Oleh: Ramadhan M
Related Post: Puisi: Palontaraq di Jalan Ilmu
PALONTARAQ.ID – Siapa yang tak kenal M. Farid W Makkulau dalam dunia seni dan pengembangan literasi Sulawesi Selatan selama lima tahun terakhir? Penulis produktif yang akrab disapa Etta Adil ini adalah juga seorang seniman dan sastrawan yang layak diperhitungkan mengingat selama lima tahun terakhir banyak menelorkan karya seni pertunjukan dan puisi yang diciptakannya.
M. Farid W. Makkulau adalah seniman dan sastrawan yang berkarya pada persilangan sastra, seni pertunjukan, sejarah budaya, dan identitas keislaman. Dalam lima tahun terakhir, ia menunjukkan konsistensi produktif melalui penciptaan puisi dan karya seni pertunjukan yang berakar kuat pada konteks lokal—khususnya khazanah Bugis–Makassar, Melayu, dan peradaban Islam Nusantara. Lihat disini: Pertunjukan Sendratari Tomanurunga ri Siang
Sebagai penyair, karya-karyanya tidak berhenti pada permainan bahasa, tetapi berfungsi sebagai ruang tafsir sejarah dan kebudayaan. Puisinya sering menghadirkan memori kolektif, jejak leluhur, nilai adat, serta dialektika antara tradisi dan zaman kini. Ia memosisikan sastra sebagai medium perenungan—bukan sekadar ekspresi personal, melainkan tanggung jawab kultural.
Dalam seni pertunjukan, M. Farid W. Makkulau memperlihatkan kecenderungan lintas disiplin. Puisi tidak hanya dibaca, tetapi dihidupkan melalui tubuh, suara, dan ruang. Hal ini boleh jadi karena interaksinya yang cukup lama dengan Budayawan dan Seniman Sulsel, Asdar Muis (alm). Karya pertunjukannya menekankan narasi kebudayaan, simbol adat, dan kesadaran sejarah, sehingga menjadikannya bagian dari praktik seni yang reflektif dan edukatif.
Yang unik dari cara berkarya M. Farid W Makkulau adalah Keterhubungan Karya dengan Konteks Budaya. Pimred Ettapedia dan Media Palontaraq Group ini tidak berkarya di ruang hampa. Karyanya berakar pada sejarah budaya, memuat identitas lokal (Bugis–Makassar/Melayu/Islam), dan hadir sebagai respon kebudayaan, bukan sekadar estetika kosong. Dalam kritik sastra dan seni kontemporer, ini nilai penting bahwa seniman yang bekerja sebagai “penafsir zaman” lebih diperhitungkan daripada sekadar perajin keindahan.
Secara artistik, ia memang dapat diposisikan sebagai seniman-budayawan, yakni pencipta yang bekerja dengan kesadaran sejarah dan fungsi sosial seni. Karyanya tidak terpisah dari kerja-kerja kebudayaan: penguatan identitas lokal, pemajuan budaya daerah, serta pewarisan nilai kepada generasi muda. Hal ini menjadikan praktik seninya relevan tidak hanya di ruang estetika, tetapi juga dalam ekosistem pendidikan dan kebudayaan. Lihat disini: Sendratari Perjuangan Kemerdekaan di Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan
Dalam proses kreatifnya, M. Farid W. Makkulau dikenal mengedepankan riset, pembacaan teks sejarah, serta dialog dengan tradisi lisan dan nilai keislaman. Pendekatan ini memberi bobot intelektual pada karya-karyanya dan membedakannya dari kecenderungan sastra yang semata-mata personal atau eksperimental tanpa akar.
Dengan produktivitas yang terjaga, kedalaman tema, dan keterlibatan aktif dalam ekosistem budaya, M. Farid W. Makkulau yang juga Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) dan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kabupaten Pangkep ini layak diperhitungkan sebagai seniman dan sastrawan daerah yang signifikan, dengan potensi pengakuan yang lebih luas melalui dokumentasi, publikasi, dan jejaring lintas wilayah. Lihat disini: Persembahan Sendratari Perjuangan La Maruddani Melawan Belanda
Dalam lima tahun terakhir (2021-2025), M. Farid W Makkulau secara konsisten menjembatani sejarah kaku menjadi karya yang lebih “hidup”. Ia aktif menghidupkan kembali narasi lokal melalui pertunjukan sendratari dan pembacaan puisi yang teatrikal. Hal ini sangat penting karena ia mengubah arsip sejarah yang statis menjadi seni pertunjukan yang dinamis bagi generasi muda.

Begitu pula Karya Puisi-puisi M. Farid W Makkulau lebih sering disebut sebagai karya Etta Adil, nama panggilan di masyarakat yang sekaligus ia jadikan nama pena. Antologi Puisinya seringkali menjadi suara bagi identitas lokal yang mulai tergerus zaman. Kemampuannya menggabungkan diksi modern dengan nilai-nilai Pangngaderreng membuat karyanya memiliki tempat tersendiri di kancah sastra regional.

Bukankah seorang sastrawan layak diperhitungkan jika karyanya mampu menggerakkan masyarakat. Melalui Pangkep Literacy dan berbagai platform budaya yang ia asuh, ia telah menjadi mentor bagi banyak penulis muda. Kelayakannya tidak hanya diukur dari jumlah bukunya, tapi dari bagaimana ia menjaga ekosistem sastra di daerah tetap bernapas.
Sulawesi Selatan harus berbangga memiliki sosok seniman, sastrawan dan budayawan sekelas M. Farid W. Makkulau. Ia bahkan pernah mendapat julukan sebagai Sastrawan-Peneliti. Keunggulannya dibanding yang lain selain konsistensinya adalah Otentisitas dan Multi-disiplin. Ia menulis tentang apa yang ia riset secara mendalam (sejarah lokal) dan mampu mengemas sejarah ke dalam puisi dan seni pertunjukan. Baginya, kearifan lokal adalah sumber inspirasi yang tidak akan pernah habis jika digali dengan dedikasi tinggi. (*)
(* Ramadhan M, Pekerja Buku/Jurnalis Independen




