BerandaLiterasiKitab Leluhur Nusantara

Kitab Leluhur Nusantara

Oleh: Santo Saba Piliang *)

PALONTARAQ.ID – Dalam rangka resepsi sastra peneliti merupakan mata terakhir dalam rantai sejarah yang ikut dalam proses penilaian terhadap apa yang di teliti melalui apa yang di baca

Penelitian yang berpusat pada teks. Pembaca bukanlah pembaca aktual, melainkan pembaca yang ada dibalik teks yang diciptakannya dalam pengamatan itu terlibatlah peranan peneliti sebagai pembaca dan penafsir teks

Dipandang sebagai pembaca kreatif yang berkat tanggapannya sekaligus menjadi
pencipta teks, Disitulah terjadinya transformasi teks, Suatu teks dibaca, dipahami, dan ditafsirkan. Hasil pembacaan, pemahaman dan penafsiran itu diwujudkan
menjadi teks baru, entah sama, entah berlainan bahasa, jenis dan fungsinya menghasil tulisan tafsir baru

Dalam transformasi teks itu dapatlah dikenali tanggapan penciptanya atas teks yang dibacanya terdahulu. Dengan demikian, Oleh karena itu tidak dapat dipungkiri bahwa sering terjadi distorsi pemahaman

Oleh karenanya, membaca ulang pustaka dan serat terdahulu yang pernah di tulis leluhur bangsa nusantara akan berbeda tergantung siapa dan apa motivasi pembacanya

Contoh jika catatan leluhur kita dalam silsilahnya tertulis nama Adam, tergantung dari pembacanya, maksudnya apa yang sudah terdogma di benak pembaca tentang adam, itulah persepsi tentang apa yang di baca, bisa sebagai sesuatu yang menarik atau langsung kontra pandangan

Dibawah ini adalah penyajian apa yang tertulis oleh pendahulu kita, dapat di jadikan alternatif pemahaman dan penggalian untuk membuktikan leluhur bangsa nusantara terdahulu sudah lebih maju dari apa yang sudah terlanjur tertulis dalam buku buku sejarah versi penjajah

Sebelumnya kita cermati sistem penanggalan yang sangat penting untuk meneliti kejadian sejarah :

Sistim penanggalan Nusantara 2100 tahun (Suryasangkala/ tahun matahari) atau selama 2163 (Candrasangkala/ tahun rembulan), yang dibagi menjadi tiga zaman besar (Trikali).

Tahun saka 1 Suryasangkala saka atau tahun berdasar perhitungan matahari, tahun satu saka adalah 6123 sebelum masehi, bukan tahun 78 Masehi. Setiap zaman besar dibagi menjadi tujuh zaman kecil (Saptama Kala) yang masing-masing berusia 100 tahun, sebagai berikut:

Tahun satu Saka adalah 6123 sebelum masehi
1. Zaman Kali Swara, 700 tahun meliputi:

a) Zaman Kala Kukila
b) Zaman Kala Budha
c)Zaman Kala Brawa
d) Zaman Kala Tirta
e) Zaman Kala Rwabara
f) Zaman Kala Rwabawa
g) Zaman Kala Purwa

2. Zaman Kali Yoga 700 tahun meliputi:

a) Zaman Kala Brata
b) Zaman Kala Dwara
c) Zaman Kala Dwapara
d) Zaman Kala Praniti
e) Zaman Kala Tetaka
f) Zaman Kala Wisesa
g) Zaman Kala Wisaya

3. Zaman Kali Sangara 700 tahun meliputi:

a) Zaman Kala Jangga
b) Zaman Kala Sakti
c) Zaman Kala Jaya
d) Zaman Kala Bendu
e) Zaman Kala Suba
f) Zaman Kala Sumbaga
g) Zaman Kala Surata

Mari kita simak dari beberapa naskah/Sĕrat leluhur kita :

Sĕrat Pustakaraja dapat dibagi menjadi 2, yaitu: 1. Sĕrat Pustakaraja Purwa yang menceritakan kejadian masa 800 tahun. Tahun saka 1-800 saka atau tahun 6123 sebelum masehi sampai 5323 sebelum masehi Dalam masa ini yang diceritakan adalah Wayang Purwa. 2. Sĕrat Pustakaraja Puwara yang menceritakan kejadian selama 600 tahun, yaitu antara tahun saka 800 -1400 saka.(5523-4723 S M). Dalam masa ini yang diceritakan lakon-lakon sesudah Wayang Purwa sampai dengan Prabu Brawijaya IV di Majapahit.

Adapun yang menceritakan Sĕrat Pustakaraja Purwa ialah Prabu Sri Bathara Jayabaya, yaitu pada waktu Sang Hyang Narada bersama Bathara Panyarikan turun ke Mamenang untuk menceritakan semua peristiwa di bumiJawa.

Adapun pencipta Sĕrat Pustakaraja Puwara adalah Prabu Brawijaya 5 Baik Sĕrat Pustakaraja Purwa maupun Sĕrat Pustakaraja Puwara masih dibagi ke dalam kelompok besar dan masing-masing kelompok besar tersebut terdiri atas kitab-kitab yang saling berkelanjutan.

Adapun gambaran perincian Sĕrat Pustakaraja Purwa dan Sĕrat Pustakaraja Puwara dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. Sĕrat Pustakaraja Purwa dapat dibagi menjadi 8 kelompok besar, yaitu:

1. Sěrat Mahaparwa

Sěrat Mahaparwa menceritakan kejadian antara tahun saka (Suryasangkala) 1-100 atau tahun 1-103 (Candrasangkala), Sěrat Mahaparwa tersebut dibagi menjadi 2 sěrat (kitab) yaitu:

a. Sěrat Purwapada

Cerita dalam Sěrat Purwapada dimulai dari Empu (Mpu) Sangkala (Ajisaka) Cerita selanjutnya adalah mengenai manusia pertama yang mendiami Pulau Jawa sebagai cikal bakal. Sebelum peristiwa tersebut ada pula ke Pulau Jawa, yaitu Sang Hyang Siwah dan para dewa, mereka melihat sebuah pulau panjang yang penuh tanaman jawawut. Karena itu pulau tersebut dinamakan: Jawa. Sěrat Purwapada ditulis oleh Mpu Satya di Mamenang pada tahun Suryasangkala 851 atau terhitung tahun Candrasangkala 877. atau 5246 SM

b. Sěrat Sabaloka

Cerita dalam Sěrat Sabaloka menceritakan tentang cucu-cucu penghuni Pulau Jawa sampai adanya wabah kematian yang kemudian sirna oleh kekuasaan para dewa. Sěrat Sabaloka disusun oleh Mpu Soda di Mamenang pada tahun Suryasangkala 851 atau terhitung tahun Candrasangkala 877.atau 5246 SM

2. Sěrat Mahadéwa

Sěrat Mahadéwa menceritakan kejadian antara tahun Suryasangkala 101-200 atau tahun Candrasangkala 104-206.atau 5999-5917 SM Sěrat Mahadéwa dibagi menjadi 2 sěrat, yaitu:

a. Sěrat Dewa Buddha

Cerita dalam Sěrat Dewa Budha dimulai dari Sang Hyang Syiwa, fahami kata Budha di sini bukan berarti Yang mulia sidarta gautama dari india pencetus ajaran Budha di India. Sang Hyang Syiwa menjadi menjadi raja pertama di Pulau Jawa di daerah Medhangkamulan dengan gelar Sri Paduka Maha Raja Dewa Buddha sampai pindah ke Gunung Mahendra (Lawu), di sana baginda memberikan pengadilan kepada semua manusia maupun hewan. Sěrat Dewa Buddha ditulis oleh Mpu Padma di Mamenang pada tahun Suryasangkala 851 (3272 SM)atau terhitung tahun Candrasangkala 877.(5246 SM)

b. Sěrat Déwa Raja

Cerita dalam Sěrat Déwa Raja dimulai dari raja-raja putra Sang Hyang Guru, Brahma, Wisnu dan Indra sampai ’’mukswa’’-nya. Sěrat DéwaRaja disusun oleh Mpu Sahasra di Mamenang pada tahun Suryasangkala 851 atau terhitung tahun Candrasangkala 877. atau 5246 sebelum masehi

3. Sěrat Maharěsi

Sěrat Maharěsi menceritakan kejadian antara tahun Suryasangkala 201-300 atau 5ribu922 – 5ribu823 sebelum masehi atau tahun Candrasangkala 207-309. atau 5916 – 5814 sebelum masehi.

Sěrat Maharěsi dibagi menjadi 2 sěrat, yaitu:

a. Sěrat Rěsi Kala

Cerita dalam Sěrat Rěsi Kala dimulai sewaktu Sang Hyang Syiwa menjadi raja di Medhangsiwanda dengan gelar Sri Maharaja Balya sampai dengan cerita Bathara Kala berada di Medhangkamulan dengan gelar Sri Maharaja Berawa. Sěrat Rěsi Kala disusun oleh Mpu Bahubajra di Mamenang pada tahun Suryasangkala 851 atau terhitung tahun Candrasangkala 877. 5246 SM

b. Sěrat Buddha Krěsna

Cerita dalam Sěrat Buddha Krěsna dimulai dari Sang Hyang Wisnu di Medhangkamulan yang kemudian berganti Purwacarita dengan gelar Sri Maharaja Buddha Kresna sampai dengan cerita Sang Hyang Rudra.di Gilingaya atau Gilingwesi dengan gelar Maharaja Dewa Esa. Sěrat Buddha Krěsna disusun oleh Mpu Kundhala di Mamenang pada tahun Suryasangkala 852 atau terhitung tahun Candrasangkala 878.5245SM

4. Sěrat Maharaja

Sěrat Maharaja menceritakan kejadian antara tahun Suryasangkala 301-400 atau tahun Candrasangkala 310-412). 6813-5711 SM. Sěrat Maharaja dibagi menjadi 4 sěrat yaitu:

a. Sěrat Raja Kanwa

Cerita dalam Sěrat Raja Kanwa dimulai dari Sang Nata Prabu Pukukuhan di Purwacarita dengan gelar Sang Maha Raja Kanwa sampai
dengan adiknya menjadi raja juga di Gilingwesi bergelar Prabu Hiranya Rudra atau Prabu Heryana Rudra. Sěrat Raja Kanwa disusun oleh Mpu Wisaka di Mamenang pada tahun Suryasangkala 852 atau terhitung tahun Candrasangkala 878.atau 5245 sebelum masehi

b. Sěrat Palindriya

Cerita dalam Sěrat Palindriya dimulai dari Sang Nata Bagawan Wrahaspati dengan gelar Prabu Palindriya sampai dengan cerita Prabu Sitawaka di Gilingwesi. Sěrat Palindriya disusun oleh Mpu Sunda di Mamenang pada tahun Suryasangkala 852 atau terhitung tahun Candrasangkala 878 atau 5245 sebelum masehi

c. Sěrat Silacala

Cerita dalam Sěrat Silacala adalah tentang Prabu Silacala di Gilingwesi dengan gelar Prabu Watu Gunung yang kemudian kawin dengan ibunya sendiri. Sěrat Silacala disusun oleh Mpu Artati di Mamenang pada tahun Suryasangkala 852 atau terhitung tahun Candrasangkala 878.atau 5245 sebelum masehi

Wayang Purwa mengambil cerita dewa-dewa sampai keluarga Pandawa dan Wayang Gĕdhog mengambil cerita Panji dari Jenggala dengan puteri Kediri, maka Wayang Madya mengambil cerita para cucu Pandawa sampai menjelang Panji

Dapat pula cerita sejak peristiwa wafatnya Prabu Yudayana sampai masa Prabu Jayalengkara naik tahta tahun 785 saka – 1052 saka (5388 SM – 5071 S M)

Maka Tahun saka 1 Suryasangkala saka atau tahun berdasar perhitungan matahari, tahun satu saka adalah 6123 sebelum masehi, bukan tahun 78 Masehi

Jadi, Indonesia butuh ribuan peneliti kesejarahan, untuk mengembalikan “Sejarah Benar” bangsa ini. Sejarah adalah logika, bukan sejarah jika tidak logis. Leluhur kitalah yang mewarnai 3/4 muka bumi, di antara nya tanah india…ini fakta akademik bahwa, Sejarah tidak pernah “Bohong” kepentingan penulisanlah yang menjadikan “Catatan Sejarah” menjadi Bohong. (*)

 

(* Santo Saba Piliang, Penulis INDONËSIARYĀ – True Back History of Indonesia
Exploration & Research. Beberapa tulisan/karya bukunya adalah: Vhuana Caka Pala (Nama asli Borobudur dan sejarahnya), Borobudur Bukan Candi, Klarifikasi Catatan Sejarah Borobudur, True Back History Borobudur, Ramayana adalah Nusantara, Mahabarata adalah Nusantara, Lemuria Adlantis Nusantara, Lemuria Adalah Nusantara, Adlantis adalah Nusantara,  Bali Bukan India, WE ARE ARYA (Kumpulan artikel), Srivijaya (Ungkap kadatuan Srivijaya/bukan kerajaan).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT