
Nun di awal namanya laksana na‘t yang memperindah makna,
Unggul parasnya, namun akhlak tetap marfū‘ lebih tinggi.
Rangkaian nasab Pangkep–Menado bagai idhāfah serasi,
Huruf-huruf hidupnya tersusun rapi seperti jumlah ismiyyah.
Iqrar dirinya masih mudhāri‘, terus berproses tanpa tergesa,
Kata yang keluar jujur, tak diberi taukīd berlebihan.
Melangkah seperlunya, seperti fi‘il lāzim yang cukup makna,
Apa pun peristiwa diambil hikmahnya—maf‘ul bih kehidupan.
Harap orang tua menjadikannya nūr, cahaya dalam kalimat kebaikan.
(2)
Nada drumbandnya tegap, bagai fa‘il yang memimpin irama,
Usaha menjadi asisten pelatih—manshūb oleh kerja nyata.
Raut cantiknya sekadar sifat, bukan inti dari jumlah hidup.
Hati meramu konsep diri seperti i‘rab yang sedang dicari.
Ia berbicara apa adanya, tanpa ḥarf ziyādah yang sia-sia.
Ketika mengenakan seragam damkar di panggung peragaan,
Mungkin cita itu bagai dhamīr mustatir—ada namun tersembunyi.
Ambil setiap kejadian sebagai ‘ibrah, pelengkap makna diri.
Hikmah namanya, nūr jalannya—menjadi terang bagi sekitar.
***
Puisi akrostik ini menggambarkan sosok santriwati Aktif dan berprestasi (drumband) namun tetap rendah hati, Mengambil hikmah dari setiap peristiwa, sesuai makna namanya, dan Menjadi cahaya kebaikan bagi sekitar, sebagaimana harapan orang tua.
Intinya, puisi ini menyampaikan bahwa hidup tidak harus riuh untuk bermakna—cukup melangkah seperlunya, belajar dari pengalaman, dan berusaha menjadi pribadi yang memberi terang bagi lingkungan. (*)
Minasatene-Pangkep, 11 Desember 2025
(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.


