Oleh: Dr. Adian Husaini
PALONTARAQ.ID – Masalah kedatangan Tim Sepakbola Israel ke Indonesia akhirnya menjadi pelik dan serius. FIFA akhirnya membatalkan keputusan Indonesia sebagai tuan rumah. Lobi Indonesia ke FIFA gagal. Jagad berita pun heboh. Ini menjadi pelajaran berharga.
Beberapa bulan lalu, sejumlah ormas Islam sudah menyampaikan aspirasinya: menolak kedatangan Timnas Israel itu. Tapi, pemerintah terkesan tidak merespon dengan cepat aspirasi umat Islam itu. Pemerintah tidak cepat memanggil atau mengundang pihak-pihak yang beraspirasi.
Bahkan, ada yang menuduh bahwa suara keberatan terhadap kedatangan Tim Israel itu bararoma politik, karena menjelang Pemilu dan Pilpres 2024. Sebab, beberapa waktu lalu, ada beberapa peristiwa olah raga di Indonesia yang dihadiri atlet Israel, tapi tidak ada yang protes. Pernyataan seperti ini bukannya mendinginkan, tetapi justru memanaskan situasi.
Pada 2 Maret 2023, Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir membuat pernyataan, bahwa Indonesia akan memberikan jaminan keamanan bagi Timnas Israel untuk Piala Dunia U-20. Kata Erick, negara menjamin kedatangan siapa pun yang bermain di Indonesia sesuai kontrak sebagai tuan rumah.
Dalam berbagai perdebatan di media massa, termasuk media sosial, pihak pendukung kedatangan Tim Israel, terkesan meremehkan aspirasi umat. Bahkan, banyak caci-maki dan hinaan yang disampaikan kepada sejumlah pimpinan organisasi Islam.
Tiba-tiba ada peristiwa yang luar biasa terjadi. Pertengahan Maret 2023, Gubernur Bali Wayan Koster mengirim surat ke Menpora dan menyatakan menolak daerahnya ditempati sebagai lokasi pertandingan sepakbola U-20. Setelah itu, giliran Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyatakan sikap serupa. Akhirnya, secara resmi Partai Pemerintah PDIP, bersikap secara terbuka menolak kedatangan Tim Israel ke Indonesia.
Dalam sebuah acara perdebatan di televisi, Sekjen PDIP secara tegas dan berani menyampaikan argumentasinya, bahwa Israel adalah negara penjajah. Ia juga mempertanyakan standar ganda FIFA yang menghukum Rusia karena menginvasi Ukraina, tetapi tidak memberi sanksi kepada Israel.
Begitulah, perdebatan dan pergulatan opini tentang kedatangan Tim Sepakbola Israel , yang akhirnya berujung pada pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah turnamen internasional U-20. Sampai saat-saat terakhir, Pemerintah Indonesia terus melakukan lobi ke FIFA. Namun, sejumlah usulan yang diajukan pemerintah Indonesia ditolak oleh FIFA. Misalnya, agar Tim Israel bertanding di negara tetangga.
***
Bagaimana pun, peristiwa itu sudah terjadi. FIFA terbukti bersikap standar ganda. FIFA enggan memberikan sanksi kepada Israel yang posisinya sangat membahayakan bagi perdamaian dunia. Juga, Israel terbukti rajin melakukan pelanggaran HAM dan aneka kekejaman dengan sangat transparan.
Kini, Indonesia sudah mengambil keputusan, dan itu sepatutnya dihormati oleh seluruh rakyat. Tentu saja, ada harga mahal yang harus dibayar. Khususnya dalam bidang persepakbolaan. Jika pembelaan terhadap Palestina didasari dengan niat ikhlas, insyaAllah, “musibah” ini akan diganti dengan yang lebih baik. Allah Maha Adil dan Allah akan memberikan balasan yang pedih kepada kaum yang zalim.
Dan jangan lupa! Indonesia adalah negara pelopor dalam menentang penjajahan Israel atas Palestina. Tokohnya adalah Presiden Soekarno. Tahun 1955, Indonesia menancapkan tonggak penting dalam perlawanan terhadap penjajah Zionis Yahudi. Ketika itulah Indonesia memelopori diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika (KAA), di Bandung.
Menurut Roeslan Abdulgani (Menlu RI periode 24 Maret 1956-28 Januari 1957) salah satu jiwa pokok dari KAA Bandung, 1955, adalah jiwa anti-Zionisme. Dalam konferensi tersebut Zionisme Israel oleh banyak delegasi dikatakan sebagai “the last chapter in the book of old colonialism, and the one of the blackest and darkest chapter in human history”.
Zionisme Israel, menurut Roeslan Abdulgani, pada hakekatnya adalah bentuk dan manifestasi dari nafsu untuk merampas tanah air bangsa lain, dengan cara-cara teroris dan kejam. Negara Israel yang didirikan pada tahun 1948, tidak hanya merampas tanah air rakyat Palestina yang tak berdosa, tetapi juga mengusir penduduk aslinya dengan teror dan kekerasan.
Selanjutnya Roeslan menulis: “Zionisme boleh dikatakan sebagai kolonialisme yang paling jahat dalam jaman modern sekarang ini. Ia berbau rasialisme. Ia menyalahi agama Yahudi. Ia didukung oleh kekuatan-kekuatan internasional yang berjiwa reaksioner, baik dari kalangan Yahudi di Eropa Barat maupun di Amerika.” (Roeslan Abdulgani, Indonesia Menatap Masa Depan, 1987:310-311).
Tokoh Yahudi, Prof. Israel Shahak – dalam bukunya berjudul Jewish History, Jewish Religion (London: Pluto Press, 1994), menyatakan, bahwa negara Israel memang merupakan ancaman bagi perdamaian dunia. Katanya, “In my view, Israel as a Jewish state constitutes a danger not only to itself and its inhabitants, but to all Jew and to all other peoples and states in the Middle East and beyond.”
Cucu salah satu pendiri negara Israel, Miko Peled, juga sudah menyampaikan saran kepada pemerintah Indonesia, agar dengan tegas menolak kedatangan Timnas Sepakbola Israel ke Indonesia. Indonesia dipandang sebagai satu benteng yang kokoh dalam melawan zionisme. Banyak negara telah luluh dan tunduk pada tekanan Israel. Tetapi, dalam kondisi yang tidak mudah, Indonesia masih bisa menunjukkan sikapnya.
Keputusan sudah diambil. Beda pendapat hal biasa diantara 270 juta manusia. Saatnya, kita sebagai bangsa yang berlayar dalam satu kapal NKRI, menatap ke depan, merancang masa depan gemilang. Jaga keutuhan dan persaudaraan! Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, melindungi negeri kita. Aamiin. (*)
(* Dr. Adian Husaini, Depok, 29 Maret 2023, sumber tulisan: www.adianhusaini.id


