BerandaLiterasiPuisi: Membaca Diri dengan Tartil

Puisi: Membaca Diri dengan Tartil

Oleh: Etta Adil *)

PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik ini disusun dan dirangkai atas nama “Haika Blinsia Tenri Betta” yang menggambarkan sosok santriwati teraktif. Hidup perlu dijalani dengan keteraturan dan kesadaran, seperti hukum tajwid (izhār, ikhfa’, idghām, iqlāb, qalqalah), setiap fase hidup menuntut sikap yang tepat: kapan tegas, kapan menyatu, kapan menahan, dan kapan bergetar namun tetap teguh.

Membaca Diri dengan Tartil

Harf hidupnya terjaga seperti izhār—jelas niat dan langkah,
Asal Bone–Pangkep berpadu dalam darah dan budaya,
Ikhfā’ rindu pada dua ibu disimpan lembut dalam doa,
Ketika berpuisi, suaranya lantang—pernah juara, pernah bersinar,
Adab santriwati IMMIM terpatri sejak awal menuntut ilmu.

Bacaan hidupnya idghām—menyatu dalam organisasi,
Lincah di OSIS, mencintai teknologi informasi dan komunikasi,
Ilmu dipeluk, kreativitas dijahit dalam video dan gagasan,
Niat tampil pernah diuji di panggung fashion show,
Seleksi paskibraka kabupaten dilalui dengan disiplin,
Istiqamahnya mengantar gelar santriwati teraktif,
Aktif tanpa melupakan sopan dan etika.

Tartīl langkahnya terukur, kelas tiga SMA jadi saksi,
Entah di mimbar duta santri atau ruang diskusi,
Nun mati kehidupannya penuh iqlāb—berubah jadi kematangan,
Rasa ingin tahu menuntunnya menyelami akar budaya daerah,
Insaf bahwa jati diri adalah ilmu yang harus dipahami.

Bersyahadat pada proses, tak lompat dari satu huruf ke huruf lain,
Elokkah hidupnya qalqalah—bergetar saat diuji, namun tetap tegak,
Tekadnya kuat, meski jalan panjang menanti,
Tumbuh sebagai santriwati berprestasi dan adaptif,
Akhirnya, seperti bacaan yang benar, hidupnya ingin dibaca indah dan bermakna.

***

Minasatene-Pangkep, 8 Desember 2025

(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT