BerandaKolomEGO (15-16)

EGO (15-16)

Foto kenangan bersama Asdar Muis RMS (alm). (foto: ist/palontaraq)
Foto kenangan bersama Asdar Muis RMS (alm). (foto: ist/palontaraq)

Tulisan Sebelumnya: EGO (14)

EGO (15): Pagi berlalu begitu cepat, satu dua tamuku datang silih berganti ke rumah. Seorang kawan yang penulis terkenal datang menyambangi kediamanku ditemani anak dan kawan karibnya.

Dari jauh aku tergelitik saat kulihat tubuh tambungnya membawa sepiring kue sesaat turun dari mobil. “Orang mau bertamu kok dia yang membawa kue. Seharusnya aku sebagai tuan rumah yang menyiapkannya,” pikirku.

Aku sangat bahagia sekaligus malu didatangi olehnya, terlalu banyak kebaikan dan pengajaran yang telah terpatri di benakku karenanya. Seharusnya akulah yang mendatanginya. Kami lalu terlibat dalam pembicaraan asyik bersama tamu kawan karibku lainnya.

Setelah kawan penulis tersebut pulang, aku katakan pada istri, “Lain kali kita harus ke rumahnya dan membawa kue lebih banyak. Dikira dia saja yang bisa berbuat seperti itu,” ujarku walaupun dalam hati aku sangat sadar, aku jauh dibawahnya soal pendapatan.

Catatan Ego (15) Etta Adil, Pangkep, 23 September 2012.

EGO (16): Anak laki-lakiku adalah diriku. Aku melihat diriku di masa kecilnya saat ini, kurang gaul dan lebih banyak bermain di rumah sendiri. Aku berusaha untuk tidak pernah memarahinya, sekalipun banyak ulahnya yang tak kusukai.

“Namanya juga masih anak-anak,” pikirku. Kalaupun terpaksa aku harus memarahinya, aku tak ingin orang lain ikut memarahinya. Itu pula yang selalu kupesankan pada istri agar tak ikut marah jika aku sudah memarahi anak kami itu.

Maksudku, supaya anakku punya pelarian untuk mengadu. Jika dimarahi sama ibunya, aku tak ikut marah dan ia kemudian mengerti dengan sendirinya kemana harus mengadu.

Akhir pekan kemarin, aku tak dapat menahan geram saat mendapati kakek, nenek dan ibunya memarahi anakku pada saat bersamaan atas kesalahannya yang sebenarnya bisa ditoleransi, seharian menonton teve dan tidak belajar.

Usai dimarahi aku mengajaknya ‘kabur’ dari rumah neneknya dan membelikannya es krim di sekitaran gazebo Pangkajene yang merupakan pusat jajanan di daerahku. Kuharap ia memelukku dan mengadukan masalahnya, tapi ia terlihat tegar dan tidak merasa bersalah.

“Berarti giliranku yang memarahinya,” batinku.

Catatan Ego (16) Etta Adil, Pangkep, 24 September 2012.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT