BerandaCerpenCinta Diujung Badik

Cinta Diujung Badik

 Oleh: Etta Adil

PALONTARAQ.ID – MALAM semakin larut. Semua tetangga Mila sudah terlelap dalam mimpi panjangnya. Ingin rasanya dia ikut tertidur, melepas lelah setelah seharian bekerja demi menafkahi keluarga kecilnya. Seorang Anak laki–laki yang kini beranjak remaja dan suaminya yang di malam itu dia tak tahu keberadaannya.

Sudah sepekan suaminya selalu pulang pagi. Tak jelas kemana perginya dan apa yang dikerjakannya. Sesekali ia mengintip lewat jendela berharap suaminya pulang. Namun yang ditunggu tak kunjung muncul.

“Abi, dimanaki Abi?” gumamnya.

Tak terasa air matanyapun tumpah. Bukan hanya sekali ia mengintip jendela. Sampai menjelang subuhpun, ia masih berharap suaminya masih sempat pulang. Namun suami yang dinantinya seperti ditelan bumi.

Sebulan yang lalu, suaminya sempat melontarkan pernyataan bahwa kalau dia tak bisa poligami, ia akan selingkuh.

“Ya Allah, lindungi suamiku. Ya Allah, jaga suamiku. Hindarkan suamiku dari godaan wanita. Jauhkan suamiku dari maksiat, Ya Allah”, isaknya dalam Do’a Subuhnya.

Sebenarnya ia sudah mencium bau pengkhianatan suaminya. Bukan dari gosip tetangga, bukan pula karena suaminya pernah dilihatnya bersama wanita lain. Tapi dari firasatnya dan dari tingkah laku suaminya yang dinilainya sudah lain dari biasanya.

Mila akhirnya tertidur diatas sajadahnya yang basah oleh air matanya. Seluruh persendiannya terasa lumpuh, ia tak tahan menyambut pagi.

Di luar sana, Bisik–bisik tetangga memerahkan kupingnya. Tak ada gosip lainnya selain tentang perselingkuhan suaminya. Orang sekampung sudah tahu kehidupan pisah ranjangnya.

Mila sadar dirinya hanya wanita sederhana yang tak tahu mode dan modis, pun ia tak peduli dirinya dianggap tidak jamani. Yang ia tahu bahwa ia mencintai suaminya, dan ingin melayani suaminya sebaik mungkin.

Pagi itu, ketika suaminya pulang, dilayaninya kembali dengan baik. Mila dengan sabar menyiapkan sarapan suaminya sebagaimana biasanya.

Setelah itu ia melepas kepergian Jundi kecilnya ke sekolah.

Mila berusaha tetap memberikan senyum manisnya setelah mencium kening buah kasih sayang dengan suaminya itu. Ia mencoba menahan perasaan hatinya, termasuk tatapan sinis tetangga depan rumahnya.

“Saya harus selamatkan suamiku,” batinnya seraya bergegas mengambil Badik (Senjata tradisional Makassar) didalam kamarnya.

Suaminya sudah selesai sarapan dan mandi. Mila berlutut dihadapan suaminya yang hanya memakai handuk. Ia berusaha menguatkan hatinya dan tak terdengar lagi isaknya.

Dengan Badik yang disembunyikan dibalik sarungnya, ia berkata, “Abi, sungguh kusayangki. Dalam hidupku, hanya Abi yang kusayang! Sebelum kita menikah, saya pernah bersumpah bahwa hanya satu Laki–laki yang bisa menjamahku, dan itu hanya suamiku. Abi-lah orang itu! Jika Abi mau selingkuh, silahkan! Tapi itu berarti bukan Aku yang Abi selingkuhi. Demi Anakku, tidak akan kuijinkan Abi selingkuh,” ujarnya penuh perasaan cinta.

ilustrasi (sumber foto: newshotmagximum)
ilustrasi (sumber foto: newshotmagximum)

Di saat suaminya hendak membalas ucapannya, Mila berdiri sambil menghunus badiknya, “Lihat badik ini Abi, Kau bukan hanya telah mengkhianatiku, tapi perasaanku mengatakan kau telah berbuat zina. Kau telah membawa najis masuk dalam rumahku. Jika bukan karena imanku, aku sudah membunuhmu dan membunuh diriku”.

Setelah berkata lantang seperti itu, disibaknya handuk suaminya dan secepat itu pula ia bergerak memotong kelamin suami yang sangat disayanginya tersebut. (*)

 

(*Diambil dari Cerita “Demi Anakku, Tak Kuijinkan Engkau Selingkuh”, dari Buku Antologi Cerita Etta Adil – “Surat Cinta Buat Bidadari Kecilku di Surga”, Pustaka Puitika (2015)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT