Oleh: M. Farid W Makkulau *)
PALONTARAQ.ID – Setiap daerah memiliki tradisi kuliner unik yang menjadi ciri khas Lebaran, tak terkecuali bagi masyarakat Makassar, Sulawesi Selatan. Dua hidangan yang tak pernah absen dari meja makan saat Lebaran adalah Burasa’ dan Mandura’. Kedua penganan beras yang dibungkus daun pisang ini, sebenarnya dimaksudkan “pengganti nasi” agar tahan lama.
Pembuatan Burasa’ dan Mandura’ ini sarat akan makna filosofis dan ikatan budaya yang kuat bagi masyarakat Makassar, khususnya dalam memperkuat tali silaturahmi saat Lebaran. Akar dari hidangan ini dapat ditelusuri kembali ke tradisi kearifan lokal masyarakat Bugis-Makassar, yang secara historis memiliki hubungan erat dengan budaya maritim dan perdagangan rempah-rempah.
Penggunaan kelapa dan daun pisang sebagai bahan utama merefleksikan ketersediaan bahan alami yang melimpah di wilayah tersebut. Meskipun tidak ada catatan pasti mengenai kapan pastinya Burasa’ dan Mandura’ mulai menjadi bagian dari perayaan Lebaran, keberadaannya telah menjadi tradisi turun-temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Proses pembuatannya yang melibatkan pengikatan dengan tali, menggunakan daun pisang sebagai pembungkus, menyimbolkan kekuatan tali silaturahmi dan persaudaraan yang erat. Tali pengikat pada Burasa’ sering kali dibuat dari anyaman janur (daun kelapa muda), yang juga melambangkan kejernihan hati dan ketulusan dalam menjalin hubungan.
Daun pisang sebagai pembungkus, yang merupakan bahan sederhana dan mudah ditemukan, merefleksikan nilai-nilai kesederhanaan dan kerendahan hati. Di sisi lain, penggunaan kelapa dalam kedua hidangan ini menyimbolkan kesejahteraan dan kemakmuran, yang diharapkan akan menyertai kehidupan masyarakat setelah merayakan Lebaran.
Proses Pembuatan Burasa dan Mandura’
Membuat Burasa’ dan Mandura’ membutuhkan kesabaran dan keahlian tersendiri. Prosesnya dimulai dari persiapan bahan-bahan utama, yaitu beras berkualitas tinggi, kelapa parut atau santan kelapa, daun pisang sebagai pembungkus, dan tali pengikat. Untuk Burasa’, beras dimasak dengan santan kental dan sedikit garam, kemudian dibungkus dengan daun pisang dalam bentuk persegi panjang yang khas.
Selanjutnya, Burasa’ diikat kuat dengan tali pengikat sebelum dikukus atau direbus dalam waktu yang cukup lama. Sementara itu, Mandura’ dibuat dari campuran beras ketan dan kelapa parut yang dimasak bersama dengan sedikit garam, kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dikukus hingga matang. Keahlian dalam membungkus dan mengikat sangat krusial agar hidangan tidak hancur saat dimasak.
Prinsip dasar pembuatan Burasa’ dan Mandura’ sama di seluruh daerah Makassar adalah menjadi jembatan penting dalam memperkuat tali silaturahmi antara keluarga dan tetangga. Tradisi saling berkunjung dan bertukar hidangan menjadi momen yang ditunggu-tunggu.
***
Ketika menyajikan Burasa’ dan Mandura’ kepada tamu, masyarakat Makassar tidak hanya menawarkan makanan, tetapi juga mengungkapkan kehangatan, keramahan, dan rasa hormat. Melalui hidangan ini, tercipta ruang untuk berbagi cerita, tawa, dan doa bersama, yang pada akhirnya mempererat ikatan persaudaraan dan keharmonisan dalam masyarakat.

Di tengah gempuran tren kuliner modern, menjaga kelestarian Burasa’ dan Mandura’ sebagai warisan kuliner yang tak ternilai menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab bersama. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk melestarikan tradisi ini, mulai dari melibatkan generasi muda dalam proses pembuatan, mengadakan festival kuliner khas, hingga mendokumentasikan resep-resep tradisional. Dengan demikian, diharapkan Burasa’ dan Mandura’ akan terus menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Makassar dan dinikmati oleh generasi-generasi mendatang.
Burasa’ dan Mandura’ bukan sekadar hidangan khas Lebaran bagi masyarakat Makassar. Keduanya adalah simbol persatuan, kesederhanaan, dan kearifan lokal yang sarat akan makna filosofis. Proses pembuatannya yang membutuhkan kesabaran dan keahlian merefleksikan dedikasi masyarakat dalam menjaga tradisi kuliner yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Melalui Burasa’ dan Mandura’, terjalin tali silaturahmi yang kuat, mempererat ikatan persaudaraan dan keharmonisan dalam masyarakat. Pelestarian hidangan khas ini menjadi tugas bersama untuk menjaga identitas budaya Makassar agar tetap hidup dan dinikmati oleh generasi mendatang.
Bahan Bacaan:
Ahmad, F. (2018). Kuliner Makassar: Tradisi dan Identitas. Makassar: Celebes Press.
Syarif, S. (2020). Burasa’ dan Mandura’: Simbol Kemenangan di Balik Daun Pisang. Jurnal Budaya dan Masyarakat, 15(2), 112-125.
Rahayu, S. (2021). Menjaga Warisan Kuliner Makassar: Upaya Pelestarian Burasa’ dan Mandura’. Jurnal Kajian Budaya, 10(1), 45-58.
Taufik, M. (2022). Kuliner Lebaran: Jejak Sejarah dan Makna Filosofis Burasa’ dan Mandura’. Makassar: UNHAS Press.
Hasan, H. (2023). Tradisi Lebaran di Makassar: Burasa’ dan Mandura’ sebagai Jembatan Silaturahmi. Makassar: UIN Press.
(* M. Farid W Makkulau, Peneliti Budaya Bugis Makassar/Tinggal di Pangkep.



