Laporan: Madidi EA
Related Post: “Sumur Tua” PKI, Kebencian Macam Apa yang Tega Adiknya Dibantai
PALONTARAQ.ID – Siapa yang tak kenal Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G 30 S/PKI)? Bisa dikatakan bahwa G30S/PKI merupakan suatu pengkhianatan yang paling besar yang terjadi pada Bangsa dan Negara Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi di malam hari, tepatnya pada pada pergantian dari tanggal 30 September dan tanggal 1 Oktober, melibatkan Pasukan Cakrabirawa dan juga Partai Komunis Indonesia (PKI).
Gerakan ini memiliki tujuan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno, dan PKI menguasai seluruh sendi pemerintahan. G30S/PKI dipimpin langsung oleh ketuanya, DN Aidit, yang sangat gencar melancarkan hasutan kepada seluruh warga Indonesia agar mendukung PKI. DN Aidit merupakan tokoh sentral dari gerakan PKI, sekaligus dalang utama dari adanya gerakan 30 September 1995/PKI yang sebelumnya menghembuskan isu adanya Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta terhadap Pemerintahan Soekarno.
Beberapa Jenderal yang dibunuh PKI dalam G 30 S/PKI tersebut adalah:
1. Letjend Ahmad Yani
Letjend Ahmad Yani, meninggal dunia di rumahnya, Jakarta Pusat saat malam G 30 S/PKI. Sekarang rumahnya sudah menjadi Museum yang diberi nama Sasmita Loka Ahmad Yani.
Jenderal Ahmad Yani lahir di Purworejo, Jawa Tengah pada 19 Juni 1922. Karier militernya dimulai dengan mengikuti pendidikan Heiho di Magelang dan Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Ahmad Yani kemudian diangkat menjadi komandan Tentara Keamanan Rakyat di Purwokerto. Ia terlibat dalam beberapa operasi penting pasca-Indonesia merdeka. Sebut saja pemberontakan PKI di Madiun 1948, penumpasan DI/TII di Jawa Tengah dan juga pemberontakan PRRI.
2. Mayjend M.T. Haryono
Mayjend Mas Tirtodarmo (MT) Haryono lahir di Surabaya, 20 Januari 1924. Sebelum bergabung dengan kemiliteran, M.T Haryono pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Kedokteran atau Ika Dai Gaku di Jakarta.
Berkat kelihaiannya dalam menguasai bahasa asing, pahlawan yang namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan ini kerap mengikuti perundingan yang diadakan Indonesia dengan pihak Belanda maupun Inggris.
3. Mayjend Raden Soeprapto
Raden Suprapto lahir di Purwokerto pada 20 Juni 1920 silam. Ia pernah mengenyam pendidikan militer di Akademi Militer Kerajaan di Bandung. Pada awal kemerdekaan, Suprapto turut aktif dalam perebutan senjata Jepang dan menjadi ajudan dari Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Letjen Suprapto pernah menjabat sebagai Deputi Kepala Staf AD di Sumatra, Kepala Staf Tentara dan Teritorium IV Diponegoro di Semarang, dan pernah menjabat sebagai Deputi II Menteri/Panglima Angkatan Darat.
4. Brigjend Donald Isaac Panjaitan
D.I Pandjaitan lahir pada 9 Juni 1925 di Balige, Tapanuli, Sumatra Utara. D.I Pandjaitan juga menjadi salah satu sosok yang membentuk Tentara Keamanan Rakyat dan diangkat menjadi Komandan Batalyon. Sederet posisi penting pernah diembannya. Sebut saja Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi, Kepala Staf Umum IV Komandan Tentara Sumatera, dan pernah ditugaskan sebagai atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat.
5. Mayor Jenderal Siswondo Parman
Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 4 Agustus 1918 silam. Setelah Indonesia merdeka, S. Parman lantas turut bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang menjadi cikal-bakal Tentara Nasional Indonesia. Dalam menimba ilmu kemiliteran, S. Parman pernah dikirim untuk mengikuti Sekolah Militer di Amerika Serikat pada 1951. Ia juga pernah dikirim ke Inggris sebagai perwakilan Kedutaan Indonesia di sana.
6. Mayjen Sutoyo Siswomiharjo
Sutoyo Siswomiharjo lahir di Kebumen, Jawa Tengah pada 28 Agustus 1922. Seperti para pendahulunya, setelah kemerdekaan Indonesia, Sutoyo bergabung dengan TKR pada bagian kepolisian dan menjadi anggota Corps Polisi Militer pada saat itu. Selain menjabat sebagai Kepala Bagian Organisasi Resimen II Polisi Tentara di Purworejo, Sutoyo juga pernah menjadi ajudan dari Kolonel Gatot Subroto.
7. Kapten Pierre Tendean
Pahlawan revolusi yang terakhir adalah Kapten Pierre Tendean. Pierre Tendean lahir di Jakarta, 21 Februari 1939.
***
Peristiwa G30S/PKI menorehkan luka mendalam bagi bangsa dan negara Indonesia, masyarakat menuntut Presiden Soekarno agar membubarkan Partai Komunis Indonesia atau PKI. Akhirnya PKI yang sempat menjadi kekuatan politik bagi Presiden Soekarno pada aksi Ganyang Malaysia resmi dibubarkan. Kemudian, Presiden Soekarno memberikan mandat pembersihan pada semua struktur pemerintahannya kepada Mayjend Soeharto lewat Supersemar (Surat Perintah 11 Maret 1966).
Panglima TNI yaitu Jenderal AH Nasution yang menjadi sasaran utama dalam G 30 S/PKI berhasil meloloskan diri. Namun, putrinya, Ade Irma Nasution meninggal dunia karena tertembak. Ia tewas bersama ajudannya yang bernama Lettu Pierre Andreas Tendean yang diculik dan ditembak di Lubang Buaya.
Keenam Jenderal TNI AD dan juga Kapten Pierre Tendean ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi dan sejak diresmikannya UU Nomor 20 tahun 2009, gelar tersebut sudah diakui sebagai Pahlawan Nasional. Beberapa orang lainnya yang menjadi korban dari peristiwa pembunuhan di Jakarta dan Yogyakarta dari G30 s/PKI tersebut adalah Brigadir Polisi Ketua Karel Satsuit Tubun, Kolonel Katamso Darmokusumo, dan Letnan Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto
Kini, Kawasan Lubang Buaya saat ini yang menjadi lokasi tragedi berdarah G30 S/PKI tersebut dijadikan lapangan peringatan yang berisi Monumen Pancasila, yaitu sebuah museum hingga sumur kecil tempat para korban G30S PKI dibuang. (*)


