Fahri Hamzah: Ijin Pamit Kawan!

foto: dok.pribadi Fahri Hamzah

foto: dok.pribadi Fahri Hamzah

Oleh: Fahri Hamzah

PALONTARAQ.ID – Ijin pamit kawan! Saya pernah demonstrasi di jalan, lalu diminta presiden Habibie menjadi Anggota MPR terrmuda.

Lalu 15 tahun menjadi anggota DPR dan 5 tahun terakhir menjadi pimpinan. Malam ini saya pamit berhenti menjadi pejabat pemerintahan.

Saya ikut menggugat rezim orde baru. Saat itu para demonstran jalanan hari ini belum lahir ke atas dunia ini. Rezim itu kuat luar biasa. Tidak ada gas air mata yang ada adalah peluru tajam. Kami lahir pada saat bangsa ini bungkam dan tertutup awan gelap ketakutan.

Alhamdulillah, 20 tahun ini reformasi lahir dan tumbuh menjadi kenyataan tapi demokrasi kita tetap memerlukan perjuangan. Tidak ada yang datang dari langit semua wajib diperjuangkan.

Dan 15 tahun terakhir saya mencoba membangun kepercayaan. Hingga dipilih mendapat kepercayaan.

Terima kasih kepada warga Nusa Tenggara Barat yang memilih saya terus dengan suara yang terus mengalami tambahan. Saya percaya bahwa kepercayaan itu mahal dan saya telah mengakhirinya dengan baik.

Saat saya tidak maju banyak warga NTB bertanya, kenapa tak maju lagi?

Rasanya cukup untuk sementara menyertai 20 tahun masa transisi. 1998-2018 dan 1999-2019 seperti menjadi angka baik bahwa 20 tahun ini adalah masa awal formasi negara demokrasi yang masih belia.

Akan ada gejolak yang mengantarkan kita pada keseimbangan baru. Sebuah kematangan.

Saya memiliki banyak pandangan tentang keadaan. Mungkin sebagian tidak mengerti bahkan menentang. Tak mengapa. Tapi saya tak akan melepas apa yang menjadi keyakinan.

Saya sangat percaya bahwa troika pilar; narasi, birokrasi dan kepemimpinan mengidap persoalan mendasar.

Tak mudah menyembuhkan dan tak mudah menunjukkan apa inti persoalan. Sikap dangkal dan menganggap remeh persoalan itulah masalahnya.

Kebenaran tidak mau diyakini karena memerlukan pandangan yang tak terpengaruh oleh apa yang kasat mata; pesta dan hura-hura festival luar biasa.

Sampai datang kejernihan. Dan ruang publik kita seperti sedang mengeruh menyambut yang jernih setelahnya.

Jangan ikut membuat keruh tapi jadilah yang berdiri dan menawarkan kejernihan, kejernihan pikiran, jiwa dan tindak perbuatan. Akan datang masa yang indah kembali.

Optimislah, bangsa ini menyimpan kearifan sebagai tenaga jiwa yang kuat dalam relung bumi dan angkasa INDONESIA.

Dalam Samudera dan belantara nusantara. Dalam turun temurun manusia Indonesia yang telah bersumpah menjaga tanah air, bangsa dan bahasa sampai titik akhir nafas.

Aku adalah debu Tuhan, terbang entah kemana… hinggap entah dimana.. tapi aku INDONESIA.

Agamaku adalah pilihan tapi negeriku adalah nasibku yang takkan aku lepas sampai ajalku tiba… aku lahir di sini aku ingin mati dan dikubur di dalam tanah negeri ini yang menantiku pulang.

Aku sekarang kembali menjadi bagian dari ratusan juta rakyat negeri ini yang hari-hari mencari penghidupan, mencari keadilan dan mencari tempat berteduh dan berlindung.

Dan akupun adalah rakyat biasa yang berjalan bersama kenyataan; apa yang tetap harus aku perjuangkan.

Sekarang aku tak muda lagi, 1997-1998 baru menjadi sarjana dan ketika turun ke jalan usiaku masih 26-27 an. Sekarang umurku menjelang 48.

Sebentar lagi setengah abad. Dihitung dari perjalanan menjadi aktifis mahasiswa 90-an, maka setengah usia terbaikku ada dalam perjuangan.

Seperempat abad lalu, masa-masa muda itu adalah masa indah menjadi aktifis jalanan.

Dan sekarang, sepertinya generasi baru telah lahir. Majulah kalian ke depan. Itu panggilan sejarah kalian. Karena saya percaya, setiap 20 tahun lahir generasi baru di jalanan. Tak bisa diterka.

Malam ini, 1/10/2019 aku pamit kawan, majulah kalian ke depan. Ada generasi baru di dalam ruang sidang dan ada generasi baru di jalanan. Berdebatlah kalian. Kalian harus berlatih menggunakan pikiran. Jangan undang kekerasan masuk ruang perdebatan nanti kita semua menyesal.

Aku mohon maaf atas segala kesalahan yang aku sengaja atau tidak. Aku manusia biasa, pejabat juga manusia. Kita semua manusia. Kita adalah saudara yang harus siap saling menerima. Aku menerima kalian dan aku mohon diterima sebagai kawan biasa. Kawan dalam perjalanan.

Sekali lagi aku pamit dari pemerintahan, ijinkan aku menjadi bagian dari masyarakat INDONESIA yang merangkai mimpi tentang masa depan.

Memulai sebuah perjalanan, barangkali sebuah arah baru atau tentang sesuatu yang mencoba menjawab kegelisahan. Bismillah.!

 

Twitter @Fahrihamzah 30/9/2019

Like it? Share it!

Leave A Response