Laporan: Madidi_EA
PALONTARAQ.ID – Pada Hari Senin, tanggal 25 Agustus 2025 lalu, salah satu momen terharu dalam penganugerahan Bintang Jasa Utama adalah ketika Presiden RI Prabowo Subianto sambil berlutut menyematkan penghargaan tertinggi negara tersebut kepada Teungku Nyak Sandang bin Lamudin — sering juga disebut Tengku Nyak Tandang — sang patriot Aceh yang menjadi penyumbang penting pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, Seulawah RI-001.
Dikisahkan, Pada usia 23 tahun, Teungku Nyak Sandang menjual hartanya berupa sepetak tanah dan 10 gram emas, menghasilkan uang senilai Rp 100 pada tahun 1948–1950. Ia kemudian menyerahkan dana tersebut kepada negara untuk membantu pembelian pesawat pertama RI, Seulawah RI-001.
Ketika itu, Tahun 1948–1949, Indonesia baru merdeka dan membutuhkan pesawat untuk diplomasi, logistik, dan penerbangan komersial. Presiden Soekarno meminta bantuan masyarakat Aceh untuk mengumpulkan dana karena kas negara sangat terbatas. Masyarakat Aceh menyumbang 20 kg emas murni dan dana sekitar SGD 120.000, termasuk sumbangan pribadi dari Teungku Nyak Sandang.
Dana digunakan untuk membeli dua pesawat Douglas DC-3 Dakota dari Filipina. Pesawat pertama diberi nama Seulawah RI-001 (“Seulawah” berarti Gunung Emas dalam bahasa Aceh). Pesawat kedua disebut RI-002. Pesawat inilah yang kemudian digunakan untuk penerbangan logistik dan diplomatik, termasuk mengangkut delegasi pemerintah ke luar negeri. Pada masa agresi militer Belanda, pesawat ini menjadi sarana vital untuk komunikasi dan pengiriman bantuan.
Pesawat Seulawah RI-001 merupakan cikal bakal maskapai Garuda Indonesia. Dari pesawat ini, penerbangan sipil Indonesia berkembang menjadi maskapai nasional pada awal 1950-an. Seulawah RI-001 kini diabadikan dalam monumen di Banda Aceh. Kontribusi masyarakat Aceh, termasuk Nyak Sandang, diakui sebagai tonggak berdirinya industri penerbangan nasional.
Nyak Sandang bahkan menerima surat obligasi atau tanda dukungan resmi dari pemerintah tahun 1950, yang menyatakan dana tersebut bisa “dikembalikan” dalam waktu 40 tahun sebagai bentuk apresiasi. Namun, hingga kini belum pernah dicairkan. Beliau menerima penghargaan atas kontribusinya dalam sejarah penerbangan nasional.
Meskipun telah menyumbang hartanya, Nyak Sandang sendiri sudah pernah menegaskan bahwa ia tak pernah mengharapkan balasan, hanya bangga bisa berkontribusi buat negeri. Di usia lanjut, beliau juga menyampaikan keinginan untuk menunaikan ibadah haji—sekalipun tak pernah naik pesawat seumur hidupnya—dan harapannya sempat diketahui pihak Garuda Indonesia.
Pada 8 Mei 2018, Nyak Sandang—didampingi oleh seorang dermawan asal Semarang—berangkat menuju Jeddah, Arab Saudi, dari Bandara Sultan Iskandar Muda. Ia pergi bersama 17 jamaah lainnya melalui biro perjalanan Iskandar Tours and Travel, dan mereka tiba di Tanah Suci menggunakan maskapai Garuda Indonesia.
Sebelumnya, dalam sebuah pertemuan di Istana Merdeka (Maret 2018), Presiden Joko Widodo menjanjikan untuk membantu mewujudkan tiga harapan Nyak Sandang: sembuh dari katarak, naik haji, dan pembangunan masjid di desanya. Karena aturan usia, akhirnya yang terealisasi dulu adalah umrah, bukan haji.
Jadi, meskipun belum sempat naik haji dengan pesawat Garuda, Nyak Sandang berhasil mewujudkan keinginannya untuk naik umrah dengan Garuda Indonesia, suatu momen penuh makna dalam hidup beliau.
Kini, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Tanda Kehormatan Republik Indonesia – Bintang Jasa Utama kepada Teungku Nyak Sandang atas jasanya di bidang perjuangan kemerdekaan dan kemandirian transportasi udara nasional. Saat penyematan, suasana menjadi sangat emosional. Nyak Sandang hadir menggunakan kursi roda, dan Presiden Prabowo bahkan berlutut dan hormat saat menganugerahkan tanda kehormatan tersebut. Seluruh hadirin kemudian memberikan tepuk tangan meriah sebagai penghormatan. (*)


