BerandaLiterasiUlasan Buku "Pendidikan Yang Berkebudayaan" Karya Yudi Latif

Ulasan Buku “Pendidikan Yang Berkebudayaan” Karya Yudi Latif

Laporan: Muhammad Farid Wajdi *)

PALONTARAQ.ID – Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), pada T.A. 2020 mengadakan bedah buku “Pendidikan yang Berkebudayaan” (Gramedia, 2020) buah karya Dr. Yudi Latif, salah satu anggota Komisi Kebudayaan.

Buku ini menjadi refleksi kegelisahan Yudi Latif atas sistem pendidikan Indonesia yang dinilainya sering kehilangan orientasi budaya. Ia menawarkan konsep pendidikan transformatif yang memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai, karakter, dan kebudayaan—sehingga melahirkan manusia kreatif, otonom, sekaligus berakar pada identitas bangsa.

Mengapa buku ini menjadi penting untuk dibedah? Pertama, tentu Transformatif. Buku ini memberikan arahan selain sekadar akademik—melainkan juga moral dan budaya sebagai inti pembentukan karakter. Kedua, Aktual. Refleksinya sangat relevan bagi dunia pendidikan saat ini yang membutuhkan pembentukan manusia berbudaya dan manusiawi. ketiga, Visi yang luas. Tidak hanya teori, tetapi benar-benar mengajak pembaca untuk membayangkan pendidikan sebagai kekuatan peradaban dan kolektivisme bersama.

Karya-karya Yudi Latif secara konsisten mencerminkan “idealisme historis,” di mana perjalanan sejarah dipandang sebagai perjalanan pemikiran. Struktur buku Pendidikan yang Berkebudayaan cukup yang simetris dan seimbang, dimulai dengan pengenalan konsepsi dan miskonsepsi, kemudian menggali akar pendidikan di Indonesia, dan diakhiri dengan pembahasan konsep pendidikan transformatif untuk bangsa dan dunia.

Buku Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif setebal 424 halaman ini  menjawab pertanyaan mendasar: “Apakah pendidikan dapat dipisahkan dari kebudayaan? Pendidikan harus mengantarkan anak didik untuk tumbuh sesuai kodrat alam dan zamannya.” dengan mengambil inspirasi dari Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan adalah proses pembentukan manusia seutuhnya.

Yudi Latif yang dikenal sebagai pemikir kebangsaan, pendidikan, dan Islam progresif. Ia sering menekankan pentingnya Integrasi pendidikan dan kebudayaan (sebagaimana diwariskan Ki Hadjar Dewantara), Pembentukan manusia seutuhnya, bukan sekadar teknisi atau pekerja, Pendidikan transformatif yang menumbuhkan karakter, etika, dan kemanusiaan serta Revitalisasi Nilai-nilai Pancasila dan identitas budaya dalam sistem pendidikan nasional.

Buku Yudi Latif ini dapat dijadikan semacam “peta jalan” pendidikan transformatif yang menyatu dengan identitas dan nilai budaya bangsa—penting untuk menjaga kualitas manusia dalam peradaban. Paling tidak, demikianlah beberapa pandangan yang mengemuka saat bedah buku secara terbuka oleh Aliansi Kebangsaan dan Suluh Nuswantara Bakti pada November 2020, menekankan pentingnya pendidikan berbasis budaya agar tidak teralienasi dari akar bangsa.

Pendidikan sejatinya adalah usaha memanusiakan manusia secara utuh—membangun cipta, rasa, karsa, dan karya. Tanpa kebudayaan, pendidikan hanya akan menghasilkan teknisi yang kehilangan nurani. Demikian kutipan Yudi Latif dalam bukunya dan bahwa Krisis kebangsaan kita sejatinya adalah krisis pendidikan. Pendidikan yang tercerabut dari akar budaya akan melahirkan manusia yang kehilangan jati diri. 

Untuk itu, menurutnya perlu pendidikan transformatif. Pendidikan berkebudayaan adalah pendidikan transformatif—ia tidak hanya menjejalkan pengetahuan, tetapi menghidupkan nilai-nilai, membentuk karakter, dan menggerakkan kemanusiaan. Yudi menyuarakan perlunya pendidikan yang tidak sekadar kognitif, tapi lebih menanamkan nilai-nilai luhur untuk meredam intoleransi, perundungan, dan kekerasan—terutama dalam era polarisasi sosial.

Yudi Latif berharap integrasi dalam pendidikan itu segera dilakukan. Masalah utama dalam pendidikan di Indonesia adalah pemisahan antara teknologi, matematika, dan aspek budaya, dengan menekankan perlunya integrasi. Karena itu, usulannya tentang “kebijakan asimetris” dalam pendidikan agar mendapatkan perhatian seluruh pemangku kebijakan dan stake-holder pendidikan.

Yudi Latif yang lahir  26 Agustus 1964 di Sukabumi, Jawa Barat ini sangat serius dalam mengulas Pendidikan yang seharusnya “Berkebudayaan”. Pendidikan S1-nya diselesaikan di Universitas Padjadjaran (1990), Jurusan Ilmu Komunikasi, kemudian S2 dan S3 dalam Sosiologi Politik dan Komunikasi, Australian National University (1999 & 2004). Beliau selain aktif di AIPI, juga adalah Deputi Rektor Universitas Paramadina, Direktur Reform Institute, Ketua PSIK-Indonesia (Pusat Studi Islam dan Kenegaraan).

Selain Pendidikan yang Berkebudayaan (2020), Yudi Latif juga menulis sejumlah buku berpengaruh, antara lain: Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila (2011), Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan (2017), Revolusi Pancasila (2015), dan Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad ke-20 (2005). (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT