Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Kerancuan Tahun di Prasasti
PALONTARAQ.ID – Apa dan bagaimana itu Penelitian Kualitatif dengan Pendekatan Sejarah? Atau adakah yang pernah mendengar istilah “Penelitian Kesejarahan”? Ya, Penelitian kualitatif dengan pendekatan sejarah, seringkali disebut pula penelitian sejarah (historical research), Apa itu?
Penelitian Kualitatif dengan Pendekatan Sejarah adalah sebuah metode penelitian yang bertujuan untuk merekonstruksi, memahami, dan menjelaskan peristiwa di masa lampau secara sistematis dan objektif. Metode ini tidak hanya sekadar mengumpulkan dan menceritakan kembali fakta-fakta masa lalu, tetapi juga melakukan analisis kritis untuk menemukan makna, hubungan sebab-akibat, dan tren dari peristiwa tersebut.
Meskipun berfokus pada masa lampau, tujuan utamanya seringkali relevan dengan masa kini, yaitu untuk belajar dari kegagalan dan keberhasilan di masa lampau, memahami asal-usul suatu fenomena, atau memprediksi kemungkinan yang terjadi di masa depan berdasarkan pola historis.
Ini adalah pendekatan kualitatif karena sangat bergantung pada interpretasi data non-numerik, analisis makna, dan pemahaman konteks yang mendalam dari Sumber-sumber sejarah yang ada.
Karakteristik Utama Penelitian Sejarah
Pertama, Bergantung pada Data Masa Lalu
Data penelitian ini sudah ada (terjadi di masa lalu) dan tidak dapat diciptakan atau dimanipulasi oleh peneliti. Sumber data utamanya adalah dokumen, arsip, artefak, dan kesaksian lisan.
Kedua, Fokus pada Analisis Kritis
Inti dari penelitian sejarah adalah kritik sumber. Peneliti harus secara cermat mengevaluasi keaslian (otentisitas) dan kredibilitas (kepercayaan) dari setiap sumber yang ditemukan.
Ketiga, Penekanan pada Konteks
Peristiwa masa lalu tidak dapat dipahami tanpa mengetahui konteks waktu dan tempat kejadiannya. Peneliti harus memahami kondisi sosial, politik, budaya, dan ekonomi pada periode yang dikaji.
Keempat, Interpretatif dan Sintetis
Setelah data diverifikasi, peneliti melakukan interpretasi (penafsiran) dan sintesis (penggabungan) untuk membangun sebuah narasi sejarah yang logis dan dapat dipertanggungjawabkan.
Langkah-langkah dalam Penelitian Sejarah
Menurut para ahli seperti Louis Gottschalk dan Kuntowijoyo, penelitian sejarah memiliki tahapan metodologis yang sistematis. Berikut adalah langkah-langkah utamanya:
1. Heuristik (Pengumpulan Sumber)
Ini adalah tahap awal untuk mencari, menemukan, dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah yang relevan dengan topik penelitian. Sumber sejarah terbagi menjadi dua jenis utama:
- Sumber Primer: Kesaksian langsung dari pelaku atau saksi mata pada saat peristiwa terjadi. Contohnya adalah surat-surat pribadi, catatan harian, dokumen resmi pemerintah (arsip), foto, artefak, laporan rapat, dan wawancara dengan pelaku sejarah (sejarah lisan/oral history).
- Sumber Sekunder: Kesaksian atau analisis dari pihak yang tidak terlibat langsung dalam peristiwa. Sumber ini dibuat setelah peristiwa terjadi dengan merujuk pada sumber-sumber primer. Contohnya adalah buku teks sejarah, artikel di jurnal ilmiah, ensiklopedia, dan biografi yang ditulis oleh sejarawan.
2. Kritik Sumber (Verifikasi)
Ini adalah tahap paling krusial dalam penelitian sejarah untuk menguji keaslian dan kebenaran sumber. Proses ini dibagi menjadi dua:
- Kritik Eksternal (Otentisitas): Menilai keaslian fisik dari sumber. Pertanyaan yang diajukan antara lain:
- Apakah dokumen ini asli atau palsu/turunan?
- Kapan dokumen ini dibuat?
- Di mana dokumen ini dibuat?
- Siapa pembuatnya?
- Terbuat dari bahan apa (untuk menguji usia dokumen/artefak)?
- Kritik Internal (Kredibilitas): Menilai kebenaran dan kepercayaan isi dari sumber tersebut. Pertanyaan yang diajukan antara lain:
- Apakah penulis/saksi memiliki kompetensi untuk memberikan kesaksian?
- Apakah kesaksiannya jujur dan tidak bias?
- Apakah informasinya konsisten dengan sumber primer lain yang sezaman?
- Apa tujuan penulis membuat dokumen tersebut? Apakah ada kepentingan tersembunyi?
Sebuah sumber yang lolos kritik eksternal (asli) belum tentu lolos kritik internal (isinya bisa saja bohong atau bias).
3. Interpretasi (Penafsiran)
Setelah sumber-sumber terverifikasi, peneliti mulai menafsirkan fakta-fakta sejarah yang terkandung di dalamnya. Pada tahap ini, peneliti melakukan analisis dan sintesis:
- Analisis: Menguraikan sumber untuk menemukan fakta-fakta dan makna yang terkandung di dalamnya.
- Sintesis: Menggabungkan fakta-fakta yang relevan dari berbagai sumber menjadi satu kesatuan narasi yang logis dan kronologis.
Di sinilah subjektivitas peneliti mulai berperan, namun harus tetap didasarkan pada bukti yang kuat dan argumen yang rasional. Peneliti menghubungkan satu fakta dengan fakta lainnya untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat.
4. Historiografi (Penulisan Sejarah)
Tahap terakhir adalah menyajikan hasil penelitian dalam bentuk tulisan (karya sejarah), seperti skripsi, tesis, buku, atau artikel jurnal. Penulisan ini harus memenuhi kaidah-kaidah ilmiah:
- Struktur yang Logis: Memiliki pendahuluan (latar belakang, rumusan masalah), pembahasan (paparan hasil penelitian yang didukung bukti), dan penutup (kesimpulan).
- Kronologis: Menyajikan peristiwa secara runut waktu.
- Penggunaan Sitasi: Menyebutkan sumber dari setiap informasi yang disajikan (melalui catatan kaki/footnote) untuk menunjukkan transparansi dan memungkinkan pembaca lain untuk memverifikasi.
- Bahasa yang Jelas dan Ilmiah: Menggunakan bahasa yang mudah dipahami namun tetap formal dan objektif.
Contoh Penerapan
Misalkan seorang peneliti ingin meneliti “Peran Kaum Perempuan dalam Perjuangan Kemerdekaan di Makassar (1945-1949)”.
- Heuristik: Peneliti akan mencari arsip di ANRI, surat-surat pribadi pejuang perempuan, foto-foto lama, koran terbitan zaman itu, dan mungkin melakukan wawancara dengan keluarga atau keturunan dari para pejuang tersebut.
- Kritik: Surat yang ditemukan akan diuji keaslian kertas dan tintanya (eksternal). Isinya akan dibandingkan dengan laporan pemerintah kolonial atau kesaksian lain untuk melihat konsistensinya (internal).
- Interpretasi: Peneliti akan menafsirkan bagaimana peran perempuan tidak hanya di dapur umum, tetapi mungkin juga sebagai kurir, mata-mata, atau bahkan ikut memanggul senjata, lalu menghubungkannya dengan konteks sosial budaya pada masa itu.
- Historiografi: Hasilnya ditulis menjadi sebuah narasi sejarah yang menceritakan kembali perjuangan perempuan Makassar yang selama ini mungkin kurang mendapat perhatian dalam buku-buku sejarah umum.
Secara singkat, penelitian sejarah adalah sebuah disiplin kualitatif yang ketat, metodologis, dan interpretatif untuk merekonstruksi masa lalu secara bertanggung jawab. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Penulis Buku “Sejarah Kekaraengan di Pangkep”, Biografi Perjuangan Andi Burhanuddin dan Andi Mappe-Kapten Harimau Indonesia.


