Beranda Pesantren Seri Khalifah Daulah Bani Umayyah (4): Marwan bin Hakam

Seri Khalifah Daulah Bani Umayyah (4): Marwan bin Hakam

iLUSTRATED
Ilustrated

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID – Setelah Mu’awiyah II menyatakan berhenti dari khilafah, timbul persoalan pelik diantara penduduk Syam, yaitu tentang siapa yang akan dipilih menjadi Khalifah.

Kesulitan itu adalah perpecahan dikalangan Bani Umayyah, yaitu kelompok yang hendak mengangkat Khalid bin Yazid yang masih kecil dan kelompok yang hendak mengangkat Marwan bin Hakam, seorang yang tertua dalam keluarga Bani Umayyah.

Karena perpecahan inilah khilafah nyaris terlepas dari kekuasaan bani Umayyah. Dalam pada itu Abdulalh bin Zubair semakin luas pengaruhnya.

Ia telah diakui menjadi Khalifah oleh penduduk Hijaz, Irak, Yaman dan Mesir, bahkan sebagian penduduk Syam juga telah ada yang berpihak kepadanya. Akan tetapi Abdullah bin Zubair ini bukanlah seorang ahli siasat yang tajam pandangannya.

Hasyim bin Numair panglima perang Bani Umayyah yang memeranginya di Makkahpun telah datang hendak membai’atnya, asalkan ia suka pindah ke Syam.

Tetapi tawaran itu ditolak oleh Abdullah bin Zubair, karena ia hendak menghidupkan kemegahan dan kebesaran di tanah Hijaz sekali lagi, dengan menjadikannya sebagai pusat khilafah ummat Islam. Dia tidak menyadari bahwa keputusannya itu telah melenyapkan peluang emasnya untuk menjadi Khalifah secara menyeluruh.

Sementara itu Bani Umayyah telah sekata kembali dan kemudian mereka menetapkan Marwan bin al-Hakam menjadi Khalifah pada tahun 64 H. Dengan demikian khilafah telah berpindah dari keturunan Abu Sufyan kepada keturunan Marwan bin al-Hakam, dari belahan suku Umayyah yang lebih besar.

Disini terjadilah perlombaan dua pemimpin besar yaitu Abdullah bin Zubair di Makkah dan Marwan bin al-Hakam di Damaskus.

Pada masa pemerintahan Marwan inilah terjadi huru-hara di negeri Syam. Tetapi berkat kesungguhan dan keteguhan hatinya Marwan bisa mengatasinya dan mengirimkan pasukannya ke Mesir dari tangan walinya yang diangkat oleh Ibnu Zubair.

Marwan hanya memerintah selama 9 bulan, waktu tersebut hanya digunakan untuk menguatkan kedudukannya saja, dan sebelum ia meninggal ia telah menetapkan penggantinya dari dua orang puteranya sebagai Putera Mahkota yaitu Abdul Malik dan Abdul Aziz. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT