Dalam Demonstrasi, Polisi dan Mahasiswa dapat Apa?

Masihkah Polisi, pelindung dan pengayom masyarakat? (foto: ist/palontaraq)

Masihkah Polisi, pelindung dan pengayom masyarakat? (foto: ist/palontaraq)


Oleh: Nasrudin Joha

Tulisan sebelumnya: Rakyat tak Ingin Lengserkan Presiden, hanya minta Jokowi Mengundurkan Diri

PALONTARAQ.ID –  Memang super aneh kebijakan tuan inspektur vijay di negeri ini, kalau membuat Framing opini itu terlalu kasar. Istilahnya, terlalu banyak micin sehingga pencitraannya bukan berbuah apresiasi dan penghargaan tapi justru mendapat cibiran dan olok-olok publik.

Belum lama ini, Tujuh polisi yang disebut menjadi korban lemparan batu demonstran di DPRD Surakarta mendapatkan penghargaan dari Kapolda Jawa Tengah Irjen Rycko Amelza Dahniel. Mereka dinilai telah melakukan tugas pengamanan dengan persuasif dan sabar (1/10).

Mereka adalah Aiptu Yuli Nurusyani, Aipda Bayu Prayudanto, Bripka Dwi Wahyono, Brigadir Endang Widy, Brigadir Wiji Titis, Briptu Diah Ayu Anindita, dan Bripda Joseva Dika Pratiwi.

Kalau kapolda memberi penghargaan kepada anggotanya, bagaimana nasib mahasiswa yang tewas dalam demonstrasi ? Apakah mereka itu dilabeli pemberontak? Perusuh? Perusak bangsa? Apa hanya polisi yang menjalankan tugas? Apa mahasiswa dan Adik-adik pelajar STM itu tidak menjalankan tugas ?

Kurang sabar apa orang tua mahasiswa yang menjadi korban ? Mereka, menyaksikan Puteranya meregang nyawa, tertembak peluru dalam demo yang pengamanannya dibawah kendali kepolisian. Lantas, polisi yang gagal menjaga nyawa mahasiswa ini mendapat penghargaan apa ?

Lalu, bagaimana status puluhan pendemo yang dirawat, ratusan pendemo yang terluka. Apa mereka itu tentara kompeni yang sedang menyerang NKRI, sehingga mereka tak layak dapat apresiasi ? Apa yang layak disebut ‘korban’ dan sedang ‘menjalankan tugas’ itu hanya polisi ?

Sesungguhnya, Mahasiswa dan Adik-adik Pelajar STM juga sedang menjalankan tugas. Mereka, bahkan mengemban tugas mulia, menyuarakan aspirasi rakyat, menjalankan mandat rakyat untuk mengoreksi kekuasan.

Demonstrasi mahasiswa, menyuarakan suara dan aspirasi rakyat. (foto: ist/palontaraq)

Demonstrasi mahasiswa, menyuarakan suara dan aspirasi rakyat. (foto: ist/palontaraq)


Sementara polisi, jika boleh disebut menjalankan tugas, mereka sedang menjalankan tugas melindungi dan mengamankan penguasa. Mereka rela, diadu domba, melontarkan tembakan, berdiri berhadap-hadapan dengan rakyat, berseteru dengan rakyat, hanya untuk melindungi dan menjaga kekuasaan Jokowi.

Sesungguhnya, mahasiswa dan adik-adik STM lah, yang layak memperoleh penghargaan. Mereka, berjuang tanpa dibayar, bergerak atas dorongan nurani, bukan Karen digaji. Sementara polisi, bertugas menjaga kekuasaan mendapatkan gaji, tunjangan, dan fasilitas negara.

Gaji, tunjangan, fasilitas, bahkan senjata dan peluru yang dibiayai dari keringat rakyat justru digunakan untuk menembaki rakyat. Mereka, yang seharusnya menjadi pelindung, pelayan dan pengayom masyarakat justru berubah menjadi bengis dan kejam.

Menghadapi rakyatnya seperti musuh, yang harus dilumpuhkan baik dalam keadaan hidup atau sudah tak bernyawa.

Pemberian penghargaan kepada polisi -hanya terkena lemparan batu- ini tidak sensitif. Tidak merasakan suasana kebathinan rakyat yang sedih dan marah atas meninggalnya mahasiswa, dan ratusan korban lainnya akibat demo.

Polisi, telah memposisikan diri sebagai pahlawan serta secara sengaja implisit menuding gerakan protes terhadap rezim sebagai gerakan yang jahat, gerakan yang menentang kedaulatan negara.

Suka-suka kalianlah, mau dapat penghargaan, diberangkatkan haji atau umroh, bahkan dapat sepeda itu terserah saja. Yang menentukan pahlawan kalian, yang memberi hadiah dan penghargaan kalian, standarnya suka-suka kalian kan ?

Sementara kami, segenap rakyat dan seluruh bangsa Indonesia, menyatakan memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para mahasiswa dan adik-adik STM. Merekalah, pejuang sejati. Merekalah, organ yang menjalankan tugas sebagai penyambung lidah rakyat. [*]

Like it? Share it!

Leave A Response