Tradisi Lisan: Berlomba dengan Kematian (2)

Mewariskan Tradisi Bercerita. (foto: ist/palontaraq)

Mewariskan Tradisi Bercerita. (foto: ist/palontaraq)



Tulisan Sebelumnya:

Tradisi Lisan: Berlomba dengan Kematian (1)

Hal mendasar dari Tradisi lisan (Oral Tradition) adalah cerita rakyat yang diungkapkan melalui lisan dan dikembangkan secara turun temurun, namun si pelisan tidak menyaksikan atau bukan pelaku peristiwa. Hal ini berbeda dengan sejarah lisan dimana si penutur terlibat atau penyaksi peristiwa yang terjadi. Tradisi lisan merujuk kepada segala bentuk warisan dan tradisi yang lahir dari suatu kelompok masyarakat.

Tradisi Lisan merupakan satu cara masyarakat menyampaikan sejarah, kesusteraan, perundangan dan pengetahuan lain menyeberangi generasi tanpa sistem tulisan. Dari segi umum, tradisi lisan merujuk kepada penyampaian bahan budaya lewat tradisi bercerita, dan telah lama dikatakan sebagai gambaran cerita rakyat (kriteria yang tidak lagi dipegang erat pencerita rakyat). Sebagai bidang akademik, ia merujuk kepada kaedah saintifik dan objek yang dikajinya.

Kajian tradisi lisan berbeda dengan bidang akademik sejarah lisan, yang merupakan rekaman ingatan pribadi dan sejarah oleh mereka yang mengalami era sejarah atau kejadian tertentu. Ia juga berbeda dengan kajian kelisanan (orality) yang boleh ditakrifkan sebagai pemikiran dan gambaran lisan dalam masyarakat di mana teknologi kesusasteraan (terutamanya tulisan dan cetakan) tidak meluas dikalangan penduduknya.  Di sebagian masyarakat, dongeng atau cerita rakyat sering kali bernilai pendidikan, pesan moral, atau norma bermasyarakat yang harus dipatuhi bersama. Cara penyampaiannya memang sederhana agar mudah dicerna dan bisa dilaksanakan masyarakat.

Hal yang mengemuka dan tidak pernah terlupakan dari para penutur tentang sejarah kerajaan, dalam penelitian tentang Tradisi Lisan Sejarah Siang adalah hubungan penutur atau moyang penutur dengan ‘sejarah’ yang dituturkannya, selalu saja menganggap bahwa dirinya, bapaknya, moyangnya punya hubungan kesejarahan dengan Kerajaan Siang kuna tersebut. Para penutur ini kadang tidak lagi sempurna menceritakan cerita yang diterimanya, hal ini tentu saja wajar mengingat cerita tersebut sudah menggenerasi, ada yang ditambahkan dan ada yang dikurangi, terkadang malahan lebih banyak tambahannya dari cerita yang diterimanya.

Kelemahan tradisi lisan adalah karena kita memang tidak bisa banyak menuntut keabsahan atau kebenaran cerita tersebut. Jika ada sesuatu yang kita anggap aneh, tidak benar atau unik, si penutur bisa saja menjawab, “begitulah yang saya pernah dengar dari nenek saya”.  Mahyudin Almudra dari Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), mengungkapkan bahwa justru dalam tradisi lisan, cerita rakyat khayalan manusia memperoleh kebebasan yang mutlak, karena di situ ditemukan hal-hal yang tidak masuk akal, yang tidak mungkin ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu contoh tradisi lisan ialah misalnya, cerita tentang gaukeng, tomanurung dan possi butta. Dalam kasus ini, tentunya si penutur banyak dipengaruhi oleh kepercayaan atau kearifan tradisional yang dianutnya. Masalahnya yang kita temui sekarang adalah semakin berkurangnya penutur tentang cerita rakyat atau dongeng yang berhubungan dengan budaya lokal, pengembangan kearifan tradisional serta cerita yang sedikit bisa mengungkap tentang keunikan dan keanehan sejarah lokal. Kalaupun ada, si penutur tentunya sudah sangat tua, tidak tersentuh oleh peneliti, dan tidak bisa berbahasa indonesia, yang tentu saja faktor terakhir ini merupakan kesulitan tersendiri bagi peneliti yang dibesarkan dalam lingkungan akademik.

Suatu contoh kecil, ketika banyak jurnalis dan peneliti begitu bersemangat mewawancarai Puang Matoa Bissu di Pangkep tentang kearifan tradisional yang dipegang, dijaga dan ditaati oleh komunitas bissu, kebanyakan diantaranya hanya bingung dan tidak tahu harus menulis apa. Fakta kelangkaan sumber ini mengharuskan diantara kita lebih gesit lagi mengungkap banyak cerita rakyat atau dongeng di berbagai pelosok desa dan pedalaman bagaikan berlomba dengan kematian, terlebih memang sumber tulisan (lontaraq) sudah banyak hilang dan punah.  (*)

Like it? Share it!

Leave A Response