Oleh: Etta Adil *)
PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik yang disusun dan dirangkai atas nama “Kholifatul Wahidah” ini bernuansa nahwu–sharaf dengan metafora mubtada–khabar, fi‘il–fa‘il–maf‘ul, marfū‘, manṣūb, majrūr, taṣrīf, wazan) untuk menggambarkan sosok santriwati yang rajin, cantik, dan terus berbenah diri.
I’rob dan Taṣrīf Perjalanan Santri
Kalam hidupmu tertata seperti jumlah ismiyyah: mubtada niat baik, khabar amal yang bercahaya.
Husnul akhlakmu tampak marfū‘ derajatnya, terangkat oleh adab dan kesungguhan belajar.
Olah jiwa dan pikiranmu seperti taṣrīf fi‘il, berubah bentuk menuju makna yang lebih baik.
Langkahmu di pesantren ibarat fi‘il yang hidup, menggerakkan fa‘il tekad dan maf‘ul prestasi.
Indah wajahmu, lembut perangaimu, seperti lafaz yang fasih dalam kaidah nahwu.
Fikirmu tajam memahami wazan dan makna, menjadikan ilmu sebagai jalan kemuliaan.
Amalmu tertata seperti i‘rab yang jelas, antara yang marfū‘, manṣūb, dan majrūr.
Tekadmu bangkit mencoba hal baru, bagai kata yang berubah makna dalam sharaf.
Usaha dan keberanianmu menjelma kalimat sempurna, yang tak sekadar lafaz, tetapi juga makna.
Lembaran hari kau isi dengan kesungguhan, seperti santri menelaah al-Ajurrumiyyah di waktu senyap.
Wahidah—namamu bermakna keteguhan, satu niat yang lurus menuju ridha-Nya.
Ambisimu sederhana namun mulia: mengangkat kegiatan dan prestasi dengan ikhlas.
Hikmah kau petik dari setiap ujian, seperti pelajar nahwu memahami rahasia i‘rab.
Ikhtiar dan doa menjadi mubtada hidupmu, sedang keberhasilan adalah khabarnya kelak.
Dengan keberanian mencoba hal baru, kau ubah hidup seperti perubahan taṣrīf.
Akhirnya langkahmu menjadi teladan, bagi sahabat yang berjalan bersamamu.
Hingga namamu terucap indah: Kholifatul Wahidah—santriwati yang mengubah diri menjadi lebih mulia.
***
Minasatene-Pangkep, 18 November 2025
(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.


