Inkonsistensi itu Pedih, Prof Machfud!

by Penulis Palontaraq | Selasa, Okt 29, 2019 | 29 views
Machfud MD (foto: ist/palontaraq)

Machfud MD (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha

PALONTARAQ.ID – “Menurut Islam, Kafir itu bukan hanya beda agama. Kafir itu ingkar terhadap kebenaran. Yang suka melanggar hukum (koruptor) juga bisa disebut kafir (ingkar).” [Machfud MD, 13/12/2014]

Saat ini, Machfud MD menjadi Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam). Dia, bukan lagi sekedar begawan BPIP yang bermodal nge-Tweet, membuat berbagai komentar yang sering menyakiti banyak pihak.

Komentar kontroversi terakhirnya, adalah tudingan terhadap Tentara Nasional Indonesia (TNI) ‘kecolongan’ akibat lolosnya enzho alie sebagai Taruna Akademi Militer (Akmil) hanya Kerena foto Enzho berada di sebuah pegunungan membawa bendera tauhid.

Menjabat Menkopolhukam, rupanya tak membuat seorang Machfud MD bisa menakar statement. Kebiasaan berkomentar miring tanpa menimbang respons publik, kembali menuai kritikan publik.

Setelah jualan radikalisme, masjid tidak boleh dijadikan tempat adu domba, Machfud juga melarang melakukan tindakan Takfiri yakni mengkafirkan orang lain tanpa dasar.

Secara normatif, pernyataan ini tidak keliru. Secara konteks politik, pernyataan ini lancang karena dituduhkan kepada Masjid. Seolah, Masjid adalah tempat potensial untuk adu domba, sehingga yang dihimbau hanya Masjid bukan Gereja, Pura, Klenteng atau Wihara.

Larangan takfiri juga memiliki makna bias, dikarenakan :

Pertama, nomenklatur kafir dalam Islam memang diakui dan merupakan bagian dari ajaran Islam. Orang-orang diluar Islam seperti Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghucu, dan lain-lain,  itu statusnya memang kafir.

Membuat klasifikasi Kafir pada orang non Islam adalah sesuai dengan ajaran Islam. Apakah yang demikian lantas disebut Takfiri ?

Kedua, Machfud justru blunder menyebut Takfiri dalam konteks melarang orang lain kafir dengan definisinya yang rancu.

Machfud pernah menyatakan bahwa menurut Islam, Kafir itu bukan hanya beda agama. Kafir itu ingkar terhadap kebenaran. Yang suka melanggar hukum (koruptor) juga bisa disebut kafir (ingkar).

Jika merujuk definisi Machfud ini, maka Suryadharma Ali, Romahurmuzy dan Imam Nahrawi bisa terkategori kafir karena melanggar hukum (korupsi).

Justru, batasan devinisi yang dibuat Machfud MD ini masuk kategori Takfiri, yakni, gampang menuding saudara muslim lainnya sebagai kafir hanya karena melakukan maksiat tertentu (korupsi).

Padahal, Islam melarang menyebut saudara sesama muslim kafir tanpa argurmentasi Syar’i. Seorang muslim meskipun melakukan tindakan korupsi, tidak menjatuhkannya pada status kafir tetapi hanya maksiat, yakni melakukan dosa besar kepada Allah SWT.

Ketiga, larangan Takfiri ini justru mengkonfirmasi sikap Machfud md yang inkonsisten, mencla mencle, isuk dele sore tempe. Machfud MD pernah melakukan Takfiri melalui definisi kafirnya yang terlalu melebar, sebagaima kultwet nya pada tanggal 13 Desember 2014.

Jabatan yang diemban Machfud MD juga merupakan konfirmasi inkonsistensi. Mahfud Md menerima dan dilantik menjadi Menko Polhukam, padahal beberapa bulan sebelumnya, dia mengkritik fungsi Menteri Koordinator, yaitu sebaiknya tidak usah ada posisi Menko.

Sikap Mahfud MD kala itu dituangkan sebagai Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN) Indonesia.

Sikap itu juga dijadikan point hasil Konferensi Nasional Hukum Tata Negara (KNHTN) ke-6 di Jakarta pada 3 September 2019.

Machfud Machfud, begawan BPIP itu seharusnya terbiasa konsisten. Sikap inkonsisten karena mengejar jabatan, itu justru menjatuhkan wibawa Anda. Anda, akan dicatat sebagai profesor yang mencla mence, isuk dele sore tempe. [*]

Like it? Share it!

Leave A Response