BerandaHighlightSistem Benteng

Sistem Benteng

Ilustrated by: Wim Poli
Ilustrated by: Wim Poli

Oleh: W.I.M Poli

PALONTARAQ.ID – Adalah hukum alam, menurut Charles Darwin, bahwa jika dibiarkan bebas, yang kuat akan bertambah kuat, menyingkirkan yang lemah. “Survival of the fittest.”

Maka muncullah pendapat umum bahwa yang lemah harus dilindungi. Pertanyaan yang menggelitik ialah: bagaimana melindungi, apa kemungkinan akibatnya yang tidak diinginkan, dan bagaimana mengatasinya?

Jawaban terhadap pertanyaan ini antara lain dapat diturunkan dari pengalaman Indonesia melindungi para pengusaha yang lemah, lewat sebuah kebijakan di tahun 1950-an, yang dinamakan “Sistem Benteng.” Apa itu, apa akibatnya, dan apa pelajarannya?

Di bawah “Sistem Benteng” pemerintah ketika itu mau mem-“bentengi” pengusaha pribumi, yang lemah, terhadap persaingan pengusaha non-pribumi, yang kuat.

Kepada pengusaha pribumi – katakan saja ia bernama Ali – diberikan lisensi impor. Impor barang ketika itu sangat menggiurkan keuntungannya. Ali, yang cepat mau kaya dengan cara yang gampang, menjual lisensinya kepada Baba, yang non-pribumi.

Muncullah istilah perusahaan “Ali-Baba” yang tidak enak didengar. Tetapi, ada juga sejumlah kecil Ali yang berhasil maju sebagai pengusaha. Dengan lain kata, tidak semua Ali sama potensinya untuk maju. Lalu, apa pelajarannya?

Pertama, perlindungan terhadap yang lemah harus bersifat jangka pendek, dan sewaktu-waktu perlu diubah setelah melihat hasil penerapan kebijakannya.

Jika terus dilindungi, kata Lee Kuan Yew, mereka yang dilindungi menjadi cengeng dan minta dilindungi terus-menerus. Mereka dilindungi lewat pajak yang ditarik dari mereka yang berkeringat. Adilkah?

Kedua, pemecahan masalah seyogianya ditujukan ke penyebab yang paling dalam, yaitu: ethos kerja. Ethos kerja terutama terbentuk pada usia dini, sehingga pembentukannya terutama terjadi di lingkungan keluarga.

Itulah “sistem benteng” yang ampuh. Kata Confucius: “Jika rencanamu untuk satu tahun, tanamlah padi. Jika rencanamu untuk sepuluh tahun, tanamlah pohon. Jika rencanamu untuk seratus tahun, didiklah anak-anakmu.”

Renungan: Pembentukan ethos kerja pada usia dini sekarang, baru terlihat hasilnya jauh di kemudian hari. Lebih cepat, lebih baik, tetapi hasilnya tidak segera dipanen. Di mana posisiku menuju Indonesia Baru 2045? (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT