BerandaHeadlinePresiden Suriah Bassar al-Assad digulingkan. Ini Kronologinya!

Presiden Suriah Bassar al-Assad digulingkan. Ini Kronologinya!

Laporan: Etta Adil

PALONTARAQ.ID – Siapa yang dapat menyangka Presiden Suriah Bashar al-Assad digulingkan dan tumbang. Hal ini terjadi hanya setelah 11 hari serangan pemberontak berlangsung di negeri itu. Adakah bantuan Israel terhadap kelompok pemberontak yang menggulingkan Presiden Bassar al-Assad ini? Lalu bagaimana kronologi?

Pemberontak Suriah yang dipimpin kelompok Islamis Hayat Tahrir al-Sham (HTS) telah menggulingkan Bashar al-Assad, sejak serangan pertama dimulai Aleppo, 27 November lalu. Ini setelah serangan kilat yang dalam waktu kurang dari dua pekan telah membuat kota-kota besar Suriah lepas dari tangan pemerintahan Bassar al-Assad.

Puncaknya, pada perebutan ibu kota Damaskus oleh pemberontak pada hari Ahad kemarin (8/12/2024). Kelompok pemberontak HTS sendiri memang merupakan kelompok yang menguasai sebagian besar wilayah barat laut Idlib dan beberapa bagian dari provinsi tetangga Aleppo, Hama, dan Latakia.

Setelah Aleppo dikuasai, HTS mulai masuk ke Hama di 3 Desember dan menguasai kota itu 5 Desember. Pada Tanggal 7 November, pemberontak menguasai kota Homs dan sehari setelahnya berhasil merebut Damaskus.

Bagaimana cerita perang saudara dan pemberontakan di Suriah ini bermula? Perang saudara Suriah dimulai dengan tindakan keras rezim Presiden Bashar al-Assad terhadap protes anti pemerintah pada tahun 2011. Garis depan sebagian besar tidak berubah selama empat tahun terakhir, hingga pemberontak melancarkan serangan besar-besaran.

Selain itu, minimnya gaji tentara juga menjadi masalah lain sementara banyak pemuda Suriah menghindari wajib militer. Ini membuat rakyat Suriah setengah hati mendukung Presiden Bashar Al-Assad.

“Sejak 2011, tentara Suriah menghadapi pengurangan tenaga kerja, peralatan, dan moral,” kata David Rigoulet-Roze dari Institut Prancis untuk Urusan Internasional dan Strategis merujuk ekonomi Suriah yang carut-marut.

Aron Lund, seorang peneliti di lembaga pemikir Century International, mengatakan kepada AFP pekan ini bahwa faktor utama keberhasilan pemberontak adalah kelemahan rezim dan berkurangnya bantuan internasional untuk Assad yang sangat bergantung pada dukungan militer, politik, dan diplomatik dari sekutu utama Rusia dan Iran.

Pemimpin pemberontak Suriah Hayat Tahrir al-Sham memuji kemenangan mereka sebagai hal yang bersejarah. Ia mengatakan di sebuah masjid bersejarah di Damaskus setelah merebut ibu kota dari kendali pemerintah dalam waktu kurang dari dua pekan.

“Kemenangan ini, saudara-saudaraku, bersejarah bagi kawasan ini,” kata Abu Mohammed al-Jolani, yang sekarang menggunakan nama aslinya Ahmed al-Sharaa, dalam sebuah pidato di Masjid Umayyah. “Pengambilalihan oleh pemberontak juga merupakan kemenangan bagi seluruh negara Islam”, dalam pernyataan video yang dibagikan oleh pemberontak di Telegram.

“Hari ini, Suriah sedang dimurnikan. Kemenangan ini lahir dari Orang-orang yang telah mendekam di penjara, dan para mujahidin (pejuang) telah memutuskan rantai mereka,” tegasnya.

Ditegaskannya bahwa Suriah di bawah Assad telah menjadi tempat bagi “ambisi Iran, tempat sektarianisme merajalela,” mengacu pada sekutu Assad, Iran, dan proksi Lebanonnya, Hizbullah. Saat ia memasuki masjid, kerumunan terlihat menyemangatinya dan meneriakkan dengan kata “Allahu Akbar (Tuhan Maha Besar)”, merujuk video yang tersebar secara daring.

HTS sebenarnya berakar pada cabang Al-Qaeda di Suriah, yang memutuskan hubungan dengannya pada tahun 2016. Dianggap sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Barat, HTS telah berupaya melembutkan citranya dalam beberapa tahun terakhir. HTS beraliran Islam Sunni. Sementara Bahar al-Assad adalah kelompok Syiah.

Sementara itu, lebih dari 900 orang termasuk 138 warga sipil telah tewas sejak pemberontak Suriah melancarkan serangan besar 11 hari lalu, yang berpuncak pada penguasaan mereka atas Damaskus (8/12/2024). Syrian Observatory for Human Rights yang berbasis di Inggris mengatakan bahwa data telah terdokumentasi, sejak serangan awal pemberontak pada tanggal 27 November.

“Ada 910 orang tewas.  Jumlah korban termasuk 138 warga sipil, 380 tentara Suriah dan pejuang sekutu, dan 392 pemberontak,”.

***

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu pada hari Ahad (8/12/2024) mengklaim bahwa digulingkannya Presiden Bashar al-Assad di Suriah sebagai akibat langsung dari tindakan Israel di wilayah tersebut. Berbicara di bawah tekanan domestik yang meningkat atas nasib sandera Israel di Gaza dan pengadilan korupsi, Netanyahu mengatakan pemberontakan terhadap Assad adalah akibat langsung dari pukulan yang telah Israel lakukan terhadap Iran dan Hizbullah, pendukung utama Assad.

Netanyahu memang memperingatkan Assad pada tanggal 27 November lalu, hari dimulainya serangan pemberontak Suriah. Ia mengatakan rezim itu telah  bermain api dengan mendukung Hizbullah dan membantu mentransfer senjata ke Lebanon.

Menurut seorang peneliti di Institut Studi Keamanan Nasional di Tel Aviv, Danny Citrinowicz, meskipun benar Israel membantu memicu berbagai peristiwa di Suriah, pernyataan Netanyahu tak sepenuhnya benar. Jatuhnya Assad merupakan konsekuensi yang tidak diinginkan.

“Jelas bahwa apa yang dilakukan Israel telah menyebabkan hal itu, tetapi saya ragu mereka memiliki strategi untuk melakukannya. Ia tidak pernah tahu bahwa Jolani bermaksud untuk memulai serangan,” kata Citrinowicz, merujuk pada Abu Mohammed al-Jolani, kepala kelompok pemberontak Islamis yang memimpin serangan di Suriah.

Para analis juga menunjuk Rusia, pendukung militer utama rezim Bashat al-Assad, yang teralihkan oleh Ukraina sebagai faktor yang menyebabkan lain. Ini pun sesuatu yang berada di luar kendali Netanyahu.

“Ini seperti domino… Anda menjatuhkan yang pertama lalu yang kedua jatuh dan seterusnya,” menurut pendapat lain, seorang analis di Meir Amit Center dan mantan perwira intelijen militer, Aviv Oreg, yang melihat memang ada pengaruh Israel. “Hizbullah memiliki banyak sekali pasukan di Suriah dan sekarang mereka telah pergi atau pindah,” ujarnya.

***

Iran buka suara atas tumbangnya rezim Presiden Bashar al-Assad. Diplomat utama Iran Abbas Araghchi mengatakan pada hari Ahad (8/12/2024) bahwa presiden Suriah yang digulingkan itu tidak pernah meminta bantuan Teheran untuk melawan pemberontak yang menguasai Damaskus dalam serangan kilat. “Kami tidak pernah diminta bantuan,” kata Araghchi dalam wawancara langsung di televisi pemerintah.

Ia menambahkan bahwa tugas tentara Suriahlah yang seharusnya melawan serangan tersebut. Iran sendiri telah mendukung pemimpin Suriah tersebut dengan penasihat militer selama perang saudara di negaranya selama bertahun-tahun, di mana pasukan gerakan Hizbullah yang didukung Teheran juga mendukung pemerintah Bashar al-Assad.

***

Presiden Suriah Bassar al-Assad dan keluarganya yang digulingkan kini berada di Moskow. Ini dikatakan sumber Kremlin kepada kantor berita Rusia, beberapa jam setelah ia meninggalkan rakyatnya.

Pengumuman itu juga muncul saat Rusia, sekutu utama Bashar al-Assad, menyerukan pertemuan darurat dewan keamanan PBB mengenai situasi yang berubah cepat di negara yang dilanda perang itu. Seorang pejabat Barat juga mengatakan mereka yakin itu kemungkinan besar terjadi dan tidak punya alasan untuk meragukan klaim Moskow.

“Assad dan anggota keluarganya telah tiba di Moskow. Rusia memberi mereka suaka atas dasar kemanusiaan,” sumber itu mengatakan kepada kantor berita TASS dan Ria Novosti.

Di kesempatan yang sama, sumber Kremlin juga mengatakan pemberontak yang menggulingkan Assad dalam serangan kilat menjamin keamanan pangkalan militer Rusia dan lembaga diplomatik di wilayah Suriah. Rusia, pendukung terbesar Assad bersama dengan Iran, memiliki pangkalan angkatan laut di Tartus dan lapangan udara militer di Khmeimim.

Pasukan Moskow terlibat secara militer dalam konflik Suriah pada tahun 2015, memberikan dukungan bagi pasukan Assad untuk menghancurkan oposisi dalam perang saudara berdarah tersebut. “Rusia selalu mendukung solusi politik untuk krisis Suriah. Titik awal kami adalah perlunya melanjutkan negosiasi di bawah naungan PBB,” tambah sumber Kremlin tersebut.

Seorang perwakilan Rusia untuk PBB mengumumkan bahwa Moskow telah meminta pertemuan darurat tertutup Dewan Keamanan PBB mengenai situasi di Suriah pada Senin sore. “Konsekuensi (dari peristiwa di Suriah) bagi negara ini dan seluruh wilayah belum terukur,” kata pejabat tersebut di Telegram. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT