Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Benarkah ada seorang Yahudi yang menulis buku tentang Riwayat Singkat Umat Manusia? Apa yang telah ditulisnya? Ya, Yuval Noah Harari adalah seorang Yahudi, dikenal luas sebagai sejarawan intelektual asal Israel yang menulis buku berjudul “Sapiens”. Buku ini membahas tentang spesies manusia sejak kemunculannya di Bumi lebih dari 200.000 tahun yang lalu. Lewat buku tersebut, Yuval Noah Harari diperhitungkan sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh di dunia.
Yuval Noah Harari lahir pada tahun 1976, pendidikan sarjananya diselesaikan di Universitas Ibrani Yerusalem dan meraih gelar PhD dari Universitas Oxford pada tahun 2002 dengan spesialisasi sejarah militer abad pertengahan. Saat ini ia merupakan profesor di Departemen Sejarah, Universitas Ibrani Yerusalem. Ia dikenal memiliki kemampuan unik dalam mensintesis berbagai disiplin ilmu—seperti biologi, antropologi, dan ekonomi—ke dalam narasi sejarah yang mudah dipahami.
Mari kita berkenalan lebih jauh tentang Buku “Sapiens” dari Yuval Noah Harari ini:
Identitas Buku
Judul: Sapiens: A Brief History of Humankind (Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia)
Penulis: Yuval Noah Harari
Penerbit Asli: Harvill Secker (2014)
Genre: Sejarah Besar (Big History) / Sains Populer
Tebal: ± 500 Halaman
Yuval Noah Harari, melakukan sesuatu yang sangat ambisius melalui Sapiens. Ia tidak hanya menulis kronologi peristiwa, melainkan mencoba menjawab pertanyaan fundamental: Mengapa spesies Homo sapiens—sejenis kera yang tidak terlalu kuat secara fisik—berhasil mendominasi Bumi dan mengungguli spesies manusia lainnya seperti Neanderthal?
Harari mengajukan tesis bahwa rahasia kesuksesan Sapiens terletak pada kemampuan kita untuk menciptakan dan mempercayai “fiksi kolektif”. Melalui bahasa, Sapiens mampu bekerja sama secara fleksibel dalam jumlah besar karena adanya mitos-mitos bersama yang menurutnya telah disepakati, mulai dari agama, negara, hak asasi manusia, hingga uang.
Harari membagi sejarah manusia ke dalam empat babak revolusi besar yang mengubah arah peradaban:
1. Revolusi Kognitif (70.000 Tahun Lalu)
Buku Sapiens: A Brief History of Humankind, memulai pendahuluan tentang manusia Homo sapiens dan perbedaan antara mereka dengan Neanderthal, terutama dalam hal perkembangan intelektual yang dihasilkan dari Revolusi Kognitif yang mendorong pemikiran untuk berkomunikasi secara presisi dan berpikir abstrak tentang lingkungan sekitar, sehingga menghasilkan perkembangan yang luar biasa. Hal ini, dikombinasikan dengan kerja sama, memicu terobosan nyata, dimulai dari perburuan kolektif dan kolaborasi dalam urusan sehari-hari.
Sebelum masa ini, manusia hanyalah hewan biasa yang tidak memiliki pengaruh besar pada ekosistem. Namun, mutasi genetik memungkinkan Sapiens untuk berbicara tentang hal-hal yang tidak ada secara fisik (abstrak). Kemampuan berimajinasi inilah yang melahirkan budaya.
Mitos Bersama pada masa revolusi ini adalah Jika simpanse hanya bisa bekerja sama dalam kelompok kecil (maksimal 50-150 individu), Sapiens bisa bekerja sama dengan jutaan orang asing karena mereka percaya pada “cerita” yang sama, seperti kepercayaan pada dewa-dewa atau ideologi nasionalisme.
Dampaknya, Sapiens mampu menyusun rencana perburuan yang kompleks dan bermigrasi ke seluruh penjuru dunia, seringkali menyebabkan kepunahan megafauna dan spesies manusia lainnya.
2. Revolusi Pertanian (12.000 Tahun Lalu)
Topik mengenai Revolusi Pertanian dalam buku Harari ini membahas kemunculannya sejak awal sejarah lebih dari 12.000 tahun yang lalu, yang dianggap sebagai salah satu revolusi paling awal yang menyebabkan lompatan dalam dunia pengetahuan. Manusia sebelumnya mengandalkan pengumpulan buah-buahan dan perburuan individu, namun dengan adanya pertanian, kelompok-kelompok mulai menetap di satu tempat yang terhubung dengan lahan garapan.
Keterikatan manusia pada satu lokasi alih-alih berpindah-pindah (nomaden) menjadi alasan utama berdirinya peradaban, pewarisan budaya, dan tersedianya kepemilikan pribadi, yang berujung pada kepemilikan rumah bagi setiap keluarga serta tanah dan harta benda dengan pemahaman akan maknanya. Namun, di sisi lain, hal ini juga menjadi alasan utama lonjakan populasi yang signifikan, yang menyebabkan kepadatan penduduk.
Berbeda dengan pandangan tradisional yang melihat revolusi pertanian sebagai kemajuan besar, Harari secara kontroversial menyebutnya sebagai “Penipuan Terbesar dalam Sejarah”. Harari berargumen bahwa bukan manusia yang mendomestikasi gandum, melainkan gandum yang mendomestikasi manusia.
Manusia yang dahulunya pengumpul-pemburu yang sehat dan memiliki waktu luang, kini harus bekerja keras di ladang, menderita penyakit akibat pola makan monoton, dan hidup dalam struktur hierarki yang menindas. Apa Konsekuensi Sosialnya? Munculnya surplus makanan memungkinkan pembentukan kota dan kerajaan, namun juga melahirkan ketidaksetaraan kelas dan eksploitasi hewan ternak secara masif.
3. Unifikasi Umat Manusia
Harari menjelaskan tiga kekuatan besar yang menyatukan manusia di bawah satu tatanan global, yaitu uang, kekaisaran (kekuasaan), dan agama. Uang sebagai sistem kepercayaan yang paling universal. Bahkan musuh bebuyutan dalam perang tetap memercayai mata uang yang sama, sedang Kekaisaran, yang meskipun penuh kekerasan, telah berhasil menyatukan berbagai budaya ke dalam satu payung identitas. Terakhir Agama, sebagai hukum manusia yang dianggap berasal dari otoritas super-manusia, memberikan legitimasi pada tatanan sosial.
4. Revolusi Ilmiah (500 Tahun Lalu)
Jenis revolusi intelektual kedua yang dibahas dalam buku Sapiens dimulai pada abad ke-16 dan dianggap sebagai revolusi yang paling berdampak, karena orang-orang mulai menggunakan metode ilmiah dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu pengetahuan ini diterapkan pada ranah pemikiran politik, ekonomi, dan filsafat, yang mengarahkan orang untuk mengadopsi pola pikir kritis.
Revolusi Ilmiah ini dimulai ketika manusia menyadari kebodohan mereka sendiri (The Discovery of Ignorance). Berbeda dengan tradisi kuno yang merasa sudah tahu segalanya, sains modern berangkat dari pengakuan bahwa kita tidak tahu banyak hal. Aliansi Sains, Politik, dan Modal menyebutkan bahwa Sains memberikan kekuatan kepada negara dan ekonomi, sementara kapitalisme memberikan dana bagi riset ilmiah dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa depan.
Pendapat Para Ahli Terhadap Sapiens
1. Jared Diamond (Penulis Guns, Germs, and Steel)
Diamond memuji Harari karena kemampuannya menyatukan biologi dan sejarah. Ia menilai buku ini memberikan kerangka kerja baru dalam melihat evolusi manusia dari perspektif yang lebih luas. Namun, Diamond juga mencatat bahwa Harari cenderung melakukan generalisasi yang sangat luas yang terkadang mengabaikan detail arkeologis yang spesifik.
2. Christopher Robert Hallpike (Antropolog)
Hallpike memberikan kritik yang cukup tajam. Ia berpendapat bahwa konsep “fiksi kolektif” Harari terlalu menyederhanakan realitas sosial. Menurutnya, agama dan hukum bukan sekadar “fiksi” yang diciptakan begitu saja, melainkan hasil dari perkembangan logika sosial yang kompleks selama ribuan tahun. Hallpike menilai Harari lebih bersifat seperti seorang penulis sains populer daripada sejarawan akademis yang ketat.
3. Galen Strawson (Filsuf)
Strawson menyoroti sisi filosofis Harari mengenai kebahagiaan. Harari berargumen bahwa meski manusia lebih berkuasa, kita tidak lebih bahagia dibandingkan nenek moyang kita. Strawson setuju bahwa kemajuan teknologi tidak berbanding lurus dengan peningkatan kepuasan subjektif, namun ia mengkritik Harari karena seringkali bersikap reduksionisme biologis (melihat manusia hanya sebagai algoritma biologis).
4. Bill Gates
Sebagai tokoh teknologi, Gates sangat merekomendasikan buku ini. Baginya, Sapiens berhasil memicu dialog tentang bagaimana kita harus mengelola teknologi masa depan agar tidak menghancurkan kemanusiaan itu sendiri. Gates sepakat dengan peringatan Harari mengenai potensi bahaya dari rekayasa genetika yang tidak teregulasi.
***
Sebagai seorang yang mendalami Sejarah Peradaban Islam dan Filsafat Ilmu, buku ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, Harari memberikan alat analisis mengenai bagaimana narasi agama (termasuk Islam dalam sejarah global) mampu membangun peradaban besar, sementara disisi lain Harari sangat sekuler dan materialistik. Ia melihat agama murni sebagai alat kontrol sosial dan fiksi yang berguna.
Perspektif ini seringkali mengabaikan aspek metafisika dan pengalaman spiritual personal yang nyata dalam sejarah agama-agama. Selain itu, sebagai karya “Big History”, ia seringkali “melompati” detail-detail lokal yang krusial bagi seorang sejarawan murni. Meski begitu, berkat buku Sapiens, ia menjadi pembicara langganan di forum-forum elit global seperti World Economic Forum di Davos dan dihormati oleh Tokoh-tokoh dunia seperti Barack Obama, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg. (*)
Sebagai kesimpulan, Sapiens adalah karya provokatif yang memaksa kita melihat diri kita bukan sebagai pusat alam semesta, melainkan sebagai spesies yang kebetulan memiliki imajinasi yang kuat. Meskipun beberapa klaim ilmiahnya didebatkan, kemampuannya dalam menghubungkan titik-titik antara biologi, sejarah, dan ekonomi menjadikannya salah satu buku paling berpengaruh di abad ke-21.
(* Muhammad Farid Wajdi, Peresensi buku/Penikmat Buku Sejarah Peradaban Manusia



