Oleh: M. Farid W Makkulau *)
PALONTARAQ.ID – Mengapa sesuatu yang lisan perlu dituliskan? Bukankah selama ratusan tahun masyarakat Pangkep telah hidup dengan cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut? Bukankah pappaseng, dongeng, mantra, syair, nama tempat, upacara adat, dan kisah para tetua mampu bertahan tanpa buku?
Jawabannya justru terletak pada kenyataan hari ini. Tradisi lisan mampu bertahan selama masih ada yang mengingat, masih ada yang mengisahkan, dan masih ada yang mendengarkan. Ketika tiga mata rantai itu mulai melemah, maka kebudayaan perlahan kehilangan suaranya.
Dari situlah kemudian penulis sepakat untuk menerima ajakan dari siapa saja, khususnya pegiat literasi di Pangkep untuk sama-sama menulis secara kolaboratif, “Menuliskan yang Lisan” sebagai salah satu upaya menjaga ingatan tentang tradisi lisan, dan boleh jadi menyelamatkan ingatan tentang Pangkep dan pada ujungnya, menemukan makna yang jauh lebih besar daripada sekadar ikhtiar menyelamatkan narasi sejarah dan budaya Pangkep.
Sejak tahun lalu, penulis mendapatkan kesempatan istimewa dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Pangkep untuk berbagi teknik kepenulisan, khususnya dalam menulis konten budaya lokal. Dalam tajuk acara “Bimtek Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal”, puluhan peserta dari berbagai latar belakang tersebut, pelajar dan mahasiswa, guru dan pegiat literasi, dan bahkan dosen itu kemudian berkomitmen menuntaskan satu buku sebagai “hasil bimtek”, suatu upaya sederhana yang berdampak baik bagi pengembangan literasi budaya, merawat tradisi lisan dari Tuturan menjadi Dokumentasi.
Buku yang kemudian diberi judul “Menuliskan yang Lisan” tersebut lahir dari proses yang menarik. Ia bukan hanya merupakan hasil Bimbingan Teknis Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan Daerah dan Arsip Kabupaten Pangkep pada tahun 2025, tetapi lahir dari perjumpaan para pemilik budaya dari berbagai daerah di Pangkep. Artinya, buku ini bukan hanya menghasilkan penulis-penulis baru, tetapi juga melahirkan para pendokumentasi kebudayaan.
Penulis selalu meyakini bahwa setiap daerah memiliki dua jenis warisan. Yang pertama adalah warisan yang dapat disentuh: rumah adat, masjid tua, benteng, makam, atau benda pusaka. Yang kedua adalah warisan yang tidak kasat mata: bahasa, cara menyapa, tata krama, cerita asal-usul kampung, tradisi ziarah, pengetahuan laut, hingga nilai siri’ na pacce yang hidup dalam keseharian masyarakat.
Warisan kedua inilah yang paling rentan hilang. Karena itu, para alumni Bimtek Perpustakaan Daerah tersebut memilih menuliskan tradisi yang masih bertahan di daerahnya, merekam aspek bahasa daerah, serta menelusuri jejak-jejak budaya yang mungkin selama ini dianggap biasa, sesungguhnya mereka sedang melakukan pekerjaan yang sangat penting: mengubah ingatan menjadi arsip.
***
Dalam perjalanan penulis meneliti sejarah dan kebudayaan Pangkep, seringkali menemukan satu persoalan yang berulang. Yaitu bahwa kita terlalu lama membayangkan sejarah hanya sebagai kisah raja-raja, peperangan, atau pergantian kekuasaan. Padahal sejarah sesungguhnya juga hidup di dapur masyarakat, di sawah, di pesisir, di lorong kampung, di pemakaman adat, di bahasa yang diucapkan anak-anak, bahkan di nama sebuah pohon yang menjadi penanda kampung.
Karena itu penulis sering mengatakan bahwa sejarah lokal bukan sejarah kecil. Ia adalah fondasi sejarah bangsa. Jika kita kehilangan sejarah lokal, maka kita sedang kehilangan akar yang menyambungkan kita dengan masa lalu. Pangkep adalah contoh yang sangat kaya. Kabupaten ini mempertemukan pegunungan, daratan, dan kepulauan dalam satu ruang kebudayaan yang unik. Di dalamnya hidup tradisi Bugis, Makassar, dan berbagai komunitas pesisir yang saling berinteraksi selama berabad-abad.
