Dampak Virus Corona, Ujian Nasional 2020 Ditiadakan

by Penulis Palontaraq | Selasa, Mar 24, 2020 | 42 views
Rapat Koordinasi Komisi X via Daring dengan Mendikbud dan jajaran memutuskan meniadakan Ujian Nasional, Senin malam (23/3/2020). (foto: ist/palontaraq)

Rapat Koordinasi Komisi X via Daring (secara online) dengan Mendikbud dan jajaran memutuskan meniadakan Ujian Nasional, Senin malam (23/3/2020). (foto: ist/palontaraq)

Laporan: Etta Adil

PALONTARAQ.ID – Pandemi global virus corona (Covid-19) di ujung masa akhir tahun pelajaran menjadi dilema tersendiri bagi pemerintah. Akhirnya setelah dikaji berbagai opsi ujian bagi siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan kelulusan siswa, mengemuka usulan untuk meniadakan Ujian Nasional (UN) mulai TP 2020 ini.

Hal ini terungkap setelah rapat konsultasi via daring (online) antara anggota Komisi X DPR RI dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim dan jajarannya untuk meniadakan UN di tingkatan sekolah dasar dan menengah.

“Saat ini lagi disiapkan berbagai opsi untuk menentukan metode kelulusan siswa, salah satunya dengan nilai kumulatif dalam rapor, setelah rapat daring dengan Mendikbud dan jajarannya” ungkap Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda, Senin (23/3/2020) malam.

Syaiful Huda juga mengirimkan bukti foto dan video rapat daring tersebut di akun Instagramnya dan seketika viral. Ketua Komisi X DPR RI ini menjelaskan bahwa rapat konsultasi yang digelar pada Senin malam (23/3/2020) menyebutkan bahwa pelaksanaan Ujian Nasional (UN) dari tingkat SMA, SMP, hingga SD ditiadakan.

Kesepakatan tersebut, menurutnya, didasarkan atas penyebaran Covid-19 yang kian masif, baik dari segi jumlah kasus maupun korban. Padahal, jadwal UN SMA harus dilaksanakan pekan depan. Pun begitu dengan UN SMP dan SD yang harus dijadwalkan paling lambat akhir April mendatang.

“Penyebaran wabah Covid-19 diprediksi akan terus berlangsung hingga April, jadi tidak mungkin kita memaksakan siswa untuk berkumpul melaksanakan UN di bawah ancaman wabah Covid-19 sehingga kami sepakat UN ditiadakan,” ujarnya.

Syaiful Huda berharap agar Kemendikbud segera mengkaji opsi pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) sebagai penganti UN. Kendati demikian, menurutnya, opsi tersebut hanya akan diambil jika pihak sekolah mampu menyelenggarakan USBN dalam jaringan (daring).

“Kami sepakat bahwa opsi USBN ini hanya bisa dilakukan jika dilakukan secara daring, karena pada prinsipnya kami tidak ingin ada pengumpulan siswa secara fisik di Gedung-gedung sekolah. Jika USBN via daring tidak bisa dilakukan maka muncul opsi terakhir, yakni metode kelulusan akan dilakukan dengan menimbang nilai kumulatif siswa selama belajar di sekolah,” ungkapnya.

Untuk tingkat SMA dan SMP, maka kelulusan siswa akan ditentukan melalui nilai kumulatif mereka selama tiga tahun belajar. Untuk siswa SD, kelulusan akan ditentukan dari nilai kumulatif selama enam tahun mereka belajar.

Selama ini UN disatu sisi dianggap momok yang menakutkan baik oleh sekolah maupun oleh siswa, tapi disisi lain, tak sedikit pula siswa dan sekolah yang siap sejak awal UN dilaksanakan dalam kondisi apapun.

Salah seorang siswa SMA Kelas XII, Nahdya Magfirah, asal Sekolah SMAS Putri IMMIM Pangkep, yang dikonfirmasi, Selasa (24/3/2020) via Whatsapp mengungkapkan kekecewaannya. “Agak lain-lain rasanya pak, Karena sejak awal kami siap dan menyiapkan diri sepenuhnya untuk Ujian Nasional, tiba-tiba ditiadakan. Jadi, ada rasa sedikit kecewa,” ungkapnya. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response