Oleh: Etta Adil
PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik ini disusun dan dirangkai atas nama “Nurhalisa” yang menyampaikan bahwa perjalanan hidup di perantauan dapat menjadi sumber ketangguhan, bukan penghalang masa depan.
Sosok Nurhalisa digambarkan sebagai santriwati yang mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan, dari negeri rantau kembali ke tanah air untuk melanjutkan pendidikan, menjadikan perjuangan orang tua sebagai motivasi, bukan beban serta memanfaatkan peluang beasiswa sebagai jembatan harapan, hasil dari ketekunan dan doa.
Resiliensi di Dua Negeri
(1)
Nyala harapnya tak padam meski angin rantau berulang datang,
Ulet bertahan di negeri jiran, belajar menanam mimpi di tanah asing,
Rindu kampung halaman ia ubah menjadi energi untuk pulang.
Harapan beasiswa ADEm menjadi jembatan repatriasi,
Akar keluarganya dari Cempa Bone tetap menautkan arah,
Langkah SMA di tanah air bagai tunas yang kembali ke kebun asal.
Ikhtiar orang tua TKI terpatri sebagai pelajaran keteguhan,
Semangat adaptasi ia rawat lewat kegiatan dan bakti,
Akhirnya Nurhalisa tumbuh—resilien, lentur namun tak patah.
(2)
Napas panjang perjalanan hidupnya dimulai dari Serawak,
Ujian jauh dari tanah kelahiran tak membuatnya kehilangan arah,
Riwayat belajar di CLC Wilmar Segarmas menjadi fondasi baja.
Hari-hari barunya di pesantren adalah latihan menyesuaikan diri,
Aktivitas Palang Merah Remaja menajamkan empati dan keberanian,
Luka rindu orang tua ia balut dengan disiplin dan doa.
Identitas perantau ia jadikan sayap, bukan beban,
Setiap perubahan diterima sebagai peluang tumbuh,
Arah hidupnya jelas—kembali, belajar, lalu memberi cahaya.
***
Intinya, puisi ini menegaskan bahwa ketangguhan hidup lahir dari kemampuan menerima perubahan, menghargai perjuangan keluarga, dan terus melangkah maju tanpa melupakan asal-usul. (*)
Minasatene-Pangkep, 3 November 2025
(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.