Keberagaman inilah yang membuat Pangkep tidak bisa dibaca hanya melalui dokumen kolonial atau arsip pemerintahan. Ia harus dibaca melalui suara masyarakatnya. Dan buku “Menuliskan yang Lisan” ini melakukan itu. Penulis juga ingin mengajak kita melihat buku ini dari sudut pandang yang lebih luas, dari perspektif literasi dan pemajuan kebudayaan
Hari ini kita hidup di zaman ketika informasi bergerak sangat cepat. Ironisnya, semakin cepat informasi bergerak, semakin pendek pula daya ingat masyarakat. Banyak tradisi direkam melalui telepon genggam, tetapi sedikit yang dituliskan secara utuh. Banyak pertunjukan budaya menjadi tontonan, tetapi sedikit yang dijelaskan maknanya. Di sinilah menulis menjadi bentuk perlawanan. Perlawanan terhadap lupa. Perlawanan terhadap penyederhanaan sejarah. Perlawanan terhadap anggapan bahwa budaya lokal hanyalah nostalgia.
Menulis berarti memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk membaca kembali jejak yang mungkin tidak lagi dapat mereka saksikan secara langsung. Dan Sulawesi Selatan, termasuk Pangkep memiliki tradisi literasi yang sangat panjang melalui Lontaraq. Nenek moyang kita telah membiasakan diri mencatat silsilah, hukum adat, pelayaran, hingga pappaseng sebagai pedoman hidup. Tradisi itu menunjukkan bahwa masyarakat kita sejak lama memahami pentingnya dokumentasi.
Maka penulis melihat buku “Menuliskan yang Lisan” ini sebagai kelanjutan semangat tersebut. Barangkali medianya berubah. Dulu ditulis di atas daun lontar. Hari ini ditulis dalam bentuk esai. Tetapi semangatnya tetap sama: menjaga agar pengetahuan tidak putus. Yang menarik dari buku ini adalah keberagaman perspektif para penulisnya.
Setiap esai lahir dari pengalaman yang berbeda. Ada yang berbicara tentang tradisi yang masih dijalankan. Ada yang menyoroti bahasa daerah. Ada yang merekam jejak budaya yang mulai memudar. Namun ketika semua tulisan itu dipertemukan, kita menemukan satu benang merah. Bahwa identitas Pangkep dibangun bukan oleh satu cerita, melainkan oleh banyak suara. Dan justru keberagaman suara itulah yang memperkaya wajah kebudayaan kita.
***
Sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan bahwa tugas menjaga budaya tidak berhenti ketika buku “Menuliskan yang Lisan” ini diterbitkan. Buku ini justru seharusnya menjadi awal. Saya berharap akan lahir jilid-jilid berikutnya. Akan lahir penulis-penulis muda yang meneliti kampungnya sendiri. Akan lahir guru yang mengajak murid menulis sejarah desanya. Akan lahir santri yang mendokumentasikan tradisi keagamaan masyarakatnya.
Karena sesungguhnya, kebudayaan tidak akan punah selama masih ada orang yang bersedia mengingat, meneliti, dan menuliskannya. Buku “Menuliskan yang Lisan” mengingatkan kita bahwa sesuatu yang paling sederhana sekalipun dapat menjadi warisan yang sangat berharga ketika ia dicatat dengan kesungguhan.
Sebab pada akhirnya, sebuah peradaban tidak hanya dikenang melalui bangunan yang ditinggalkannya, tetapi juga melalui cerita yang berhasil diselamatkannya.
Terima kasih kepada Dinas Perpustakaan Daerah dan Arsip Kabupaten Pangkep yang telah menginisiasi proses kreatif ini, kepada seluruh peserta bimtek yang telah berani menuliskan pengalaman budayanya, dan kepada semua pihak yang percaya bahwa menulis adalah salah satu cara paling mulia untuk merawat identitas daerah.
Semoga buku ini menjadi mata air bagi tumbuhnya kesadaran sejarah, kecintaan terhadap budaya lokal, dan semangat untuk terus menuliskan Pangkep dari perspektif masyarakatnya sendiri. Salamakki Tapada’ Salama’. (*)
(* M. Farid W Makkulau, Pemateri/Mentor dalam Bimtek Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal, Pemberi Kata Pengantar dalam Buku “Menuliskan yang Lisan” (Dispusarsip, 2026)


