BerandaAl-Qur'anMengapa Mesti Belajar Matan Tuhfatul Athfal?

Mengapa Mesti Belajar Matan Tuhfatul Athfal?

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Matan Tuhfatul Athfal dan Terjemahnya

PALONTARAQ.ID – Mempelajari Matan Tuhfatul Athfal adalah suatu keharusan bagi siapa saja pelajar muslim/santri, dan bahkan guru/ustadz yang ingin mendalami terus Al-Qur’an, membacanya secara baik dan benar, dan terkhusus keharusan bagi penghafal (hafidz/hafidzah) Al-Qur’an.

Bagi Guru, Penghafal atau Pengajar Al-Qur’an (Rabbaniyin) sangat penting baginya untuk menguasai Matan Tuhfatul Athfal dan mengambil sanad keilmuannya. Kitab karya Syaikh Sulaiman bin Hasan bin Muhammad Al Jamzuriy ini sangat membantu dalam mengukuhkan pemahaman ilmu Tajwid.

Beberapa waktu lalu, Lembaga Tarbiyah Islamiyah (LTI) mengadakan Daurah Matan Tuhfatul Athfal, sebelumnya penulis juga pernah mengikuti Daurah yang sama, yang diadakan oleh Ma’had Imam Bukhari Wahdah Islamiyah Makassar. Untuk mengukuhkan pemahaman dan menjaga hafalan bait-bait Tuhfatul Athfal, penulis kembali mengikutinya, apalagi Daurah yang diselenggarakan LTI ini diajar langsung oleh Syeikh Ziyad An-Najar.

Screeshoot Peserta Daurah. (foto: ist/*)
Screeshoot Peserta Daurah. (foto: ist/*)

Siapa Syekh Ziyad An-Najar? Beliau adalah pemilik sanad Qiro’ah Ashim dan Nafi’, mutqin 30 Djuz Al-Qur’an, serta pembimbing pusat penghafal Al-Qur’an di Gaza Palestina. Mengikuti Daurah Syaikhuna Syekh Ziyad an-Najar adalah satu kerinduan tersendiri, terutama juga dari beliau, kita bisa mendapatkan informasi terkini tentang Al-Quds dan Umat Islam di Gaza Palestina.

Mengapa Belajar di Lembaga Tarbiyah Islamiyyah (LTI)? Dari Profil dan kegiatannya, sungguh lembaga ini adalah lembaga yang kredibel dan terpercaya. LTI sendiri adalah lembaga pendidikan dan dakwah Al Qur’an yang sudah eksis sejak Tahun 2015, yang mana berpusat di Kota Bandung. LTI sudah berpengalaman menyelenggarakan dauroh online bekerjasama dengan masyaikh dari Timur Tengah.

tangkapan layar saat Daurah. (foto: ist/*)
Tangkapan layar saat Daurah. (foto: ist/*)

Salah satu fadhilah yang dapat kita ambil dari belajar Matan Tuhfatul Athfal, kita akan mudah mengingat kembali Landasan-landasan tajwid setelah mengikatnya dengan matan. Sangat penting bagi kita untuk memahami Fadhilah-fadhilah Al-Qur’an (Fadhail Al-Qur’an). Bukankah salah satu keutamaan ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah keutamaan membaguskan bacaan Alqur’an (Fadhlu Tahsin sawatu inda tilawatil qur’an).

Yang harus diingat adalah bahwa keimanan itu sebagai syarat mengambil manfaat dari Al-Qur’an. Itu pulalah sebabnya ketika bersentuhan dengan Al-Qur’an, haruslah dengan adab-adab yang baik (Adabu Tilawatil Qur’anul Karim), dan terkait hal ini Syaikh Sulaiman al-Jamsuri juga menyebutkan adab bersama Al-Qur’an.

Lihat pula: Tentang Tuhfatul Athfal: Pengarang, Isi dan Artinya

Syekh Sulaiman Al-Jamsuri menyebutkan setidaknya ada 11 Adab dalam membaca Al-Qur’an yang harus diperhatikan, yaitu: (1) Bersiwak/membersihkan mulut, (2) Berada dalam keadaan suci, (3) Berlindung kepada Allah dari godaan syetan, (4) khusyu’ ketika membaca Al-Qur’an (khusyu’, keadaan kondisi hati tergerak/merasakan sesuatu dan responnya itu ada dalam anggota badan/suara/, merasa takut hati kita ketika membaca Ayat-ayat alqur’an tentang azab).

Adab berinteraksi dengan Al-Qur’an itu selanjutnya adalah: (5) Mengindahkan / membaguskan suara dan membacanya dengan jelas. (6) Menangis ketika membaca Al-Qur’an, (7) Mentadabburi ayat-ayatnya, (8) Hendaknya membaca al-qur’an disertai dengan pemaknaannya/tafsirnya. (9) Bertasbih ketika membaca ayat-ayat tentang Tasbih dan meminta perlindungan kepada Allah ketika membaca Ayat-ayat tentang siksaan neraka. Jika membaca Ayat-ayat tentang Syurga, maka juga berdoa memohon agar diberikan nikmat Allah. 10. Berhenti membaca Al-Qur’an ketika merasa ngantuk. 11. berhenti dan memulai membaca Alqur’an itu sesuai tanda-tandanya.

Daurah Matan Tuhfatul Athfal yang penulis ikuti kini, dimulai sejak Tanggal 7 April lalu sampai 21 April besok (9x Pertemuan). Alhamdulillah, penulis selalu hadir lebih awal karena memang merasa bahwa matan Tuhfatul Athfal ini harus dipermantap, apalagi menjadi kesyukuran tersendiri dapat hadir langsung (meski secara online) di Liqo-nya Syekh Ziyad an-Najar dengan penerjemah, Akhuna, Ustadz Husnul Ma’ab.

Semoga saja kali ini penulis bisa dapat ijazah sanad Matan Tuhfatul Athfal dari Syekh Ziyad an-Najar dan kedepannya bisa menjadi bahan pengajaran yang kompleks untuk Mata Pelajaran Al-Qur’an-Hadits yang penulis asuh untuk Kelas VII-IX di Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, S.H.I., M.M., Guru Al-Qur’an-Hadits/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT