Oleh: Etta Adil *)
PALONTARAQ.ID – Puisi Akrostik ini disusun dan dirangkai atas nama “Aqila Sadira Dewi”, sosok santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep asal Bantimurung, Maros. Puisi ini menyampaikan bahwa keceriaan, kecerdasan, dan akhlak yang baik dapat berjalan seiring dengan prestasi dan mimpi besar.
Sosok Aqila dalam puisi akrostik ini digambarkan sebagai santriwati yang memancarkan kepribadian positif. Senyum manis dan sifat periang menjadi kekuatan sosial yang menumbuhkan empati, kepemimpinan, dan kepercayaan diri.
Dari Bantimurung menuju Mimpi Mulia
Aura cerah terpancar dari senyum manisnya,
Qalbu periang menyapa siapa saja tanpa jarak,
Inteligensinya terasah di bangku pesantren,
Lincah langkahnya, mungil tubuhnya, besar semangatnya,
Asal Bantimurung, Maros—indah seperti senyumnya.
Santriwati aktif berorganisasi, tangguh dan terlatih,
Amanah pernah dipikul sebagai wakil ketua OSIS,
Daya pikirnya cemerlang, siswi eligible yang membanggakan,
Irama tubuhnya menyatu dengan seni tari,
Riang ia melangkah, percaya pada potensi diri,
Arah masa depan dijemput dengan ikhtiar dan doa.
Dedikasinya tumbuh bersama mimpi yang luhur,
Empati dan kepedulian disemai sejak dini,
Wawasan luas menuntunnya memilih jalan pengabdian,
Ia bercita-cita menjadi dokter—menyembuhkan, mengabdi, dan menginspirasi.
***
Puisi akrostik ini mengajarkan bahwa santriwati itu mampu memimpin dan berprestasi, baik akademik maupun non akademik. Sosok Aqila Sadira Dewi turut membuktikannya.
Keaktifannya dalam organisasi serta amanah sebagai wakil ketua OSIS menunjukkan kapasitas kepemimpinan dan tanggung jawab. Pun ia mampu menyeimbangkan seni, intelektualitas, dan spiritualitas.
Kepiawaian menari berpadu dengan kecerdasan akademik dan nilai pesantren, melahirkan pribadi yang utuh, berani menata masa depan dengan cita-cita mulia. Impian menjadi dokter mencerminkan panggilan pengabdian—menolong sesama dengan ilmu dan empati. Intinya, puisi ini menegaskan bahwa langkah boleh mungil, senyum boleh sederhana, tetapi mimpi dan tekad mampu menjangkau masa depan yang besar. (*)
Minasatene-Pangkep, 3 Desember 2025
(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.


