BerandaLiterasiPendekatan Psikologi dalam Pertunjukan Sendratari

Pendekatan Psikologi dalam Pertunjukan Sendratari

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

PALONTARAQ.ID – Sendratari merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang mempertemukan unsur drama, tari, musik, dialog atau narasi, tata artistik, serta ekspresi tubuh dalam sebuah kesatuan cerita. Berbeda dengan drama yang lebih banyak mengandalkan dialog verbal, sendratari menjadikan gerak, ekspresi wajah, musik, komposisi ruang, dan simbol-simbol visual sebagai bahasa utama dalam menyampaikan pesan. Karena itu, sendratari pada hakikatnya bukan hanya persoalan teknik artistik, tetapi juga persoalan manusia dan psikologi.

Di balik sebuah pementasan yang tampak indah di atas panggung, terdapat proses psikologis yang panjang. Ada proses membangun motivasi, memilih pemain, membentuk karakter, mengelola kecemasan, membangun kepercayaan diri, menciptakan kekompakan kelompok, mengatasi konflik, menghafalkan gerakan dan alur cerita, sampai mengelola perasaan setelah pertunjukan selesai.

Kajian psikologi pertunjukan menunjukkan bahwa kecemasan merupakan bagian penting dalam pengalaman seniman ketika menghadapi panggung. Penelitian terhadap penari profesional, misalnya, menunjukkan bahwa kecemasan kognitif dapat lebih dominan daripada kecemasan fisik, sedangkan perasaan kehilangan kendali menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi pengalaman tampil. Dengan demikian, pendekatan psikologi diperlukan bukan untuk “mempsikologisasi” seni secara berlebihan, melainkan untuk memahami manusia yang berada di balik proses penciptaan dan pementasan seni.

Dalam konteks inilah sendratari dapat dipandang sebagai laboratorium psikologi sosial dan psikologi seni. Di atas panggung terdapat individu-individu dengan kepribadian, kemampuan, pengalaman, kecemasan, ambisi, dan harapan yang berbeda, tetapi mereka harus bekerja sebagai satu tubuh artistik.

Psikologi Sejak Tahap Perencanaan

Pendekatan psikologi idealnya sudah dimulai sejak tahap perencanaan. Sebuah pertunjukan tidak cukup dirancang berdasarkan pertanyaan: “Apa yang akan dipentaskan?” Pertanyaan yang sama penting adalah: “Siapa yang akan memainkan?”, “Bagaimana kondisi psikologis pemain?”, dan “Bagaimana karakter kelompok yang akan dibangun?”

Pada tahap awal, sutradara atau koreografer perlu memahami tujuan pertunjukan. Apakah sendratari tersebut ditujukan sebagai hiburan, pendidikan, penyampaian sejarah, promosi budaya, kritik sosial, atau bagian dari ritual dan peringatan tertentu? Tujuan tersebut akan menentukan pendekatan terhadap pemain.

Naskah juga memiliki dimensi psikologis. Cerita yang kuat harus mampu memberikan alasan emosional bagi pemain untuk memahami mengapa sebuah karakter harus marah, sedih, takut, berani, mencintai, berkorban, atau mengambil keputusan tertentu. Pemain yang hanya menghafal dialog, gerakan, dan blocking tanpa memahami dunia batin tokohnya akan cenderung menghasilkan pertunjukan yang mekanis.

Dalam hal ini, penulis naskah memiliki peranan penting. Penulis tidak sekadar menciptakan rangkaian peristiwa, tetapi membangun dunia psikologis tokoh. Narasi harus memberi ruang bagi pemain untuk memahami motivasi karakter sekaligus memberi arah kepada penonton dalam membaca makna pertunjukan.

Hal tersebut relevan dengan peran M. Farid W. Makkulau yang dalam berbagai kegiatan kebudayaan dikenal sebagai budayawan, penulis, serta pihak yang kerap mengambil peran sebagai penulis naskah atau narator dalam pertunjukan sendratari. Dalam perspektif seorang budayawan, naskah sendratari tidak semestinya hanya menjadi teks pertunjukan. Naskah harus menjadi jembatan antara sejarah, kebudayaan, nilai, karakter tokoh, dan pengalaman emosional pemain.

Karena itu, penulis naskah perlu mengenali bukan hanya “apa yang terjadi”, tetapi juga “mengapa tokoh melakukan sesuatu”. Di situlah psikologi tokoh menjadi bagian dari konstruksi cerita.

Pemilihan Personel: Bukan Sekadar Siapa yang Paling Pandai

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam produksi pertunjukan adalah memilih pemain hanya berdasarkan kemampuan teknis. Seorang penari yang sangat baik belum tentu cocok memainkan tokoh tertentu. Demikian pula seorang pemain yang memiliki suara bagus belum tentu memiliki karakter vokal dan psikologis yang sesuai dengan peran narator.

Pemilihan personel seharusnya mempertimbangkan beberapa aspek sekaligus: kemampuan teknis, karakter, kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, daya tahan terhadap tekanan, kemampuan menerima arahan, serta kesesuaian psikologis dengan karakter yang dimainkan.

Misalnya, tokoh seorang raja membutuhkan wibawa, ketegasan, dan kemampuan mengendalikan ekspresi. Tokoh seorang pemuda yang sedang mengalami konflik batin membutuhkan kemampuan menampilkan perubahan emosi. Sementara itu, seorang narator membutuhkan konsentrasi, penguasaan suara, artikulasi, ketenangan, dan kemampuan membangun suasana melalui vokal.

Dengan demikian, casting dalam sendratari sebenarnya merupakan proses psikologis. Sutradara sedang mempertemukan kepribadian pemain dengan tuntutan karakter.

Namun, pemilihan tersebut juga harus menghindari pelabelan terhadap pemain. Seseorang yang pada awalnya pemalu bukan berarti tidak mungkin menjadi pemeran utama. Justru proses seni dapat menjadi ruang pembentukan kepercayaan diri. Penelitian dalam pendidikan tari menunjukkan bahwa latihan keterampilan psikologis dapat diarahkan untuk membangun kohesi kelompok, kepercayaan diri, serta pengelolaan kecemasan.

Pembagian Peran dan Dinamika Kelompok

Setelah pemain dipilih, persoalan berikutnya adalah pembagian peran. Pembagian peran dapat menjadi sumber motivasi, tetapi juga dapat menjadi sumber konflik.

Pemain utama mungkin merasa bangga karena memperoleh kepercayaan, sedangkan pemain yang memperoleh peran pendukung dapat merasa kurang dihargai. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat menciptakan kecemburuan, persaingan tidak sehat, bahkan mengganggu kekompakan kelompok.

Padahal, dalam sendratari tidak ada peran yang benar-benar tidak penting. Pemeran utama tidak akan tampak kuat tanpa pemeran pendukung. Narator tidak dapat membangun suasana tanpa musik. Penari tidak dapat bergerak secara efektif tanpa tata cahaya dan tata panggung. Bahkan kru yang tidak pernah terlihat penonton memiliki kontribusi terhadap keberhasilan pertunjukan.

Karena itu, pendekatan psikologi kelompok perlu dibangun melalui kesadaran bahwa seluruh personel adalah bagian dari satu kesatuan artistik.

Dalam kajian kelompok teater, dinamika sosial anggota dapat tercermin sekaligus dibentuk melalui ekspresi teatrikal di atas panggung. Hubungan antara peran sosial seseorang dan peran dramatisnya dapat saling memengaruhi. Konsep tersebut sangat relevan dalam sendratari karena setiap individu tidak hanya memainkan karakter, tetapi juga menjalankan fungsi sosial di dalam kelompok produksi.

Sutradara perlu menciptakan suasana latihan yang sehat: terbuka terhadap kritik, tetapi tidak merendahkan; disiplin, tetapi tidak represif; serius, tetapi tetap memberi ruang kegembiraan. Pemain harus merasa aman untuk melakukan kesalahan ketika latihan. Sebab, latihan adalah ruang untuk gagal sebelum pertunjukan menjadi ruang untuk berhasil.

Mengelola Kecemasan Menjelang Pentas

Beberapa menit sebelum naik panggung sering menjadi fase paling menegangkan bagi seorang pemain. Denyut jantung meningkat, tangan berkeringat, konsentrasi berubah, napas menjadi lebih cepat, bahkan hafalan yang selama berminggu-minggu dikuasai dapat tiba-tiba terasa hilang.

Kondisi tersebut bukan sesuatu yang selalu harus dianggap sebagai kelemahan. Tingkat ketegangan tertentu justru dapat meningkatkan kewaspadaan dan energi pertunjukan. Masalah muncul ketika kecemasan menjadi terlalu tinggi sehingga mengganggu konsentrasi dan kemampuan mengendalikan tubuh.

Penelitian mengenai pengalaman penari menunjukkan bahwa sebagian bentuk kecemasan dapat dipersepsikan sebagai sesuatu yang membantu, sedangkan kecemasan tertentu justru menghambat penampilan. Rasa kehilangan kendali menjadi salah satu tema penting dalam pengalaman tersebut.

Karena itu, latihan sendratari sebaiknya tidak hanya berisi latihan gerak dan hafalan. Pemain juga perlu dilatih menghadapi situasi panggung. Simulasi pentas, latihan dengan kostum, latihan menggunakan tata cahaya, gladi bersih, latihan menghadapi kesalahan, latihan pernapasan, visualisasi, dan penguatan self-talk dapat membantu pemain mengelola kecemasan.

Studi terhadap mahasiswa seni pertunjukan juga menunjukkan bahwa pendekatan berbasis penerimaan dan komitmen dapat membantu mengurangi keterikatan berlebihan pada pikiran-pikiran cemas, meningkatkan fleksibilitas psikologis, serta membantu peserta menerima gejala kecemasan ketika tampil.

Ketika Tubuh Menjadi Bahasa

Keunikan sendratari terletak pada kemampuan tubuh menyampaikan sesuatu yang tidak selalu dapat dijelaskan dengan kata-kata. Gerakan tangan, posisi kepala, arah pandangan, cara berjalan, kecepatan langkah, perubahan formasi, bahkan diam dapat memiliki makna.

Karena itu, pemain sendratari harus memiliki kesadaran tubuh sekaligus kesadaran emosional. Gerakan yang sama dapat memiliki makna berbeda tergantung konteks psikologis karakter.

Di sinilah kerja penulis naskah, sutradara, koreografer, dan pemain bertemu. Penulis membangun konteks cerita; sutradara mengarahkan interpretasi; koreografer menerjemahkan emosi menjadi gerak; pemain menghidupkan semuanya melalui tubuh.

Sebagai pemerhati budaya, yang seringkali terlibat dalam penulisan dan narasi sendratari, proses semacam ini dapat dipahami sebagai upaya menghidupkan kembali nilai budaya melalui pertunjukan. Sejarah dan budaya tidak cukup hanya diceritakan; ia harus dihadirkan dalam pengalaman emosional penonton.

Narator dalam konteks tersebut tidak sekadar “membaca teks”. Narator adalah penghubung antara panggung dan penonton. Ia membantu penonton memahami konteks waktu, tempat, tokoh, konflik, dan nilai yang sedang dipertunjukkan. Karena itu, narator pun memerlukan penghayatan psikologis terhadap cerita.

Psikologi Setelah Pertunjukan

Pendekatan psikologi tidak berhenti ketika lampu panggung dimatikan. Justru setelah pertunjukan selesai muncul fase penting yang sering diabaikan.

Pemain dapat mengalami rasa lega, bahagia, bangga, kecewa, kosong, bahkan sedih setelah pertunjukan. Ada yang merasa sangat puas karena berhasil memainkan perannya, tetapi ada pula yang terus mengingat kesalahan kecil yang terjadi di panggung.

Penelitian mengenai pengalaman penari dari sebelum hingga sesudah pertunjukan menemukan adanya perjalanan psikologis yang mencakup kecemasan sebelum tampil, pengalaman flow ketika tampil, dan “highs and lows” setelah pertunjukan.

Karena itu, evaluasi pascapentas sebaiknya tidak langsung berubah menjadi forum mencari kesalahan. Evaluasi harus menjadi proses belajar.

Pertanyaan yang dapat diajukan bukan hanya “Apa yang salah?”, tetapi juga “Apa yang berhasil?”, “Apa yang kita pelajari?”, “Bagaimana perasaan pemain?”, “Apa yang membuat kita berhasil mengatasi masalah?”, dan “Apa yang perlu diperbaiki pada pertunjukan berikutnya?”

Pendekatan demikian akan membuat evaluasi menjadi proses penguatan psikologis, bukan penghukuman.

Sendratari sebagai Ruang Pendidikan Karakter

Jika dikelola dengan baik, sendratari sebenarnya merupakan media pendidikan karakter yang sangat kuat. Pemain belajar disiplin karena harus hadir latihan. Mereka belajar tanggung jawab karena kesalahan satu orang dapat memengaruhi keseluruhan pertunjukan. Mereka belajar menghargai orang lain karena setiap bagian memiliki fungsi. Mereka belajar mengendalikan emosi ketika menghadapi tekanan. Mereka belajar menerima kritik dan belajar bangkit dari kegagalan.

Lebih jauh lagi, sendratari mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling menonjol. Sebuah pertunjukan yang baik adalah hasil kerja kolektif.

Dalam konteks kebudayaan Bugis-Makassar, prinsip kebersamaan, siri’ na pacce, sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge dapat menjadi nilai yang diterjemahkan ke dalam proses produksi seni. Nilai budaya tersebut tidak perlu selalu disebutkan secara verbal; ia dapat diwujudkan dalam cara pemain saling menghormati, membantu, mengingatkan, dan menjaga martabat kelompok.

Dengan demikian, pendekatan psikologi dalam sendratari pada akhirnya bertemu dengan pendekatan kebudayaan. Psikologi membantu memahami manusia sebagai individu dan anggota kelompok, sedangkan kebudayaan memberikan kerangka nilai yang mengarahkan bagaimana manusia seharusnya berhubungan dengan sesamanya.

Penutup: Dari Panggung Menuju Kehidupan

Sendratari bukan hanya persoalan apa yang tampak di atas panggung. Ia merupakan perjalanan psikologis yang dimulai sejak gagasan pertama muncul, berkembang melalui penulisan naskah, pemilihan personel, pembagian peran, latihan, konflik, kecemasan, pementasan, hingga evaluasi setelah pertunjukan.

Karena itu, seorang sutradara, penulis naskah, koreografer, narator, dan seluruh kru seyogianya memahami bahwa mereka sedang berhadapan dengan manusia, bukan sekadar “alat produksi pertunjukan”.

Dalam perspektif penulis sebagai pemerhati budaya dan praktisi yang kerap bersentuhan dengan penulisan naskah serta narasi sendratari, seni pertunjukan dapat ditempatkan sebagai medium untuk mempertemukan sejarah, budaya, manusia, dan nilai. Naskah memberikan arah, narasi memberikan konteks, tari memberikan bahasa tubuh, musik membangun suasana, sedangkan pemain memberikan jiwa.

Di titik inilah psikologi menjadi penting. Pertunjukan yang kuat bukan hanya pertunjukan yang indah secara visual, tetapi pertunjukan yang mampu menggerakkan perasaan. Dan sebuah pertunjukan baru mampu menggerakkan perasaan penonton apabila terlebih dahulu mampu menggerakkan perasaan orang-orang yang berada di belakang dan di atas panggung.

Sendratari, dengan demikian, bukan hanya seni memainkan peran. Ia adalah seni memahami manusia. Setiap gerak adalah ekspresi, setiap karakter adalah pengalaman psikologis, setiap konflik adalah proses pembelajaran, dan setiap pementasan adalah perjalanan bersama menuju pemahaman yang lebih dalam tentang manusia dan kebudayaannya. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kabupaten Pangkep/Penulis Naskah dan Narator Beberapa Pertunjukan Sendratari Kolosal di Pangkep. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT