BerandaAkademiaNarativitas dan Batas Imajinasi: Menanggapi Tesis Metahistory Hayden White dalam Historiografi Modern

Narativitas dan Batas Imajinasi: Menanggapi Tesis Metahistory Hayden White dalam Historiografi Modern

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Historiografi sebagai Konstruksi Sosial: Antara Fakta dan Interpretasi

PALONTARAQ.ID – Kehadiran Hayden White melalui mahakaryanya, Metahistory: The Historical Imagination in Nineteenth-Century Europe (1973), menandai sebuah titik balik krusial—atau yang sering disebut sebagai linguistic turn—dalam disiplin sejarah. Lihat: Hayden White, Metahistory: The Historical Imagination in Nineteenth-Century Europe (Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1973), hlm. 1-42, dan Hayden White, The Content of the Form: Narrative Discourse and Historical Representation (Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1987), hlm. 26.

Hayden White tidak datang membawa metode penelitian baru dalam hal pencarian sumber, melainkan membawa pisau bedah analisis sastra untuk membongkar cara kerja sejarawan dalam menyusun narasi. Pernyataan radikalnya bahwa sejarah ditulis menggunakan perangkat sastra seperti plot, metafora, dan emplotment (pemplotan) telah meruntuhkan dinding pemisah yang selama ini dibangun kokoh antara sejarah sebagai sains dan sastra sebagai fiksi. Lihat: Northrop Frye, Anatomy of Criticism: Four Essays (Princeton: Princeton University Press, 1957) — sebagai rujukan White dalam menentukan tipologi plot.

Artikel ini akan menelaah secara kritis posisi White, implikasinya terhadap objektivitas sejarah, serta bagaimana kita sebagai praktisi sejarah harus memandang keterkaitan antara fakta empiris dan struktur naratif. Lihat: Frank Ankersmit, Historical Representation (Stanford: Stanford University Press, 2001) dan Paul Ricoeur, Time and Narrative, Vol. 1, terjemahan K. McLaughlin dan D. Pellauer (Chicago: University of Chicago Press, 1984).

Apakah pengakuan terhadap aspek sastra dalam sejarah berarti pengakuan terhadap fiksionalisasi masa lalu? Ataukah ini justru merupakan kejujuran epistemologis yang selama ini disembunyikan oleh para sejarawan konvensional? Silakan baca: Alun Munslow, The Routledge Companion to Historical Studies (London: Routledge, 2000), dan Keith Jenkins, On ‘What is History?’: From Carr and Elton to Rorty and White (London: Routledge, 1995).

Struktur Metahistory: Mekanisme di Balik Narasi

Untuk menanggapi Hayden White, kita harus memahami terlebih dahulu anatomi pemikirannya. White berargumen bahwa tidak ada narasi sejarah yang “netral”. Sebelum seorang sejarawan mulai menulis, ia telah melakukan operasi puitis untuk mengorganisir data yang berserakan.

White membagi proses ini ke dalam tiga tingkatan representasi:

  1. Tahap Kronik dan Cerita. Pengaturan data mentah berdasarkan urutan waktu.

  2. Mode Pemplotan (Emplotment). Di sinilah sejarawan memilih “jenis cerita” apa yang akan ia sampaikan. White mengadopsi tipologi Northrop Frye, yakni: Romantis, Tragedi, Komedi, atau Satire.

  3. Mode Formal Argumentasi. Bagaimana sejarawan membangun penjelasan formal (Formis, Organisis, Mekanistik, atau Kontekstual).

  4. Mode Implikasi Ideologis. Posisi politik sejarawan (Anarkis, Konservatif, Radikal, atau Liberal).

Menurut White, hubungan antara tingkat-tingkat ini dijembatani oleh perangkat tropologi atau bahasa kiasan, yaitu metafora, metonimia, sinekdoke, dan ironi. Dengan kata lain, sejarah adalah sebuah struktur verbal dalam bentuk prosa naratif yang “dikontruksi” sedemikian rupa agar bermakna. Silakan baca: Bambang Purwanto, Gagalnya Historiografi Indonesiasentris? (Yogyakarta: Ombak, 2006), dan Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah (Jakarta: Gramedia, 1992).

Sejarah sebagai “Emplotment”: Antara Penemuan dan Penciptaan

Pernyataan White bahwa sejarawan melakukan emplotment adalah poin yang paling provokatif. Dalam pandangan tradisional, sejarawan dianggap “menemukan” alur dalam sejarah. Namun bagi White, alur (plot) tidak ditemukan di dalam tumpukan arsip; alur diciptakan oleh pikiran sejarawan.

Sebagai contoh, ambillah peristiwa Revolusi Perancis. Seorang sejarawan konservatif mungkin membingkainya sebagai “Tragedi” (runtuhnya tatanan sosial yang mapan), sementara sejarawan radikal membingkainya sebagai “Romantis” (kemenangan pahlawan rakyat atas penindasan). Faktanya sama—eksekusi Louis XVI dan jatuhnya Bastille—namun makna dari fakta tersebut berubah total bergantung pada plot yang dipilih.

Di sinilah letak kebenaran dari pernyataan White: fakta sejarah bersifat “bisu” dan “kaotis” sampai sejarawan memberikan struktur naratif kepadanya. Tanpa perangkat sastra, sejarah hanyalah tumpukan data yang tidak memiliki signifikansi bagi kehidupan manusia. Lihat: E.H. Carr, What is History? (London: Penguin, 1961), dan Nancy Partner, “Hayden White: The Historical Imagination as Cultural Critique,” dalam History and Theory, Vol. 37, No. 2 (1998).

Kritik terhadap Objektivitas: Apakah Sejarah Menjadi Fiksi?

Tanggapan paling keras terhadap White datang dari para sejarawan empiris yang menuduhnya mempromosikan relativisme. Jika sejarah hanyalah persoalan pemilihan perangkat sastra, apa bedanya sejarah dengan novel sejarah? Secara kritis, kita harus mengakui bahwa White memiliki kecenderungan untuk mengaburkan batas antara representasi dan referensi.

Memang benar bahwa cara kita mempresentasikan sejarah menggunakan bahasa sastra, tetapi referen (objek yang dirujuk) dalam sejarah adalah nyata dan pernah ada. Seorang novelis bebas menciptakan karakter, sementara sejarawan terikat pada bukti-bukti yang tersisa. Lihat pula: Robert Doran (Ed.), Philosophy of History After Hayden White (London: Bloomsbury, 2013).

Namun, pembelaan White adalah bahwa “kebenaran” dalam sejarah bukan hanya terletak pada kebenaran fakta individual (seperti tanggal dan tempat), melainkan pada kebenaran narasi secara keseluruhan. Dan narasi, menurut sifat alaminya, selalu merupakan konstruksi kreatif. White tidak mengatakan bahwa peristiwa itu tidak terjadi, ia mengatakan bahwa makna dari peristiwa tersebut adalah produk dari imajinasi sastrawi.

Metaphor dan Pembentukan Realitas Sejarah

Metafora dalam pandangan White bukan sekadar hiasan bahasa, melainkan alat kognitif. Ketika kita menyebut “Kebangkitan Nasional”, kita menggunakan metafora pertumbuhan organisme. Ketika kita berbicara tentang “Arus Sejarah”, kita menggunakan metafora fluida. Lihat: Hans Kellner, Language and Historical Representation: Getting the Story Crooked (Madison: University of Wisconsin Press, 1989).

Penggunaan perangkat sastra ini sangat krusial dalam historiografi Islam di Indonesia, misalnya dalam proses Islamisasi di Nusantara. Sejarawan sering kali harus memilih metafora: apakah Islamisasi adalah “penetrasi damai” (penetration pacifique) ataukah sebuah “revolusi spiritual”? Pemilihan metafora ini menentukan bagaimana pembaca mempersepsikan identitas dan akar budayanya. Di sini, perangkat sastra menjalankan fungsi sosial-politik yang sangat nyata.

***

Menanggapi White bukan berarti kita harus berhenti mencari kebenaran objektif, melainkan kita harus lebih waspada terhadap “bias bahasa” kita sendiri. Kesadaran akan Metahistory menuntut kita untuk Refleksivitas, dalam artian menyadari bahwa saat kita menulis tesis atau artikel, kita sedang melakukan emplotment. Kita harus jujur pada posisi ideologis dan estetika yang digunakan.

Kesadaran akan Metahistory juga menuntut Dekonstruksi Sumber. Dengan tidak hanya melihat apa yang tertulis dalam dokumen primer, tetapi bagaimana dokumen itu sendiri dikonstruksi secara naratif oleh penulis masanya (karena penulis sumber primer pun menggunakan perangkat sastra). Disisi lain perlu Pluralisme Interpretasi. Menghargai bahwa satu peristiwa sejarah dapat diceritakan dalam berbagai plot yang berbeda, dan masing-masing dapat memiliki validitas metodologisnya sendiri.

Mungkin cara terbaik untuk menanggapi White adalah dengan tidak memposisikan sejarah dan sastra sebagai dikotomi yang saling meniadakan. Sejarah adalah sebuah disiplin yang memiliki “dua tuan”: ia harus setia pada kebenaran empiris (sains) namun ia juga harus mampu mengomunikasikan makna tersebut melalui struktur bahasa yang koheren (sastra).

Tanpa perangkat sastra, sejarah akan menjadi tumpukan angka dan nama yang kering (kronik). Sebaliknya, tanpa disiplin empiris, sejarah akan menjadi mitos. Kehebatan seorang sejarawan, seperti yang dicontohkan oleh Sartono Kartodirdjo dalam gaya penulisan multidimensionalnya, adalah kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara ketajaman analisis sosiologis dan keindahan narasi yang mampu menghidupkan masa lalu. Lihat: Roland Barthes, “The Discourse of History,” dalam The Rustle of Language, terjemahan Richard Howard (New York: Hill and Wang, 1986).

Jadi, Pernyataan Hayden White bahwa sejarah ditulis menggunakan perangkat sastra bukanlah sebuah ancaman bagi disiplin sejarah, melainkan sebuah pengingat akan kemanusiaan kita. Sejarah adalah cara manusia memberi makna pada waktu. Karena manusia adalah makhluk yang bercerita (homo narrans), maka mustahil bagi kita untuk membicarakan masa lalu tanpa menggunakan plot, metafora, dan narasi.

Tantangan bagi sejarawan masa kini adalah bagaimana menggunakan perangkat sastra tersebut untuk membangun historiografi yang tidak hanya akurat secara data, tetapi juga kuat secara makna dan mampu menjawab tantangan zaman. Sejarah memang dikonstruksi, tetapi ia dikonstruksi di atas fondasi fakta untuk membangun rumah peradaban. Lihat: Kuntowijoyo, Penjelasan Sejarah (Historical Explanation) (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003). (*)

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT