BerandaAkademiaKonsepsi Ilmu Budaya Dasar: Tradisi Sompe' dan Filosofi "Tallu Cappa" dalam Masyarakat...

Konsepsi Ilmu Budaya Dasar: Tradisi Sompe’ dan Filosofi “Tallu Cappa” dalam Masyarakat Bugis-Makassar (14)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Konsepsi Ilmu Budaya Dasar: Pandangan Hidup Orang Bugis-Makassar (13)

PALONTARAQ.ID – Salah satu karakter kebudayaan yang paling menonjol dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar adalah keberaniannya meninggalkan kampung halaman untuk mencari ruang kehidupan baru. Tradisi tersebut dikenal dalam berbagai ungkapan sebagai sompe’, sementara orang yang menjalankannya sering disebut pasompe’. \

Dalam pengertian sederhana, sompe’ berarti berlayar, bepergian, atau merantau. Namun dalam kebudayaan Bugis-Makassar, maknanya jauh melampaui perpindahan geografis semata. Sompe’ adalah sebuah sikap hidup. Ia mengandung keberanian menghadapi ketidakpastian, kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, kesediaan bekerja keras, serta kecakapan membangun hubungan sosial di negeri orang.

Seorang perantau Bugis-Makassar tidak hanya membawa tubuhnya meninggalkan kampung halaman. Ia membawa identitas, nilai, keterampilan, bahasa, keberanian, dan harapan untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Dalam konteks inilah muncul sebuah falsafah yang sangat dikenal dalam tradisi Bugis-Makassar, yaitu tallu cappa atau “tiga ujung”.

Dalam berbagai penuturan budaya, tallu cappa dipahami sebagai tiga bekal yang dibawa oleh seorang perantau: cappa lila atau ujung lidah (kecerdasan), cappa laso atau cappa gajang atau ujung kemaluan (perkawinan/kawin-mawin; memperluas hubungan kekerabatan), dan cappa badi’ atau cappa kawali, yakni ujung badik (keberanian).

Secara literal, ungkapan tersebut mungkin terdengar keras dan bahkan vulgar bagi pembaca modern. Namun apabila dibaca dalam konteks kebudayaan, tallu cappa sebenarnya merupakan sebuah strategi sosial yang kompleks. Ia berbicara tentang kecerdasan berkomunikasi, kemampuan membangun hubungan kekerabatan, dan keberanian mempertahankan martabat.

Sejumlah kajian mengenai diaspora Bugis-Makassar juga mencatat tallu cappa sebagai bekal simbolik dalam proses adaptasi, diplomasi, perkawinan, dan keberanian di wilayah perantauan. Dalam perspektif Ilmu Budaya Dasar, tradisi sompe’ dan falsafah tallu cappa menarik untuk dikaji karena memperlihatkan hubungan antara manusia dan lingkungan sosialnya. Manusia tidak hanya bertahan hidup dengan kekuatan fisik atau kekayaan materi. Ia bertahan melalui kecerdasan, kemampuan membangun relasi, serta keberanian menghadapi tantangan kehidupan.

***

Dalam pandangan Prof. Dr. Ima Kusuma, Akademisi Universitas Negeri Makassar (UNM) mengenai tradisi sompe’, sebagaimana dapat dipahami dalam pembacaan akademik mengenai budaya perantauan Bugis, merantau bukan sekadar tindakan meninggalkan kampung halaman. Sompe’ merupakan bagian dari watak budaya masyarakat Bugis yang berhubungan dengan mobilitas, keberanian, pencarian pengalaman, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan dunia baru.

Pandangan tersebut penting karena sering kali merantau hanya dipahami dari perspektif ekonomi: seseorang meninggalkan kampung untuk mencari pekerjaan atau kehidupan yang lebih baik. Dalam kebudayaan Bugis, makna sompe’ jauh lebih luas. Merantau dapat menjadi jalan untuk memperoleh pengalaman, membangun jaringan, mencari kehormatan, memperluas pengetahuan, dan menemukan posisi sosial baru.

Orang Bugis yang melakukan sompe’ tidak selalu meninggalkan identitasnya. Justru dalam perantauan, identitas itu sering menjadi kekuatan sosial. Bahasa, jaringan kekerabatan, etika pergaulan, dan kemampuan berdagang menjadi modal penting untuk bertahan. Karena itu, tidak mengherankan jika jejak diaspora Bugis dapat ditemukan di berbagai wilayah Nusantara dan Asia Tenggara. Komunitas Bugis tumbuh di Kalimantan, Sumatra, Riau, Malaysia, hingga berbagai kawasan maritim lainnya.

Tradisi mobilitas “Pasompe’ ” tersebut menunjukkan bahwa laut bagi masyarakat Bugis-Makassar bukanlah penghalang, melainkan jalan penghubung antarmanusia dan antarkebudayaan. Kajian tentang diaspora Bugis menggambarkan pasompe’ sebagai orang yang meninggalkan kampung halaman untuk membangun kehidupan baru, sekaligus membawa kemampuan beradaptasi dalam bidang ekonomi, politik, perdagangan, dan kehidupan sosial.

Di sinilah sompe’ dapat dibaca sebagai sebuah filosofi keberanian. Tidak semua manusia mampu meninggalkan ruang yang telah dikenalnya. Merantau berarti bersedia memasuki ketidakpastian. Seorang pasompe’ harus siap menghadapi bahasa baru, kebiasaan baru, masyarakat baru, bahkan kemungkinan kegagalan. Namun justru dari ketidakpastian itulah lahir kemampuan manusia untuk berkembang.

Tradisi sompe’ mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu menunggu manusia di tempat asalnya. Kadang-kadang manusia harus bergerak untuk menemukan peluang. Dalam banyak narasi budaya yang berkembang, tradisi sompe’ tidak dapat dilepaskan dari konsep siri’. Harga diri dan martabat menjadi salah satu kekuatan psikologis yang mendorong seseorang untuk berusaha memperbaiki kehidupannya, dengan jalan keluar dari kampungnya untuk merebut kehidupan yang lebih baik.

Seorang perantau tidak ingin hidup sebagai beban. Ia membawa keinginan untuk berhasil, memperoleh penghidupan, dan menjaga kehormatan dirinya. Karena itu, dalam konteks ini, sompe’ dapat dipahami sebagai bentuk perlawanan terhadap keterbatasan. Ketika ruang ekonomi atau sosial di kampung halaman tidak memberikan cukup kesempatan, seseorang memilih bergerak mencari kemungkinan baru.

Tetapi sompe’ bukan sekadar meninggalkan persoalan. Ia menuntut tanggung jawab. Seorang pasompe’ harus mampu membuktikan bahwa dirinya dapat hidup mandiri. Ia harus bekerja, membangun hubungan, memahami masyarakat baru, dan menjaga nama baik keluarganya.

Oleh sebab itu, keberhasilan seorang perantau dalam tradisi Bugis-Makassar tidak selalu hanya diukur dari jumlah harta yang diperoleh. Kemampuan menjaga martabat, membangun jaringan, dan tetap memiliki hubungan baik dengan masyarakat asal maupun masyarakat tempat tinggal juga merupakan bagian dari keberhasilan. Dalam pengertian tersebut, sompe’ adalah proses pendewasaan manusia.

***

Dalam berbagai pappaseng to riolo, dikenal ungkapan tentang tiga ujung yang menjadi bekal bagi orang yang bepergian atau merantau, yaitu Cappa lila, cappa laso (cappa gajang), cappa badi’. Tiga ujung tersebut dapat dibaca sebagai tiga strategi kebudayaan. Pertama, manusia harus mampu menggunakan kata-kata. Kedua, manusia harus mampu membangun hubungan sosial dan kekerabatan. Dan Ketiga, manusia harus memiliki keberanian untuk mempertahankan prinsip dan martabat.

Kajian akademik mengenai tallu cappa menjelaskan tiga unsur tersebut sebagai bagian dari strategi adaptasi sosial masyarakat Bugis-Makassar, khususnya dalam konteks diplomasi, perkawinan, dan keberanian. Namun, penting untuk memahami tallu cappa secara kontekstual. Ia lahir dari masyarakat tradisional yang hidup dalam lingkungan politik dan sosial yang berbeda dengan masyarakat modern. Karena itu, pembacaannya hari ini harus bersifat kritis dan etis.

Ujung pertama adalah cappa lila, ujung lidah. Dalam pengertian sederhana, lidah adalah alat berbicara. Tetapi dalam filsafat tallu cappa, lidah melambangkan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu kecerdasan, diplomasi, komunikasi, negosiasi, dan kemampuan mengambil hati manusia. Seorang perantau pertama-tama tidak datang ke tempat baru dengan kekerasan. Ia datang dengan kata-kata.

Seorang pasompe’ haruslah mampu memperkenalkan dirinya dengan baik dan bijak. Ia harus memahami cara berbicara dengan masyarakat. Ia harus mampu membangun kepercayaan. Ia harus tahu kapan berbicara dan kapan mendengarkan. Inilah makna mendalam cappa lila.

Dalam konteks modern, cappa lila dapat diterjemahkan sebagai kemampuan komunikasi interpersonal dan kecerdasan sosial. Seorang pengusaha membutuhkan cappa lila untuk bernegosiasi. Seorang pemimpin membutuhkan cappa lila untuk membangun kepercayaan. Seorang akademisi membutuhkan cappa lila untuk menyampaikan gagasan.

Seorang pasompe’ membutuhkan cappa lila agar tidak menjadi orang asing selamanya. Kemampuan berbicara bukan berarti banyak bicara. Dalam kebudayaan Bugis-Makassar, kecakapan lidah seharusnya disertai dengan lempu’, yakni kejujuran. Karena lidah dapat membangun persaudaraan, tetapi juga dapat menghancurkan hubungan. Cappa lila adalah kekuatan pertama yang harus digunakan manusia: menyelesaikan persoalan melalui komunikasi sebelum memilih konfrontasi ataukah untuk menghindari konfrontasi.

Ujung kedua adalah cappa laso, sebuah istilah yang secara harfiah merujuk pada organ seksual laki-laki. Dalam konteks kebudayaan, maknanya tidak boleh dibaca secara vulgar atau sempit. Cappa laso merupakan simbol perkawinan dan pembentukan hubungan kekerabatan.

Inilah salah satu strategi sosial yang sangat penting dalam sejarah masyarakat Bugis-Makassar. Ketika seseorang datang ke daerah baru, ia bukan hanya dapat menjadi pendatang yang hidup terpisah dari masyarakat setempat. Melalui perkawinan yang sah dan diterima secara adat, ia dapat membangun ikatan keluarga.

Perkawinan kemudian menjadi jembatan kebudayaan. Melalui hubungan keluarga, seorang pendatang memperoleh jaringan sosial baru. Anak-anak yang lahir dari perkawinan tersebut menjadi penghubung antara dua kelompok. Hubungan ekonomi dapat berkembang menjadi hubungan kekeluargaan.

Dalam sejarah migrasi dan politik Bugis, perkawinan sering kali memiliki peranan penting dalam membangun hubungan antarkerajaan dan antarkelompok. Sejumlah kajian sejarah bahkan menunjukkan bagaimana jaringan kekuasaan dan hubungan sosial diperkuat melalui perkawinan, sehingga membentuk jaringan genealogis sekaligus jaringan politik.

Di sinilah pandangan penulis mengenai tallu cappa ini, diperoleh relevansi yang menarik. Dalam pembacaan terhadap tradisi Bugis-Makassar, tallu cappa tidak semata-mata dipahami sebagai tiga instrumen individual, melainkan sebagai strategi kebudayaan masyarakat Bugis-Makassar dalam memperluas hubungan sosial, kekerabatan, perdagangan, dan usaha. Cappa laso, dalam konteks ini, dapat dibaca sebagai kemampuan memperluas jaringan melalui perkawinan.

Perkawinan tidak hanya menyatukan dua individu. Dalam masyarakat tradisional, perkawinan menyatukan keluarga, kelompok, bahkan jaringan sosial yang lebih luas. Dari hubungan kekerabatan dapat tumbuh kepercayaan, jaringan perdagangan, kerja sama ekonomi, hubungan politik, dan solidaritas sosial. Dalam bahasa modern, cappa laso dapat dibaca sebagai modal sosial melalui kekerabatan, tentu dengan penegasan bahwa perkawinan harus dipahami secara etis, sukarela, sah, dan tidak boleh direduksi menjadi alat eksploitasi.

Terakhir, Cappa Badi’ atau Cappa Kawali. Badik dalam kebudayaan Bugis-Makassar bukan sekadar senjata. Ia merupakan simbol identitas, keberanian, kehormatan, dan kesiapan mempertahankan diri. Namun, dalam pembacaan modern, cappa badi’ tidak seharusnya dimaknai sebagai ajakan untuk menyelesaikan persoalan dengan kekerasan. Sebaliknya, nilai yang dapat diwarisi adalah keberanian.

Memegang Badik berarti Ada komitmen keberanian untuk mempertahankan kebenaran dimanapun berada. Keberanian menolak penghinaan. Keberanian menghadapi ketidakadilan. Keberanian mempertahankan prinsip. Jika cappa lila adalah kecerdasan komunikasi, dan cappa laso adalah kecerdasan membangun kekerabatan, maka cappa badi’ adalah simbol ketegasan karakter.

Dalam konteks masyarakat modern, seseorang tidak perlu membawa badik untuk menunjukkan keberanian. Seorang guru dapat menggunakan ilmu sebagai keberanian. Seorang jurnalis menggunakan pena. Seorang akademisi menggunakan argumentasi ilmiah. Seorang pemimpin menggunakan ketegasan moral. Karena itu, badik dapat dibaca pula sebagai simbol “ujung ketegasan”.

Pandangan ini penting agar kebudayaan tidak disalahpahami. Warisan budaya harus dibaca sesuai konteks zamannya, kemudian diterjemahkan kembali untuk menjawab persoalan masa kini. Beginilah pembacaan penulis mengenai tallu cappa sebagai upaya menempatkan falsafah tersebut dalam konteks yang lebih luas, bukan hanya sebagai bekal individu untuk merantau, tetapi sebagai strategi masyarakat Bugis-Makassar dalam membangun jejaring kehidupan.

Sejarah menunjukkan bahwa keberhasilan pasompe’ (diaspora) Bugis-Makassar dalam berbagai wilayah tidak semata-mata terjadi karena kemampuan berlayar. Kemampuan berlayar hanya memungkinkan mereka mencapai tempat baru. Yang membuat mereka mampu bertahan adalah kemampuan membangun hubungan. Di sinilah tallu cappa bekerja.

Dengan cappa lila, mereka membangun komunikasi dan kepercayaan. Dengan cappa laso, mereka memperluas kekerabatan. Dengan cappa badi’, mereka menunjukkan keberanian mempertahankan kehormatan dan kepentingan ketika menghadapi ancaman. Ketiga unsur tersebut membentuk sebuah strategi sosial yang sangat kuat.

Dalam perdagangan, kepercayaan merupakan modal utama. Dalam politik, diplomasi merupakan kekuatan. Dalam masyarakat, kekerabatan menciptakan solidaritas. Dalam menghadapi ancaman, keberanian menjadi pertahanan. Tidak berlebihan apabila tallu cappa dibaca sebagai sebuah bentuk kecerdasan sosial masyarakat Bugis-Makassar.

***

Hari ini dunia telah berubah. Seorang Bugis tidak harus menaiki perahu layar untuk menjadi pasompe’. Mahasiswa yang meninggalkan Sulawesi untuk belajar di Jawa adalah pasompe’. Pekerja yang pergi ke Kalimantan adalah pasompe’. Akademisi yang mengikuti konferensi internasional adalah pasompe’. Pengusaha yang membuka jaringan bisnis lintas daerah juga menjalankan semangat sompe’.

Laut telah berubah menjadi jalan raya, pesawat terbang, internet, dan jaringan digital. Tetapi prinsip kebudayaannya tetap relevan. Generasi modern membutuhkan Cappa lila dalam bentuk kemampuan komunikasi dan literasi. Cappa laso dalam bentuk kemampuan membangun jaringan sosial dan kekerabatan yang sehat. Cappa badi’ dalam bentuk keberanian moral, ketegasan, dan kemampuan mempertahankan prinsip tanpa mengedepankan kekerasan.

Dengan demikian, falsafah lama tersebut tidak kehilangan relevansinya. Ia justru dapat menjadi modal karakter dalam menghadapi dunia global. Tradisi sompe’ dan falsafah tallu cappa menunjukkan bahwa kebudayaan Bugis-Makassar memiliki konsepsi yang mendalam tentang manusia dan kehidupannya.

Manusia tidak dilahirkan hanya untuk tinggal dalam ruang yang telah dikenalnya. Ia harus berani bergerak, mencari pengalaman, memperluas pengetahuan, dan membangun kehidupan. Namun perjalanan tidak cukup hanya dengan keberanian. Seorang perantau membutuhkan kecerdasan berbicara, kemampuan membangun persaudaraan, dan ketegasan menjaga martabat. Inilah esensi dari tallu cappa.

Jadi, tradisi sompe’ dapat dipahami sebagai ekspresi mobilitas dan keberanian masyarakat Bugis dalam menghadapi dunia yang lebih luas. Sementara tallu cappa dapat dipahami sebagai kecerdasan strategis masyarakat Bugis-Makassar dalam membangun komunikasi, memperluas jaringan kekerabatan, serta mengembangkan hubungan sosial dan usaha.

Pada akhirnya, sompe’ bukan hanya perjalanan meninggalkan kampung. Ia adalah perjalanan membentuk manusia. Dan tallu cappa bukan hanya tiga ujung. Ia adalah tiga kecakapan hidup: kecakapan berbicara, kecakapan membangun hubungan, dan keberanian mempertahankan martabat.

Apabila diterjemahkan ke dalam bahasa zaman sekarang, seorang pewaris kebudayaan Bugis-Makassar sesungguhnya tidak harus membawa badik di pinggang untuk menjadi penerus nilai leluhur. Yang lebih penting adalah membawa ketajaman pikiran, keluhuran komunikasi, kemampuan membangun persaudaraan, semangat bekerja keras, serta keberanian moral untuk menghadapi dunia.

Dengan demikian, pesan sompe’ tetap hidup dari generasi ke generasi: Berlayarlah mencari kehidupan, tetapi jangan kehilangan jati diri. Bergaullah dengan dunia, tetapi jangan kehilangan martabat. Bangunlah hubungan seluas mungkin, tetapi tetaplah menjadikan kemanusiaan sebagai dasar dari setiap perjalanan.

Demikian catatan singkat ini. Semoga bermanfaat adanya. Salamakki Tapada’ Salama’. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pimred Palontaraq/Pemerhati Sosial Budaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT