BerandaAkademiaKonsepsi Ilmu Budaya Dasar: Tradisi dan Kearifan Lokal Masyarakat Bugis-Makassar dalam Mengakrabi...

Konsepsi Ilmu Budaya Dasar: Tradisi dan Kearifan Lokal Masyarakat Bugis-Makassar dalam Mengakrabi Laut (19)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Konsepsi Ilmu Budaya Dasar: Tradisi dan Kearifan Lokal Bugis-Makassar dalam Mengelola Pertanian (18)

PALONTARAQ.ID – Laut bagi masyarakat Bugis-Makassar bukan sekadar bentangan air yang memisahkan satu daratan dengan daratan lainnya. Laut adalah ruang kehidupan, ruang pengembaraan, ruang mencari rezeki, sekaligus ruang pembentukan karakter. Dari laut, orang Bugis-Makassar mengenal dunia yang lebih luas. Dari laut pula mereka belajar tentang keberanian, ketekunan, kesabaran, membaca tanda-tanda alam, membangun kerja sama, dan menerima ketentuan Tuhan.

Karena itu, dalam perspektif Ilmu Budaya Dasar, tradisi masyarakat Bugis-Makassar dalam mengakrabi laut merupakan salah satu contoh bagaimana manusia membangun hubungan yang sangat erat dengan lingkungan alamnya. Pengetahuan tentang laut tidak seluruhnya tertulis dalam buku. Sebagiannya hidup dalam ingatan kolektif, diwariskan melalui pengalaman, petuah orang tua, cerita para pelaut, ritual persiapan keberangkatan, serta kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang dari generasi ke generasi.

Masyarakat pesisir Bugis-Makassar sejak dahulu memiliki orientasi maritim yang kuat. Kehidupan mereka berkembang melalui aktivitas menangkap ikan, berdagang, membuat perahu, mengolah hasil laut, mengarungi selat dan teluk, serta melakukan pelayaran antarpulau. Dalam konteks ini, laut tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan, melainkan sebagai alam yang harus dikenali, dihormati, dan diajak bersahabat.

***

Dalam banyak Artikel dan Esai tentang kebudayaan Bugis-Makassar, penulis menempatkan laut dan dunia pesisir sebagai bagian penting dari sejarah kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan. Pesisir bukan wilayah pinggiran, tetapi salah satu pusat pertumbuhan peradaban. Pelabuhan, bandar, muara sungai, dan kampung nelayan menjadi ruang bertemunya manusia dari berbagai daerah.

Dalam perspektif sejarah lokal, Kerajaan Siang di Pangkep merupakan salah satu contoh penting bagaimana masyarakat pesisir membangun kehidupan melalui hubungan dengan laut. Siang berkembang sebagai kawasan yang berhubungan dengan jaringan perdagangan maritim. Posisi geografisnya memungkinkan terjadinya perjumpaan berbagai kelompok manusia, barang dagangan, bahasa, pengetahuan, dan kebudayaan. Dari pengalaman panjang itulah lahir masyarakat yang memiliki kemampuan adaptasi luar biasa terhadap laut.

Orang yang hidup dari laut harus memahami bahwa laut memiliki watak yang berubah-ubah. Hari ini tenang, esok dapat bergelombang. Angin yang semula bersahabat dapat berubah menjadi ancaman. Langit yang tampak cerah dapat tiba-tiba menghadirkan hujan dan badai. Karena itu, kemampuan membaca laut menjadi pengetahuan yang sangat berharga. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi kearifan lokal.

Salah satu keistimewaan pelaut tradisional Bugis-Makassar adalah kemampuan membaca tanda-tanda alam. Sebelum teknologi navigasi modern berkembang, mereka telah memiliki cara sendiri untuk menentukan waktu, arah, dan kondisi perjalanan.

Angin menjadi salah satu “bahasa alam” yang harus dipahami. Pelaut memperhatikan arah datangnya angin, kekuatannya, perubahan suhu, bentuk gelombang, warna langit, awan, serta perubahan perilaku laut. Mereka juga memperhatikan posisi matahari, bulan, dan bintang sebagai petunjuk arah.

Bagi generasi modern, kemampuan semacam itu mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi masyarakat pelaut tradisional, pengetahuan tersebut merupakan hasil pengalaman yang sangat panjang. Seorang pelaut tidak sekadar bertanya, “Ke mana arah perjalanan?” Ia juga harus bertanya, “Bagaimana keadaan alam ketika kami sampai di sana?” Inilah inti kearifan lokal: kemampuan membaca hubungan antara manusia dan lingkungan.

Pengetahuan mengenai musim juga menjadi sangat penting. Nelayan harus mengetahui kapan saat yang tepat untuk melaut, kapan angin bersahabat, kapan gelombang memungkinkan perjalanan, dan kapan sebaiknya bertahan di darat. Pengalaman tersebut melahirkan pengetahuan tentang iklim, cuaca, arah angin, arus, dan tanda-tanda perubahan alam. Dalam konteks ini, tradisi melaut sesungguhnya merupakan bentuk pengetahuan ekologis tradisional.

***

Pengetahuan tentang laut tidak hanya berbentuk keterampilan teknis. Ia juga dibangun melalui pappaseng, yakni pesan, nasihat, petuah, atau amanat yang diwariskan oleh orang tua kepada generasi berikutnya.

Pappaseng memiliki kedudukan penting dalam kebudayaan Bugis-Makassar karena mengandung pengalaman hidup yang telah disaring oleh generasi terdahulu. Ketika seorang anak hendak melaut, yang dibawanya bukan hanya perahu, jala, pancing, bekal makanan, dan perlengkapan lainnya. Ia juga membawa pesan moral.

Di laut seseorang belajar bahwa keberanian tanpa perhitungan adalah kecerobohan. Keteguhan tanpa kesabaran dapat berubah menjadi kesombongan. Sebaliknya, keberanian yang disertai pengetahuan, doa, perhitungan, dan kepasrahan kepada Allah merupakan modal penting seorang pelaut.

Karena itu, pappaseng tentang laut sesungguhnya merupakan pendidikan karakter. Laut mengajarkan reso, kerja keras; getteng, keteguhan pendirian; siri’, harga diri; sabarak, kesabaran; serta kesadaran bahwa keberhasilan tidak datang tanpa perjuangan. Pappaseng menjadi semacam kompas moral. Kompas menentukan arah perahu, sedangkan pappaseng menentukan arah perilaku manusia.

Salah satu tradisi penting sebelum pelayaran adalah apparuru lopi’, yakni rangkaian persiapan perahu sebelum digunakan untuk berlayar atau melaut. Dalam tradisi masyarakat maritim Bugis-Makassar, perahu bukan sekadar benda mati. Perahu memiliki kedudukan khusus karena menjadi kendaraan utama untuk mencari kehidupan.

Di atas perahu seorang nelayan mempertaruhkan tenaga, waktu, keselamatan, bahkan harapan keluarganya. Karena itu, persiapan perahu dilakukan dengan penuh perhatian. Perahu diperiksa. Perlengkapan disiapkan. Persediaan dibawa. Jaring atau alat tangkap diperiksa. Mesin atau perlengkapan pelayaran dipastikan berfungsi.

Orang-orang yang akan berangkat melaut mempersiapkan diri secara lahir dan batin. Di sinilah apparuru lopi’ dapat dimaknai lebih luas sebagai filosofi persiapan kehidupan. Tidak ada keberhasilan yang layak diharapkan tanpa persiapan.

Pelaut Bugis-Makassar memahami bahwa laut tidak mengenal kompromi terhadap kelalaian. Kesalahan kecil dapat berakibat besar. Karena itu, sebelum menghadapi laut, seseorang harus terlebih dahulu memastikan bahwa dirinya telah siap.

Tradisi tersebut memiliki relevansi yang kuat dalam kehidupan modern. Setiap perjalanan membutuhkan persiapan. Setiap cita-cita membutuhkan perbekalan. Dan setiap perjuangan membutuhkan kesiapan mental.

Salah satu ungkapan yang sangat kuat dalam budaya maritim Bugis-Makassar adalah, “Kuallengi tallanga na toalia.” Secara filosofis, ungkapan ini menggambarkan tekad yang sangat kuat: lebih baik tenggelam daripada kembali tanpa hasil atau menyerah sebelum perjuangan selesai.

Ungkapan ini tentu tidak seharusnya dimaknai secara harfiah sebagai ajakan mengabaikan keselamatan. Justru dalam konteks kebudayaan, ia menggambarkan mentalitas pantang menyerah, keberanian menghadapi tantangan, dan kesungguhan mencapai tujuan.

Seorang pelaut pergi ke laut karena membawa harapan. Ada keluarga yang menunggu. Ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Ada tanggung jawab yang harus ditunaikan.

Maka pulang tanpa hasil dapat dirasakan sebagai sebuah kegagalan. Tetapi kegagalan itu bukan alasan untuk menyerah. Ia menjadi bagian dari pengalaman untuk mencoba kembali.

Dalam filosofi kuallengi tallanga na toalia, terkandung nilai resiliensi—kemampuan untuk bertahan menghadapi kesulitan. Nilai inilah yang kemudian menjadi salah satu karakter penting masyarakat Bugis-Makassar: berani merantau, berani menghadapi ketidakpastian, dan berani memulai kembali setelah mengalami kegagalan.

***

Kebudayaan maritim Bugis-Makassar juga tidak dapat dipisahkan dari teknologi pembuatan perahu. Pinisi telah menjadi simbol penting kemampuan teknologi tradisional masyarakat Sulawesi Selatan.

Namun, perahu bukan hanya produk teknologi. Ia merupakan hasil perpaduan antara pengetahuan, keterampilan, estetika, kepercayaan, organisasi sosial, dan pengalaman ekologis.

Pembuatan perahu melibatkan pengetahuan tentang jenis kayu, konstruksi, keseimbangan, bentuk lambung, layar, tali-temali, serta teknik pelayaran. Karena itu, perahu dapat dibaca sebagai sebuah “teks budaya”.

Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang bagaimana manusia memahami alam dan mengubah pengetahuan tersebut menjadi teknologi yang memungkinkan manusia hidup berdampingan dengan laut.

Dalam berbagai kajian tentang budaya maritim Nusantara, Christian Pelras juga menunjukkan kuatnya karakter maritim orang Bugis dalam The Bugis. Sementara Mattulada menempatkan keberanian, mobilitas, siri’, dan struktur nilai masyarakat Bugis dalam konteks kebudayaan yang lebih luas.

Dengan demikian, keberanian orang Bugis-Makassar mengarungi laut tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibentuk oleh lingkungan, pengalaman sejarah, sistem nilai, dan proses pewarisan pengetahuan antargenerasi.

Ada satu pelajaran penting dari tradisi masyarakat Bugis-Makassar dalam berhubungan dengan laut: mereka tidak semata-mata melihat laut sebagai objek eksploitasi. Laut adalah ruang yang harus diakrabi.

Kata “mengakrabi” mengandung makna yang lebih dalam daripada sekadar memanfaatkan. Mengakrabi berarti mengenal wataknya, memahami tanda-tandanya, menghormati kekuatannya, dan menyesuaikan diri dengannya.

Pelaut yang baik bukanlah orang yang merasa paling kuat di laut. Ia justru orang yang sadar bahwa manusia memiliki keterbatasan. Kesadaran tersebut melahirkan sikap rendah hati.

Ketika angin berubah, pelaut menyesuaikan layar. Ketika gelombang meninggi, ia berhati-hati. Ketika cuaca memburuk, ia mempertimbangkan untuk berlindung. Ketika tanda-tanda alam menunjukkan bahaya, ia tidak memaksakan kehendak.

Di sinilah kearifan lokal bertemu dengan prinsip ekologis modern: manusia harus hidup selaras dengan alam, bukan semata-mata mengeksploitasinya.

***

Dalam perspektif Ilmu Budaya Dasar, tradisi melaut masyarakat Bugis-Makassar mengajarkan bahwa kebudayaan lahir dari proses adaptasi manusia terhadap lingkungan. Namun, adaptasi tersebut tidak hanya melahirkan teknologi, tetapi juga sistem nilai.

Dari laut lahir keberanian. Dari perjalanan lahir pengalaman. Dari ketidakpastian lahir kesabaran. Dari ancaman lahir kewaspadaan. Dari kebutuhan bekerja sama lahir solidaritas. Dari ketergantungan terhadap alam lahir kerendahan hati. Dan dari perjalanan pulang-pergi mencari rezeki lahir kesadaran tentang tanggung jawab kepada keluarga.

Karena itu, ketika kita menempatkan tradisi lokal sebagai bagian penting dari pembacaan sejarah dan kebudayaan Bugis-Makassar, sesungguhnya yang sedang dibicarakan bukan sekadar masa lalu. Yang sedang diwariskan adalah cara pandang terhadap kehidupan. Tradisi melaut harus dibaca sebagai sumber pendidikan.

Generasi muda perlu mengetahui bahwa sebelum manusia memiliki GPS, radar, mesin diesel, aplikasi cuaca, dan satelit, leluhur mereka telah memiliki “teknologi pengetahuan” yang memungkinkan mereka membaca alam dan menjelajah lautan. Pengetahuan itu mungkin tidak selalu ditulis dalam bahasa akademik, tetapi tersimpan dalam pappaseng, pengalaman para pelaut, bentuk perahu, arah angin, tanda langit, pola gelombang, dan kebiasaan hidup masyarakat pesisir.

Jadi, Laut adalah sekolah besar bagi masyarakat Bugis-Makassar. Di sana manusia belajar bahwa hidup adalah perjalanan. Tidak setiap perjalanan menghasilkan keuntungan. Tidak setiap angin membawa kemudahan. Tidak setiap ombak dapat dilawan. Tetapi manusia harus memiliki keberanian untuk berangkat, kecerdasan membaca keadaan, kesabaran menghadapi perubahan, dan keteguhan untuk terus berusaha.

Apparuru lopi’ mengajarkan pentingnya persiapan. Pappaseng mengajarkan pentingnya nasihat dan pengalaman. Kemampuan membaca angin, cuaca, bintang, arus, dan tanda alam mengajarkan kecerdasan ekologis. Sementara “kuallengi tallanga na toalia” mengajarkan keteguhan dan pantang menyerah.

Semua itu memperlihatkan bahwa tradisi maritim Bugis-Makassar bukan sekadar kisah tentang orang-orang yang pandai berlayar. Ia adalah kisah tentang manusia yang membangun peradaban melalui keberanian berhadapan dengan ketidakpastian.

Dalam warisan kebudayaan tersebut, laut tidak hanya menjadi tempat mencari ikan dan rezeki. Laut menjadi ruang pendidikan karakter, ruang pembentukan identitas, dan ruang perjumpaan manusia dengan kebesaran alam dan Tuhan. Maka, mengakrabi laut sesungguhnya adalah belajar mengakrabi kehidupan.

Sebab sebagaimana laut, kehidupan tidak pernah benar-benar selalu tenang. Ada angin yang bersahabat, ada gelombang yang menguji, ada badai yang memaksa kita bertahan, dan ada saat ketika kita harus mengubah arah agar tetap selamat. Yang menentukan bukan apakah laut selalu tenang, melainkan seberapa baik kita mempersiapkan perahu, membaca tanda-tanda alam, memegang pappaseng, dan mempertahankan tekad untuk terus berlayar menuju tujuan.

Dan dalam semangat itu, kuallengi tallanga na toalia tidak lagi sekadar semboyan seorang pelaut. Ia menjadi metafora tentang manusia Bugis-Makassar yang memilih untuk berjuang daripada menyerah, berusaha daripada mengeluh, dan terus berlayar daripada takut menghadapi luasnya kehidupan.

Demikian catatan singkat ini. Semoga bermanfaat adanya. Salamakki Tapada’ Salama’. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pimred Palontaraq/Pemerhati Sosial Budaya Bugis-Makassar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT