
Tulisan Sebelumnya: EGO (17)
EGO (18): Aku tertidur cukup lama di ruang tamu setelah kupaksakan diri mengasup berbagai macam obat kimia untuk mengobati demam, sakit kepala, dan tensi tinggi. Kusebut saja demikian karena aku tak mau disebut menderita kolesterol dan gula darah tinggi.
Saat kubangun jarum jam menunjukkan Pukul 00.25 WITA. Meski sudah agak baikan, tapi kepala masih terasa pening dan lapar jadi satu. Usai cuci muka, aku menengok kamar istri dan tak kutemukan sosoknya disana. Aku beranjak ke kamar anak, disana kutemukan istri dan anakku tertidur pulas dengan televisi yang terus menyala di kamar itu.
“Enak yah kalian tidur pulas begitu. Etta masih sakit dan sekarang kelaparan, tak ada yang peduli!”
Bentakanku membangunkan istri dan anakku. Istri langsung ‘kabur’ menuju dapur memeriksa makanan yang bisa kuasup di tengah malam itu, sementara anakku memintaku berbaring dan dengan mata yang masih mengantuk ia memijiti punggungku.
Catatan Ego (18) Etta Adil, Pangkep, 26 September 2012.
EGO (19): Satu nomor kontak tanpa nama masuk di ponsel istri saat sibuk menyalahkanku tak mau minum obat yang disarankannya.
“Angkat dulu itu ponsel,”ujarku.
Sesaat setelah menerima telepon, istri mengabarkan bahwa telepon tadi dari guru sekolah Adil. Aku tiba-tiba teringat anak saat mengantar ke sekolah, aku lupa memberinya uang jajan.
“Ada apa?” tanyaku.
“Kata gurunya, Adil menurun prestasinya. Tak pernah kerja pekerjaan rumah (PR). Tak pernah mau kerja kelompok bersama temannya, sering main ke pekuburan di belakang sekolah,” – jelas istri mengulang penjelasan sang guru penelepon yang juga wali kelas anak di sekolah.
Istri marah dan menyampaikan bahwa ini semua salahku yang kurang memerhatikan pendidikan anak disebabkan kesibukan.
“Akh biar saja. Memangnya Etta menuntut Adil selalu rangking. Kan tidak? Adil tidak kerja PR karena anak itu tidak suka dikasih PR. Anak itu ke kuburan karena dia senang bisa ‘bermain’ dengan adiknya yang dimakamkan disitu,” ujarku berlalu menuju sekolahnya.
Catatan Ego (19) Etta Adil, Pangkep, 27 September 2012.
EGO (20): Aku bertamu di rumah orang yang tak kukenal. Bersama seorang kawan yang mengajak, kami diterima dengan sangat ramah dan sopan. Di meja tamu tersaji teh panas dan kue barongko yang sangat kusuka.
Banyak yang kami perbincangkan dengan tuan rumah, dan pulang dengan puas setelah mengorek berbagai informasi yang dibutuhkan. Sebenarnya aku dan kawanku itu diutus oleh keluarga kawan yang memiliki minat menjalin hubungan kekerabatan dengan tuan rumah yang kami datangi.
Dalam tradisi bugis, hal ini disebut “mappese’-pese”, mencari informasi tentang keluarga si gadis yang mau dilamar tanpa sepengetahuan keluarga si gadis tersebut.
Tiba di rumah keluarga yang mengutus, kami dicecar pertanyaan. Nampaknya kawanku itu tak sabar menunggu penilaian kami terhadap tuan rumah.
“Bagaimana menurut penilaianmu?”
Aku bergeming, kuminta kawan yang menemani saja yang menjelaskannya. Kawan yang mengutus kami itu tak puas. Ia mendesak penilaianku.
“Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menjalin hubungan kekerabatan dan kelanggengan hubungan itu adalah “kasiratangan” (kesepadanan), bukan hanya kesepadanan pada dua sejoli yang mau dijodohkan tetapi juga kesepadanan antara dua keluarga yang mau berbesanan. Kesepadanan menyangkut status sosial, pendidikan anak, pekerjaan, agama, hobi, dan lainnya. Keluarga yang kamu naksir untuk menjadi calon besanmu itu terlalu tinggi status sosialnya dan sangat memerhatikan adat, sementara kamu tak peduli dengan hal-hal seperti itu, apalagi anakmu,” jelasku.
Catatan Ego (20) Etta Adil, Pangkep, 28 September 2012.


