Beranda Bahasa Jangan Mudik, Pulang Kampung saja!

Jangan Mudik, Pulang Kampung saja!

 

Oleh: M. Farid W Makkulau

Related Post: Cocokologi: Corona dan Qarna

PALONTARAQ.ID – Seketika Perbincangan Mudik dan Pulang Kampung menjadi ramai menyusul wawancara Najwa Shihab dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka pada Selasa (21/4/2020). Keesokan harinya, media santer mewartakan Jokowi melarang mudik untuk semua kalangan.

Diberitakan sebelumnya, Presiden Jokowi menyebutkan bahwa mudik berbeda dari pulang kampung. Hal itu disampaikan Jokowi menjawab pertanyaan mengapa pemerintah tak melarang mudik sejak penetapan tanggap darurat Covid-19 sehingga mata rantai penularan ke daerah bisa terputus sejak awal.

“Kalau itu bukan mudik. Itu namanya pulang kampung. Memang bekerja di Jabodetabek, di sini sudah tidak ada pekerjaan, ya mereka pulang. Karena anak istrinya ada di kampung, jadi mereka pulang,” kata Jokowi menjawab pertanyaan Najwa Shihab dalam program “Mata Najwa” yang tayang pada Rabu (22/4/2020).

“Ya kalau mudik itu di hari Lebaran-nya. Beda. Untuk merayakan Idul Fitri. Kalau yang namanya pulang kampung itu yang bekerja di Jakarta, tetapi anak istrinya ada di kampung,” tambah Jokowi.

Lihat pula: Apa dan Bagaimana itu PUEBI?

Pengertian Mudik

Benarkah Mudik berbeda dari Pulang Kampung? Secara harfiah kata “Mudik” itu berasal dari kata Udik. Yang dimaksud Udik adalah daerah pegunungan, dataran tinggi, hulu sungai, kampung (di pegunungan), dan sejenisnya. Jadi, Mudik berarti menuju ke Udik.

Kata Udik merupakan kebalikan (Antonim) dari kata Kota. Itulah sebabnya pemahaman umum tentang Mudik adalah pulang dari kota atau kembali ke kampung. Bahasa sederhananya: Pulang kampung.

Mudik dilarang, pulang kampung boleh. (sumber gambar: tribunjualbeli)
Mudik dilarang, pulang kampung boleh. (sumber gambar: tribunjualbeli)

Secara sosiologis sejak dulu Kota itu dimulai di daerah Pantai dan wilayah Pelabuhan Laut.
Di daerah pelabuhanlah bertemu Orang-orang dari berbagai bangsa yang datang dari berbagai penjuru.

Disitulah kemudian terjadi keramaian, tercipta pasar, ada transaksi dagang, didirikan pusat pemerintahan dan pusat pelayanan publik serta tumbuh berbagai sektor bisnis pendukungnya. Pantai dan pelabuhan adalah asal usul terbentuknya kota dan masyarakat kota.

Orang-orang Udik pun pada “turun gunung” menuju kota, menjadi perantau, dan bermukim di kota.

Lihat pula: Mana yang Benar: “Antar” atau “Hantar”?

Arus Mudik dan Pulang Kampung

Pada hari lebaran, umumnya pada H-7 atau kurang tujuh hari menjelang lebaran, mereka ramai-ramai meninggalkan kota dan menuju ke Udik (arus mudik), yaitu menuju kampung asal mereka (Udik).

Dari pemahaman ini, itulah sebabnya istilah Mudik banyak yang menyamakannya dengan “Pulang Kampung” atau memperluas makna Mudik menjadi Pulang Kampung.

Orang yang asalnya dari kota pun —dan lagi bertugas ke kampung—saat lebaran pun mereka “mudik” (arus balik) ke kota.

Nah, sampai disini sudah paham, kan? Pertanyaannya kemudian: Kalau istilah ‘mudik’ yang digunakan, berarti akan ada masanya balik. Ya biasa diberitakan kan tentang arus mudik dan arus balik, kan?

Sebaliknya, kalau ‘pulang kampung’ berarti tidak kembali lagi ke tempat semula. Iya, kan? Sampai saat ini belum ada media mainstream memberitakan tentang arus pulang kampung dan arus pulang ke kota.

Kenapa? Karena cara berpikir media selama ini, yang dimaksud mudik itu, ya pulang kampung juga.

Jika mudik yang dimaksudkan sebagaimana dipahami diatas, maka yang terjadi dan harusnya dilakukan terkait penyebaran Covid-19 ini adalah dua kali karantina.

Pertama, saat tiba di tujuan mudik dan kedua, saat kembali ke asal (balik). Berbeda dengan pulang kampung yang hanya sekali yaitu saat tiba di kampung (biasanya tanah kelahiran).

Lihat pula: Awalan “me” pada Konsonan yang berdiri sendiri

Konteks Mudik dan Pulang Kampung 

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Donny Gahral Adian mengatakan bahwa semua orang bebas mengomentari ucapan Presiden Joko Widodo yang membedakan makna mudik dan pulang kampung.

“Tak masalah, semua orang bebas berkomentar tentang apa saja termasuk ucapan presiden terkait mudik dan pulang kampung tidak ada masalah. Tapi harus mendudukkan statemen Presiden pada tempatnya, itu saja,” kata Donny, Jumat (24/4/2020).

Donny mengatakan, Presiden membedakan makna mudik dan pulang kampung karena ada konteksnya berbeda. Menurutnya, “pulang kampung” sebagaimana yang disampaikan Presiden berarti pulang ke kampung halaman tanpa harus di saat Lebaran.

Istilah pulang kampung bagi mereka yang pulang ke kampung halaman lantaran tak lagi memiliki pekerjaan di kota perantauan.

Adapun mudik diperuntukkan bagi mereka yang kembali ke kampung halaman dengan tujuan bersilaturahim dengan orang tua dan sanak saudara.

“Orang setiap tahun bisa pulang kampung dari Januari sampai Desember dengan alasan beragam. Tapi yang paling penting adalah sekarang Presiden sudah menetapkan larangan mudik,” tambah Doni.

Lihat pula: Memaknai Kata ‘Khazanah’

Tanggapan Akademisi

Guru Besar Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat membenarkan pendapat Jokowi.

“Mudik dan pulang kampung memang berbeda arti. Bukan sama arti seperti ditulis di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),” ujarnya.

Di dalam KBBI yang terakhir diperbaharui pada Oktober 2019 ini, tertulis mudik dan pulang kampung sama. Ada dua arti dari mudik seperti yang tertulis di KBBI.

“Arti pertama mudik yakni berlayar atau pergi ke udik atau hulu. Arti kedua mudik itu pulang ke kampung halaman. Namun ternyata mudik yang diartikan dengan pulang ke kampung merupakan bahasa percakapan,” jelasnya.

“Memang beda arti mudik dengan pulang kampung. Biasanya pembaca kurang cermat. Di KBBI tertulis v cak. Cak itu berarti percakapan,” tambah Prof Rahayu seperti dikutip detikcom, Kamis (23/4/2020).

Ya, bahasa percakapan memang umumnya anti kaidah. Sebab arti pulang kampung beda dengan mudik namun kerap dipakai dalam bahasa percakapan.

Dalam hal ini, Prof Rahayu membenarkan bahwa Presiden Jokowi membatasi penggunaan kata mudik dalam konteks Idul Fitri. Sedangkan pulang kampung tidak berkaitan dengan Idul Fitri.

Mengapa banyak yang menyamakan mudik dengan pulang kampung? Prof Rahayu menuturkan bahwa hal itu mungkin karena dahulunya sebagian besar wilayah Indonesia berbentuk kampung, banyak warga lahir di kampung (halaman). Dan memang banyak pekerja di Jakarta yang meninggalkan keluarganya di kampung.

Lihat pula: Beda Rasa yang te (se) rasa

Mudik dilarang, Pulang Kampung boleh?

Sementara itu, terkait Mudik, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD mengatakan pelarangan mudik diberlakukan sejak Jumat, 24 April 2020.

“Perhitungannya tanggal 24 April kemarin. Jadi 24 April sudah dilarang orang mudik,” kata Mahfud dalam konferensi pers video bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Jakarta, Sabtu (25/4/2020)

Jadi, sudah sangat jelas bahwa Mudik dan Pulang Kampung adalah aktivitas sama, timingnya yang beda. Mari hentikan perbedaan pengertian Mudik dan Pulang Kampung.

Kita semua ini boleh jadi adalah Orang dari Udik pada awalnya, tapi jangan kampungan. Maksudnya “Jangan Udik” hingga melupakan konteks persoalan yang sebenarnya.

Pulang Kampung. (sumber foto: kaldera)
Pulang Kampung. (sumber gambar: kaldera)

Konteksnya sebenarnya adalah jangan ada pergerakan sejumlah besar orang, dari kota ke kampung, karena akan berdampak terhadap penyebaran Covid-19 sampai ke daerah. Mau namanya mudik atau pulang kampung, intinya harus ada pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Orang yang aslinya mudik, karena dilarang maka akan berkata di jalan, “Mau pulang kampung, pak!” Toh, tidak ada yang mudik di hari lebaran, orang mudik itu biasanya paling lambat H-7 hari lebaran, ada yang malah sebulan sebelumnya dengan harapan dapat merasakan nikmat Ramadan sebulan di kampung (di udik).

Khawatirnya, jika mengerucutkan pengertian secara harfiah antara mudik dan pulang kampung maka masyarakat akan beranggapan bahwa mudik dilarang, pulang kampung boleh.

Jawaban atas hal inilah yang sebenarnya diharapkan Najwa Shihab dalam wawancaranya, terkait kebijakan pemerintah untuk lebih tegas memaknai PSBB, karena secara faktual jumlah pergerakan orang dari kota ke daerah sudah menyentuh angka jutaan. Untuk hal ini, harus ada instruksi Presiden yang tegas dan aplikatif di lapangan.

Meski begitu, jika rindu kampung halaman, silakan pulang kampung saja. “Jangan mudik, karena mudik itu dilarang!” (*)

 

M. Farid W Makkulau, kerapkali menggunakan nama pena Etta Adil,  telah menelorkan beberapa karya buku, antara lain: HA Gaffar Patappe-Demimu Rakyat Pangkep (Pemkab Pangkep, 2003), Pikiran dan Kebijakan Ir. H. Syafrudin Nur, M.Si (Pemkab Pangkep, 2006), Sejarah dan Kebudayaan Pangkep (Infokom, 2007), Manusia Bissu (Pustaka Refleksi, 2008), Sejarah Kekaraengan di Pangkep (Pustaka Refleksi, 2008), Komik-Kisah si Lemo Lestarikan Terumbu Karang (Dislutkan/Coremap, 2009), Syahrul Yasin Limpo-Sulsel Go Green “Menjaga Lingkungan Menuai Rahmat” (Citra Pustaka, 2012), Syamsuddin A. Hamid-Mata Kalbu Sahabat (Citra Pustaka, 2013), Antologi Puisi-Penjara Suci (Pustaka Puitika, 2015), Surat Cinta untuk Bidadari Kecilku di Surga (Pustaka Puitika, 2015), Antologi Puisi-Menjawab Waktu (Guepedia, 2020), Berkebudayaan Malu-Sehimpun Catatan Budaya Bugis Makassar (Guepedia, 2020).

Pada Tahun 2017, Penulis sebagai LCO (Local Community Organizer) CSR PT. Semen Tonasa meraih Penghargaan “Terbaik 1” Tingkat Nasional dalam Indonesian Sustainable Development Goals Award 2017 (ISDA 2017) dengan judul Karya Tulis “Perubahan Sosial Tidak Mungkin Terjadi Tanpa Pendampingan” (HAKI 078550) untuk Kategori Perseorangan Tingkat Lapangan CSR Best Practice for MDGs to SDGs dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas RI.

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Arti, Tujuan dan Fungsi menjadi Relawan Pendidikan

  Oleh: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Relawan pada hakikatnya adalah kata lain dari Kemanusiaan. Kalau ada orang yang ikhlas, tulus, dan bekerja tanpa pamrih untuk menolong...

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...