Oleh: Santo Saba Piliang *)
PALONTARAQ.ID – “Skeptisisme ilmiah” atau “Skeptisisme Rasional” adalah posisi seseorang yang mempertanyakan “Klaim” yang kurang memiliki “Bukti Empiris”.
Dalam praktik, istilah ini biasanya digunakan untuk pengecekan klaim dan teori “Sebelumnya” yang kemungkinan merupakan semu, ambigu dan tidak ilmiah
“Hermes” menjadi simbol seorang duta yang dibebani dengan sebuah “Misi” tertentu, Berhasil-tidaknya misi itu sepenuhnya tergantung pada cara bagaimana pesan itu disampaikan nya, Oleh karena itu, “Hermeneutik” pada akhirnya diartikan sebagai “Proses mengubah sesuatu atau situasi ketidak tahuan menjadi mengerti”
Sebagai istilah ilmiah, Hermeneutika diperkenalkan pertama kali sejak
munculnya buku dasar-dasar logika, Peri Hermeneias karya “Aristoteles” Sejak saat itu pula konsep logika dan penggunaan rasionalitas diperkenalkan sebagai dasar tindakan “Hermeneutis”
“Skeptisisme ilmiah” berbeda dengan “Skeptisme Filosofis”, Skeptisisme ilmiah menggunakan pemikiran “Kritis” dan pembuktian melalui induksi ketika mencoba melawan klaim yang kurang memiliki bukti, Ketika “kontradiksi” dapat dicapai secara “Logika” , asumsi tadi telah terbukti “Salah”,..sehingga pernyataan tersebut “Benar”
Pembuktian melalui kontradiksi atau “Reductio ad Absurdum” bukanlah sebuah argumen yang salah, Sebaliknya jika dilakukan dengan benar merupakan argumen yang sah, “Benar”…dan jika pembuktian melalui “Kontradiksi” menghasilkan “Kesalahan”, kesalahan tersebut terletak pada kesalahan pada proses “Penurunan Kontradiksi”, bukan pada cara pembuktiannya
“Sains”, sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para
ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan
tentang gejala-gejala alam dan pembuktian kebenaran catatan sejarah…. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan akhirnya “Menyimpulkan”
….ini yang terjadi pada pencatatan “Sejarah kita bahwa…Pembuktian “Benar” dalam catatan pendukung sejarah adalah jika ada segudang referensi nya,… Bagaimana jika seluruh referensi terdahulu semua “Salah”…karena sudah di rancang dan di buat catatan nya seragam dan memang dengan niatan untuk di “Hilangkan”….
Fakta kemajuan leluhur bangsa ini yang di sengaja di hilangkan dengan Publikasi kata “Mitos”…
Apa itu “Mitos”…?
Studi tentang mitos dimulai pada sejarah kuno di Yunani oleh Euhemerus , Plato dan Sallustius kemudian dikembangkan Neoplatonis dan kemudian dihidupkan kembali oleh para ahli mitos Renaisans
Mitologi pada abad 19 menjadikan kata “mitos” sebagai langkah alternatif para ilmuwan jika gagal mengungkap fakta terhadap sesuatu ( Tylor ), menganggap label ini sebagai sebuah “kesalahan bahasa” ( Müller )
Pendekatan terakhir oleh ilmuwan menyimpulkan bahwa mitos sebagai manifestasi kebenaran psikologis , budaya, atau sosial “Bukan sebagai catatan historis yang tidak akurat ”
Garis bawahi “Bukan sebagai catatan historis yang tidak akurat”, Maksud nya mitos adalah rekaman sejarah yang di catat dalam cerita di rekam dalam budaya dan akurat…dan kemampuan leluhur kita ber “Levitasi, Teleportasi, Telepati” adalah “Benar” terjadi..
Kemampuan “Science” saat ini belum mampu mengungkapnya…untuk kata yang mudah, lari dari kenyataan fakta “Belum” mampu mengungkap adalah dengan menyebut “Mytos”..
Buku “The Stars My Destination” karya A. Bester mengungkapkan bahwa pada tahun 2.510 nanti “Teleportasi” manusia sudah menjadi umum dan ketika itu terjadi, alat transportasi lain menjadi usang karena manusia bisa pergi ke segala penjuru di ruang angkasa dalam seketika….
Telepati adalah transmisi informasi yang dikirim dari satu orang ke orang lain tanpa menggunakan saluran sensorik manusia atau interaksi fisik, Istilah ini diciptakan1882 oleh Frederic WH Myers, pendiri Society for Psychical Research
Menurut sejarawan Roger Luckhurst dan Janet Oppenheim , asal konsep telepati dalam peradaban Barat dapat dilacak hingga akhir abad ke 19, Ketika ilmu-ilmu fisik membuat kemajuan yang signifikan, konsep-konsep ilmiah diterapkan pada “Fenomena mental”, Parapsikologi menjelaskan beberapa bentuk telepati
Penamaan “Metafisika” diberikan oleh Andronikos dari Rodhos pada tahun 70 SM terhadap karya-karya yang disusun sesudah buku Physika,…bukan karena Physika maka Metafisika ada, tetapi kebetulan karena muncul buku Physika maka barulah terbit istilah “Metafisika” untuk menjelaskan tentang diluar Physika yang belum di fahami
Meta artinya sesudah atau dibalik sesuatu dari pyisika yang tidak dapat diukur oleh jangkauan panca indra, dalam ke ilmuan Nusantara terdahulu inilah yang di sebut “Klenik’ atau “Ilmu Tua”
“Klenik” juga dikaitkan dengan banyak hal yang tidak dapat dicerna dengan akal namun dipercaya oleh banyak orang atau di sebut
“Takhayul” dalam bahasa Inggris di sebut “Superstition” adalah sesuatu yang dianggap hanya berdasarkan pada “Khayalan” belaka,ini karena sesuatu yang “Un Logic” sukar di nalar
“Klenik” di dalam tradisi budaya asli Indonesia dalam hal ini budaya “Jawa” adalah sesuatu yang “Tersembunyi” atau hal yang sangat dirahasiakan untuk umum,karena butuh pemahaman yang dalam untuk dapat di mengerti
Dalam kultur Jawa ada ilmu yang disebut “Ilmu Tua”,…. Yaitu ilmu yang diajarkan kepada mereka yang sudah “Matang” dalam “Kesadarannya”, Hal ini dimaksudkan agar tidak disalah gunakan, atau disalah artikan, Ilmu yang demikian ini di sebut “Klenik”..istilah ini kini terdistorsi lain
“Ajaran atau Agama” Kebenarannya hanya bisa dimengerti oleh mereka yang menempuh ilmu tinggi dalam Islam di sebut “Makrifat”, Bagi orang awam kebenaran agama cukup diyakini,Inilah namanya yang disebut “Klenik” …ini bukan sihir atau menduakan “Hyang Widhi Tunggal”,…
Ada 26 ribu manuskrip kuno milik Indonesia di angkut ke Leiden Belanda,Jika dijajar panjangnya bisa mencapai 12 kilometer,”
Perpustakaan Nasional sendiri hanya mengoleksi 10,3 ribu manuskrip kuno,Tidak sampai separuh nya , Catatan leluhur kita itu di mungkinkan di tafsirkan “Subjektif” menurut “Belanda” lalu di publikasi ke sini….tidak sesuai fakta
Bahwa sejarah Indonesia bukan sejarah asli karena sudah dibengkokkan atau dikaburkan oleh Belanda di tulis 2004 “Architects of Deception – the Concealed History of Freemasonry”,By Juri Lina Swedia
Ada tiga cara untuk melemahkan dan menjajah suatu negeri,selebihnya bangsa itu akan menghancurkanya sendiri:
1. Kaburkan sejarahnya;
2. Hancurkan bukti-bukti sejarahnya agar tak bisa dibuktikan kebenarannya;
3. Putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya,katakan bahwa leluhurnya itu bodoh dan primitif.
Jadi, Skeptisme ilmiah diperlukan untuk mencari kebenaran fakta sejarah leluhur Nusantara yang kemajuan nya sudah melebihi kemajuan saat ini, yang catatan sejarah itu telah mengalami pembelokan dalam pencatatannya
Belajar dari sejarah adalah mundur dua langkah ke belakang untuk seribu langkah lompat jauh kedepan, saat ini ketika kita mundur dua langkah ke belakang, kita terperosok dalam lumpur kegelapan tidak faham siapa kita
Telaah kajian akademik objektif, mendapatkan, ketika menggali kesejarahan leluhur Nusantara yang tanpa referensi penjajah dalam menggali sejarahnya, baru melakukan mundur satu langkah kebelakang. Saat mundur satu langkah kebelakang di dapati leluhurnya sudah berada seribu langkah dari saat ini… (*)
(* Santo Saba Piliang, Revicionist History ~ Exploration & Research #INDONËSIARYĀ
True Back History of Indonesia.


