Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Ada sebuah ironi besar yang sedang berlangsung di hadapan kita: ketika manusia semakin berusaha membuat mesin menjadi manusia, manusia justru semakin menyerupai mesin.
Kita menciptakan kecerdasan artifisial agar mesin dapat berpikir. Kita mengembangkan robot agar mampu mengenali wajah, memahami bahasa, membaca emosi, bahkan merespons kesedihan. Kita membuat algoritma yang mampu memprediksi keinginan manusia sebelum manusia itu sendiri menyadarinya. Mesin kini dapat menulis, menggambar, menerjemahkan, menganalisis, berbicara, dan dalam batas tertentu menunjukkan perilaku yang bagi manusia terasa seperti “memahami”.
Tetapi di saat yang sama, manusia semakin kehilangan sesuatu yang dahulu membuatnya berbeda dari mesin: nurani.
Manusia bekerja semakin cepat, tetapi semakin jarang bertanya untuk apa ia bekerja. Manusia berkomunikasi semakin mudah, tetapi semakin sulit benar-benar mendengarkan. Manusia memiliki semakin banyak informasi, tetapi semakin sedikit kebijaksanaan. Manusia semakin terkoneksi secara digital, tetapi semakin sering merasa sendirian secara batin.
Di sinilah pertanyaan yang menggelisahkan itu muncul: jangan-jangan kita sedang memanusiakan mesin sekaligus memesinkan manusia. Kita hidup diukur dengan Angka. Kita hidup dalam zaman ketika hampir segala sesuatu dapat diukur.
Produktivitas diukur dengan angka. Kinerja diukur dengan target. Popularitas diukur dengan jumlah pengikut. Keberhasilan diukur dengan pendapatan. Kecerdasan diukur dengan skor. Pendidikan diukur dengan indeks prestasi. Bahkan kebahagiaan pun kadang dipamerkan melalui foto, jumlah likes, komentar, dan berbagai indikator digital.
Pelan-pelan manusia belajar memperlakukan dirinya seperti sebuah mesin produksi. Bangun pagi, bekerja, mengejar target, menerima gaji, membayar kebutuhan, memenuhi tuntutan sosial, lalu mengulanginya kembali esok hari.
Senin sampai Jumat bekerja. Akhir pekan digunakan untuk memulihkan tenaga agar Senin kembali bekerja. Kita menyebutnya kehidupan normal. Tetapi apakah benar itu kehidupan? Ataukah sebenarnya kita hanya sedang menjalankan sebuah program?
Seorang pekerja mungkin telah kehilangan kegembiraan dalam pekerjaannya, tetapi tetap bekerja karena kebutuhan. Seorang guru mungkin telah kehilangan ruang untuk mendidik dengan hati karena dibebani administrasi dan target. Seorang mahasiswa mungkin belajar bukan karena haus pengetahuan, tetapi demi transkrip nilai. Seorang seniman mungkin berkarya bukan karena dorongan batin, melainkan karena tuntutan pasar.
Pada titik tertentu, manusia tidak lagi bertanya, “Apakah ini bermakna?” Ia hanya bertanya, “Berapa hasilnya?” Di situlah pemesinan manusia berlangsung.
***
Mesin tidak memiliki kehidupan batin sebagaimana manusia. Mesin tidak merasa kehilangan makna ketika pekerjaannya selesai. Mesin tidak mengalami krisis eksistensial karena targetnya terlalu tinggi. Mesin tidak pulang ke rumah sambil membawa luka psikologis akibat diperlakukan tidak adil. Tetapi manusia bisa.
Ironisnya, sistem kerja modern kadang justru menuntut manusia berperilaku seperti mesin: selalu tersedia, selalu produktif, selalu cepat, selalu responsif, tidak boleh lelah, tidak boleh salah, dan sebisa mungkin tidak membawa persoalan pribadi ke tempat kerja. Manusia akhirnya direduksi menjadi fungsi.
Guru menjadi angka kelulusan. Pegawai menjadi pencapai target. Buruh menjadi tenaga produksi. Dokter menjadi pemberi layanan. Dosen menjadi penghasil publikasi. Siswa menjadi nilai rapor. Bahkan manusia dalam media sosial dapat berubah menjadi sekadar statistik.
Ketika seseorang hanya dihargai berdasarkan fungsi yang dijalankannya, maka manusia perlahan kehilangan martabatnya sebagai manusia. Padahal manusia bukan sekadar apa yang dapat ia hasilkan.
Manusia juga adalah apa yang ia rasakan, apa yang ia yakini, apa yang ia perjuangkan, apa yang ia cintai, apa yang ia sesali, dan bagaimana ia memperlakukan sesamanya.
Mesin Justru Sedang Belajar Menjadi “Manusia” Pada saat manusia kehilangan sisi kemanusiaannya, teknologi justru bergerak ke arah sebaliknya.
Kecerdasan artifisial semakin mampu memahami bahasa manusia. Mesin dapat mengenali pola emosi dalam suara dan tulisan. Sistem komputer dapat menghasilkan karya kreatif. Robot dikembangkan agar dapat berinteraksi secara lebih natural. Teknologi percakapan bahkan mampu memberikan respons yang terasa empatik.
Pertanyaannya kemudian menjadi semakin filosofis: Jika suatu hari mesin mampu berbicara seperti manusia, apakah manusia masih mampu berbicara dari hati? Jika mesin dapat menghasilkan puisi, apakah manusia masih mampu merasakan keindahan puisi?
Jika mesin dapat memberikan nasihat yang terdengar bijaksana, apakah manusia masih mau mendengarkan manusia lain? Jika mesin dapat mengenali wajah yang sedih, apakah manusia masih cukup peduli untuk bertanya, “Kamu baik-baik saja?” Jika mesin dapat membuat karya seni, apakah manusia masih memiliki kegelisahan kreatif yang mendorongnya mencipta?
Ancaman terbesar teknologi mungkin bukan bahwa mesin menjadi terlalu pintar. Ancaman yang lebih serius adalah manusia menjadi terlalu malas untuk menggunakan kemanusiaannya sendiri.
Kita sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang luar biasa: memberikan mesin kemampuan yang dahulu dianggap khas manusia. Kita mengajarkan mesin bahasa. Kita memberinya kemampuan belajar dari data. Kita membuatnya mengenali pola, mengambil keputusan, menciptakan teks, gambar, suara, bahkan melakukan percakapan.
Dalam arti tertentu, kita sedang melakukan “pemanusiaan mesin”. Tetapi istilah tersebut harus dibaca secara kritis. Mesin tidak benar-benar menjadi manusia hanya karena ia mampu meniru perilaku manusia. Ia mungkin mampu mensimulasikan empati, tetapi simulasi empati berbeda dengan pengalaman batin manusia.
Mesin mungkin dapat menghasilkan kalimat tentang cinta, tetapi persoalan filosofisnya adalah: apakah ia mengalami cinta? Ia dapat menjelaskan penderitaan, tetapi apakah ia pernah menderita? Ia dapat menulis tentang kematian, tetapi apakah ia memiliki kesadaran akan kefanaan?
Di sinilah manusia masih memiliki wilayah yang sangat penting: pengalaman subjektif, kesadaran moral, tanggung jawab, dan nurani. Karena itu, persoalannya bukan apakah mesin akan menjadi manusia, melainkan apakah manusia masih mau menjadi manusia. Pemesinan manusia jauh lebih berbahaya daripada pemanusiaan mesin.
Sebab mesin yang semakin canggih tidak dengan sendirinya menjadi ancaman. Ia menjadi ancaman ketika manusia menyerahkan seluruh keputusan kepadanya tanpa pertimbangan moral.
Ketika algoritma menentukan siapa yang layak dipercaya, siapa yang layak bekerja, siapa yang layak memperoleh pinjaman, siapa yang dianggap populer, bahkan siapa yang pantas mendapat kesempatan kedua, maka kita sedang menyerahkan sebagian otoritas kemanusiaan kepada sistem.
Teknologi seharusnya hanya menjadi alat. Tetapi ketika alat berubah menjadi penentu nilai manusia, maka persoalan menjadi serius. Kita harus bertanya: siapa yang mengendalikan teknologi, dan untuk nilai apa teknologi itu digunakan?
Sebab teknologi tidak memiliki moralitas sendiri. Manusialah yang menentukan apakah teknologi digunakan untuk membebaskan atau mengendalikan, menyembuhkan atau mengeksploitasi, mendidik atau memanipulasi. Karena itu, pendidikan teknologi tanpa pendidikan nurani dapat menghasilkan generasi yang sangat cerdas tetapi sangat berbahaya.
***
Di Masa Depan, Pekerjaan-pekerjaan tertentu akan semakin banyak dilakukan mesin. Administrasi rutin, analisis data tertentu, produksi konten, penerjemahan, layanan pelanggan, hingga sejumlah pekerjaan profesional akan mengalami perubahan besar. Tetapi justru di tengah perkembangan tersebut, nilai manusia akan semakin bergeser.
Kemampuan menghafal informasi mungkin semakin kurang penting karena mesin dapat menyimpan dan mengakses informasi dalam jumlah luar biasa. Kemampuan menghasilkan teks atau gambar mungkin tidak lagi menjadi keunggulan eksklusif manusia.
Yang semakin berharga justru hal-hal yang tidak mudah direduksi menjadi algoritma: kebijaksanaan, empati, keberanian moral, tanggung jawab, kreativitas yang bermakna, kemampuan membangun kepercayaan, dan kemampuan menentukan apa yang seharusnya dilakukan.
Dengan kata lain, masa depan bukan sekadar perlombaan antara manusia dan mesin. Masa depan adalah ujian bagi kemanusiaan manusia. Kita akan diuji bukan oleh seberapa pintar mesin yang kita ciptakan, tetapi oleh seberapa bijaksana kita menggunakan kepintaran itu.
Ada kemungkinan yang sangat ironis di masa depan: manusia mungkin merasa nyaman berbicara dengan mesin karena mesin selalu tersedia, tidak cepat marah, mampu memberikan respons, dan bahkan dapat menyesuaikan gaya komunikasi. Sementara manusia semakin kehilangan kesabaran terhadap manusia lainnya.
Kita mungkin lebih mudah mencurahkan isi hati kepada chatbot daripada kepada pasangan. Lebih mudah meminta nasihat kepada mesin daripada kepada orang tua. Lebih nyaman mencari pengakuan dari algoritma daripada membangun hubungan sosial yang nyata.
Jika itu terjadi, maka kita menghadapi paradoks peradaban: mesin semakin menyerupai manusia, sementara manusia semakin kehilangan kemampuan menjadi manusia. Maka pertanyaan paling penting bukanlah, “Apakah AI akan menggantikan manusia?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “Manusia macam apa yang akan tersisa ketika banyak pekerjaan manusia telah dapat dilakukan mesin?”
Jawabannya akan menentukan masa depan peradaban. Jika manusia tetap memelihara nurani, teknologi akan menjadi perpanjangan tangan kemanusiaan. Jika manusia kehilangan nurani, teknologi dapat menjadi perpanjangan tangan keserakahan, kekuasaan, dan ketidakpedulian.
Barangkali kita perlu berhenti sejenak. Berhenti mengejar kecepatan. Berhenti sejenak dari notifikasi. Berhenti mengukur segala sesuatu dengan angka. Berhenti bertanya berapa banyak yang kita hasilkan, dan mulai bertanya untuk siapa dan untuk apa kita menghasilkan sesuatu.
Sebab hidup bukan sekadar produktivitas. Ada waktu untuk bekerja dan ada waktu untuk diam. Ada waktu untuk mengejar sesuatu dan ada waktu untuk mensyukuri sesuatu. Ada saatnya manusia harus menjadi produktif, tetapi ada pula saatnya manusia hanya perlu hadir bagi manusia lain.
Kita perlu kembali mengajarkan kepada anak-anak bahwa kecerdasan bukan hanya kemampuan menjawab pertanyaan, tetapi juga kemampuan mengajukan pertanyaan yang benar. Bahwa pendidikan bukan hanya tentang memperoleh pekerjaan, tetapi tentang menjadi manusia.
Bahwa keberhasilan bukan hanya tentang memiliki lebih banyak, tetapi tentang mampu memberi makna. Bahwa kemajuan teknologi tidak selalu identik dengan kemajuan peradaban. Sebab sebuah masyarakat dapat memiliki teknologi paling maju, tetapi tetap menjadi masyarakat yang miskin kemanusiaan.
Maka, ketika kita menciptakan mesin yang semakin cerdas, jangan lupa menciptakan manusia yang semakin bijaksana. Ketika kita mengajarkan mesin mengenali emosi, jangan sampai manusia lupa mengenali perasaan sesamanya. Ketika mesin belajar berbicara, jangan sampai manusia kehilangan kemampuan mendengarkan.
Ketika mesin belajar membuat keputusan, jangan sampai manusia kehilangan keberanian untuk mempertanggungjawabkan keputusan moralnya. Dan ketika mesin semakin menyerupai manusia, jangan sampai manusia justru bertanya kepada mesin tentang bagaimana caranya menjadi manusia.
Pada akhirnya, masa depan tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling cepat—manusia atau mesin. Masa depan akan ditentukan oleh siapa yang masih memiliki nurani. Sebab mungkin kelak mesin dapat berpikir seperti manusia. Mungkin ia dapat berbicara seperti manusia. Mungkin ia dapat meniru rasa takut, cinta, kesedihan, dan kebahagiaan.
Tetapi selama manusia masih memiliki nurani, masih mampu menangis melihat penderitaan orang lain, masih mampu meminta maaf, masih mampu memaafkan, masih mampu berkorban tanpa imbalan, dan masih mampu bertanya apakah tindakannya benar atau salah, maka manusia belum kehilangan tempatnya.
Karena menjadi manusia pada akhirnya bukan perkara seberapa cerdas kita berpikir, melainkan seberapa dalam kita mampu merasakan dan seberapa bertanggung jawab kita menggunakan kecerdasan itu.
Dan barangkali, itulah tantangan terbesar zaman kita: jangan sampai kita begitu sibuk memanusiakan mesin, hingga lupa memanusiakan manusia. Jangan sampai kita menciptakan mesin yang mampu merasa, sementara kita sendiri berhenti merasa. Jangan sampai kita membuat mesin yang mampu berpikir, sementara kita berhenti mempertanyakan. Dan jangan sampai, pada suatu hari nanti, mesin harus mengingatkan manusia tentang arti menjadi manusia. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.


