Beranda Khazanah Rahasia Sujud dalam Shalat

Rahasia Sujud dalam Shalat

Rahasia Sujud dalam Shalat (sumber: ikimfm.my)
Rahasia Sujud dalam Shalat (sumber: ikimfm.my)

Oleh:  M. Farid Wajdi, S.H.i

PALONTARAQ.ID – SUATU hari salah seorang sahabat yang merupakan ahlus shuffah, Abu Firas radhiyallahu ‘anhu, bermalam bersama Rasulullah SAW. Nama asli Abu Firas adalah Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami.

Bermalam (mabit) bersama Rasulullah adalah kesempatan bagi para sahabat untuk menikmati Shalat Malam yang panjang nan khusyu’ di belakang sang qudwah shallallhu ‘alaihi wa sallam.

Sebelum shalat, Abu Firas membawakan wadhu’ (air wudhu’ beserta tempatnya) dan beberapa perlengkapan untuk beliau.

Melihat kebaikan Abu Firas seperti ini, tidak lantas Rasulullah SAW diam saja. Beliau bukan sekedar berterima kasih dengan Kata-kata, bahkan beliau persilahkan Abu Firas untuk meminta sesuatu. “Salni…”, kata Rasulullah. “Mintalah sesuatu kepadaku..”. Permintaan apa saja. Dan sebagaimana kita tahu Rasulullah SAW tidak pernah mengatakan “tidak”, selama beliau sanggup penuhi permintaan tersebut.

Abu Firas radhiyallahu ‘anhu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ini adalah kesempatan emas. Tidak boleh dilewatkan. Mungkin tak akan terulang kembali seumur hidup.

Pernah ada salah seorang sahabat yang meminta pakaian baru kepada Rasulullah SAW, hadiah istimewa dari salah seorang shahabiyyah. Pakaian tersebut waktu itu sedang beliau kenakan.

Mendengar permintaan seperti itu, Rasulullah SAW pun masuk rumah, melipat, dan kemudian beliau berikan. Rupanya sahabat tadi ingin bertabarruk dengan menjadikan pakaian tersebut sebagai kain kafan.

Pernah juga ada salah seorang Arab Badui yang meminta kambing sepenuh lembah yang ada di antara dua gunung. Rasulullah pun berikan. Abu Firas paham akan hal ini, Rasulullah SAW tidak pernah menolak ketika dimintai sesuatu.

Abu Firas pun berfikir, permintan jenis apa yang kira-kira beliau sanggupi, dan bermanfaat hingga kelak di akhirat. Abu Firas memikirkan akhirat. Abu Firas tidak ingin meminta pakaian.

Tidak pula kambing. Jangankan kambing, ratusan unta pun pernah Rasululllah SAW berikan kepada Shafwan bin Umayyah putra dedengkot musyrikin Umayyah bin Khalaf, pasca perang Hunain. Abu Firas meminta satu hal yang teristimewa, untuk kelak di surga.

“As’aluka muraafaqataka fil jannah”. Aku ingin membersamaimu nanti di Surga, wahai Rasulullah SAW. Pinta Abu Firas.

“Ada yang lain?”, tanya Rasulullah SAW.

“Huwa dzaaka, hanya itu wahai Rasulullah SAW”, jawab Abu Firas.

“Kalau begitu..”, kata Rasulullah SAW menjawab permintaan istimewa dari Abu Firas ini,”..bantulah aku dengan memperbanyak sujud.” Subhaanallah.

Permintaan istimewa dari Orang-orang istimewa, kepada manusia paling istimewa, harus dicapai dengan cara yang istimewa pula.

Sujud, Rasulullah SAW sebut secara khusus. Rasulullah SAW tidak menyebut kata shalat, tapi mengkhususkan pada kata “sujud”. Sebegitu istimewakah sujud itu?

Sujud adalah kondisi ketika manusia sedang merendah di hadapan Rabb-nya. Terbuat dari tanah, sedang menyungkur bersama anggota badannya di atas tanah. Bersama kepala, tangan, dan kaki, dan tentu saja bersama hati. Satu irama.

Pada saat sujudlah, seharusnya seorang hamba benar-benar merasa rendah di hadapan Rabb-nya Yang Maha Tinggi. Merasa kerdil. Merasa hina di hadapan Dzat Yang Maha Mulia.

Ibadah akan sempurna jika di saat yang sama terkumpul dua hal, seorang hamba merendahkan diri serendah-rendahnya, dan di saat yang sama mengagungkanNya setinggi-tingginya.

Sujud adalah saat dimana seorang hamba berada dalam kondisi paling dsekat dengan Allah SWT, sebagaimana Rasulullah SAW katakan:

 

أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد

 

Artinya:

“Kondisi saat seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud.” (HR Muslim)

“Sujud adalah……”, kata Ibnul Qayyim al-Jauziyyah ketika menjelaskan rahasia di balik ibadah shalat,” ..’ubudiyyah yang paling penting dalam shalat, dan yang paling krusial dibandingkan Rukun-rukun yang lainnya.

Oleh karena itu, sujud dijadikan sebagai penutup. Sedangkan rukuk dan ritual-ritual yang lain sebelumnya, diumpamakan sebagai pembuka dan pelengkap.”

Inilah salah satu hikmah, mengapa Rasulullah SAW perintahkan kita agar bersungguh sungguh memanjatkan do’a saat bersujud. Sujud, identik dengan thawaf dalam ibadah haji.

Thawaf juga kondisi ketika seorang hamba sedang berada pada kondisi sangat dekat dengan Allah SWT dan disunnahkan memperbanyak do’a. Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam sebuah atsar dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Saat itu ada yang hendak melamar putrinya ketika beliau sedang thawaf. Beliau diam saja hingga selesai thawaf, kemudian beliau katakan:

 

أتذكر أمرا من أمور الدنيا ونحن نتراءى الله في طوافنا

 

Artinya:

“Tidak pantas aku mengingat urusan dunia sementara kita melihat Allah dalam thawaf kita”.

Terkait ibadah yang bernama sujud ini, Syaikhul Islam menjelaskan bahwa yang bisa bersujud bukan hanya fisik saja. Bukan sekedar anggota badan. Hati juga bisa bersujud.

Bagaimana jika hati telah bersujud? Beliau katakan dalam Majmu’ Fatawa: “Demi Allah, ia adalah sebentuk sujud yang tidak akan pernah berhenti dan mengangkat kepalanya hingga ia bertemu dengan Allah ta’ala.”

“Allahumma a’innaa ‘ala dzikrika wsyukrika, wahusni ‘ibaadatika.”

Dibawah ini beberapa rahasia sujud dalam Shalat yang penulis rangkum dari berbagai sumber:

1. Sujud melibatkan 5 anggota badan yang bertumpu pada bumi, yaitu: dahi, hidung, kedua telapak tangan, lutut, dan kedua ujung kaki (jari)

2. Sujud adalah konsep merendahkan diri, memuji Allah SWT, dan memohon segala macam hajat kepada Allah SWT.

3. Sekaligus, mengikis sifat tercela: riya’, sombong, ujub dan takabur dan lain-lain.

4. Dr Fidelma O’Leary, Phd Neuroscience dari St Edward’s University, telah menjadi mu’allaf, karena mendapati fakta tentang manfaat sujud bagi kesehatan.

5. Dalam kajiannya ditemukan bahwa ada beberapa urat saraf di dalam otak Manusia yang tidak dimasuki darah dan urat ini hanya dimasuki darah ketika manusia bersujud.

6. Tetapi urat saraf ini hanya memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja, yaitu pada Waktu-waktu Shalat yang telah ditetapkan (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’).

7. Jadi, siapa yang tidak Shalat maka urat ini tidak menerima darah sehingga otaknya tidak berfungsi secara normal.

8. Salah satu indikasinya adalah timbul macam-macam gejala sosial di masyarakat yang tidak Shalat saat ini.

9. Karena letak otak di atas jantung, maka kata Prof Hembing, jantung hanya mampu menyalurkan 20% darah ke otak manusia, maka dibantu lagi dengan sujud yang lebih lama agar dapat menambah kekuatan aliran darah ke otak.

10. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan Rasulullah SAW , supaya kita sujud berlama-lama pada raka’at terakhir.

11. Manfaat sujud berlama-lama ini adalah untuk: Mencegah pening, terhindar migrain, menyegarkan otak, menajamkan akal dan fikiran (lebih sensitif), melonggarkan sistem pernafasan, memperbaiki kandung rahim yang turun, menjaga dan menguatkan kedudukan bayi dalam kandungan, serta menghindarkan kandungan sungsang bagi ibu hami dan lain lain.

12. Dan yang lebih menakjubkan, jika kita memperhatikan, bentuk saraf yang ada dalam otak kita berbentuk seperti orang yang sedang sujud. Subhanallah.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT