BerandaLiterasiPuisi: Akar Kata yang Tertunda

Puisi: Akar Kata yang Tertunda

Oleh: Etta Adil *)

PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik yang disusun dan dirangkai atas nama “Aliatunnisya” ini menyampaikan pesan bahwa prestasi dan kecerdasan seseorang tidak selalu berjalan lurus dengan perjalanan pendidikannya. Kadang ada keadaan di luar kendali—keluarga, takdir, atau alasan yang belum bisa diungkap—yang membuat langkah harus berhenti sementara.

Namun penghentian itu bukan akhir dari makna diri, sebagaimana dalam ilmu shorof sebuah kata boleh berubah bentuk tetapi akar katanya tetap ada. Begitu pula Aliatunnisa: ilmu, adab, dan potensinya tetap melekat, dan selalu ada harapan untuk melanjutkan perjalanan di masa depan.

Akar Kata yang Tertunda

(1)

Awal langkahnya laksana fi’il madhi, penuh jejak prestasi
Lurus niatnya seperti wazan fa‘ala, tertata dan pasti
Ilmu dirangkai bagai perubahan shorof, dari akar menjadi arti
Adabul ‘ilmi ia jaga, sebagaimana huruf menjaga makna diri
Tekun menghafal, menulis, dan memahami setiap bina’ yang dilalui
Usahanya bersinar seperti isim fa’il, pelaku kebaikan sejati
Namun takdir beralih seperti tashrif yang tak selalu tetap di hati
Nama baiknya tinggal di dinding kelas dan doa para santri
Ia terhenti bukan karena lemah, melainkan rahasia yang belum terurai
Seperti fi’il mudhari’ yang tertunda, harapnya masih hidup di sanubari
Akan tiba masa ia kembali, sebagaimana kata kembali ke akar sejati

(2)

Akar namanya ibarat fi’il tsulatsi, sederhana namun kuat
Langkahnya tumbuh seperti ziyadah huruf, menambah makna dan martabat
Ia berprestasi, bagai perubahan wazan yang meluaskan arti kata
Akal dan adabnya seimbang, seperti harakat yang menjaga bunyi bahasa
Tiap ujian ia lewati seperti tashrif yang berulang tanpa lelah
Umur mudanya di pesantren terukir bagai pola yang indah
Namun suatu hari perubahan datang seperti i‘lal yang tak terduga
Niat belajar terhenti, alasan keluarga masih tersimpan rapi di dada
Ibarat kata yang belum selesai ditulis dalam kitab kehidupan
Semoga kelak tersambung lagi, menemukan bentuk paling sempurna
Aliatunnisa tetap bermakna, meski sementara terpisah dari lembar pendidikan.

***

Kedua puisi akrostik ini selaras dengan tema shorof (perubahan bentuk kata) yang dijadikan metafora perjalanan hidup—bahwa hidup, seperti kata dalam ilmu shorof, bisa berubah bentuk namun tetap memiliki akar makna yang sama.

Intinya, puisi menegaskan bahwa nilai seseorang tidak hilang hanya karena jeda pendidikan; perubahan hanyalah bagian dari proses menuju bentuk yang lebih utuh. (*)

 

Minasatene-Pangkep, 13 November 2025

(* Muhammad Farid Wajdi, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT