BerandaEdukasiMemaknai Frasa Iman, Takwa, dan Akhlak Mulia dalam Konteks Pendidikan Indonesia yang...

Memaknai Frasa Iman, Takwa, dan Akhlak Mulia dalam Konteks Pendidikan Indonesia yang Bhinneka

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

PALONTARAQ.ID – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, hari ini (30/11/2022), penulis menyempatkan waktu mengikuti Webinar Yayasan Cahaya Guru – Panel 1: Dialog Pendidikan & Keragaman, bertema, “Rekonstruksi Makna Iman, Takwa, dan Akhlak Mulia dalam Konteks Pendidikan Indonesia.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Pendidikan nasional Indonesia memiliki mandat konstitusional untuk membentuk insan yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Namun, dalam implementasinya di ruang kelas yang heterogen, frasa tersebut sering kali mengalami penyempitan makna hanya sebatas formalitas ritualitas agama tertentu.

Laporan ini merangkum pemikiran dari Panel 1 Dialog Pendidikan & Keragaman yang diselenggarakan oleh Yayasan Cahaya Guru, yang bertujuan untuk membedah bagaimana nilai-nilai spiritualitas tersebut dapat menjadi jembatan kebangsaan, bukan justru menjadi sekat pemisah di tengah kebinekaan.

Frasa “Iman, Takwa, dan Akhlak Mulia” merupakan fondasi tujuan pendidikan nasional yang termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, nilai ini diterjemahkan ke dalam dimensi pertama Profil Pelajar Pancasila. Tantangan utamanya adalah bagaimana memastikan nilai ini bersifat inklusif bagi seluruh peserta didik tanpa memandang latar belakang keyakinan.

***

Berdasarkan diskusi panel, terdapat tiga pilar utama dalam memaknai ulang frasa tersebut, yaitu:

Pertama, Iman: Fondasi Spiritualitas yang Menghargai Keberadaan “Yang Lain”. Iman dalam konteks pendidikan publik tidak boleh dipahami sebagai eksklusivisme. Iman harus dimaknai sebagai kesadaran akan hubungan manusia dengan Sang Pencipta yang melahirkan rasa kasih sayang (welas asih). Peserta didik diajak untuk melihat bahwa keimanan seseorang seharusnya berkorelasi positif dengan kemampuannya menghargai perbedaan, karena keragaman dipandang sebagai anugerah atau ciptaan Tuhan yang harus dijaga.

Kedua, Taqwa: Integritas dan Kepatuhan pada Nilai Kemanusiaan. Taqwa sering kali direduksi menjadi ketaatan pada aturan hukum formal agama. Panel menekankan bahwa takwa dalam pendidikan nasional adalah manifestasi integritas. Seseorang yang bertaqwa adalah mereka yang merasa “diawasi” oleh Tuhan sehingga ia tidak menyakiti sesama, jujur, dan adil. Dalam konteks kebinekaan, taqwa berarti ketaatan pada nilai-nilai kebenaran yang melampaui batas-batas primordial.

Ketiga, Akhlaq Mulia: Muara Sosial dari Keimanan. Akhlaq mulia adalah representasi lahiriah dari iman dan takwa. Ini adalah poin kunci dalam dialog keragaman. Akhlaq mulia mencakup: Akhlak beragama (Menghormati ritus orang lain), Akhlak pribadi (Kedisiplinan dan kejujuran), Akhlak kepada sesama manusia (Empati, gotong royong, dan toleransi), serta Akhlak kepada alam (Tanggung jawab ekologis).

Webinar menekankan bahwa sekolah adalah “laboratorium kebinekaan”. Jika makna iman dan takwa diajarkan secara sempit, maka pendidikan agama berisiko memperkuat segregasi sosial. Sebaliknya, apabila ketiga frasa ini dimaknai secara luas, mereka menjadi instrumen untuk: Menangkal Intoleransi (Mengalihkan fokus dari perbedaan doktrin ke persamaan nilai-nilai kemanusiaan) dan Pendidikan Kewargaan (Civic Education), dalam artian membentuk warga negara yang saleh secara pribadi sekaligus saleh secara sosial (sadar hak dan kewajiban).

Jadi, Pendidikan Indonesia yang bhinneka menuntut reinterpretasi frasa “Iman, Takwa, dan Akhlak Mulia” ke arah yang lebih inklusif dan substantif. Guru diharapkan tidak hanya mengajarkan aspek kognitif agama, tetapi juga meneladankan cara beriman yang ramah dan cara bertakwa yang peduli pada keadilan sosial.

Sebagai rekomendasi, webinar ini mengamanatkan agar memperkuat perspektif keberagaman bagi guru lintas mata pelajaran, bukan hanya guru agama, Menyusun materi ajar yang mengekspos kemiripan nilai-nilai etika antar berbagai keyakinan di Indonesia (kurikulum inklusif), dan menciptakan kegiatan sekolah yang memungkinkan interaksi lintas iman untuk membangun empati nyata.

Demikianlah catatan singkat dari hasil webinar Yayasan Cahaya Guru (YCG), Panel 1: Dialog Pendidikan & Keragaman, bertema, “Rekonstruksi Makna Iman, Takwa, dan Akhlak Mulia dalam Konteks Pendidikan Indonesia sebagai suatu refleksi dan rekomendasi. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

(* Muhammad Farid Wajdi, Blogger/Penulis dan Guru di Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT