BerandaArtikelKlarifikasi Catatan Borobudur

Klarifikasi Catatan Borobudur

Oleh: Santo Saba Piliang *)

Related Post: Wisata Sejarah ke Candi Borobudur

PALONTARAQ.ID – Mari berfikir cerdas dan objektif terhadap pencatatan sejarah Nusantara, Artikel ini tengah berupaya meluruskan sejarah kita yang sudah di bengkokan penjajah, hasil dari telaah kajian akademis, tidak sedang menyebarkan suatu ajaran apalagi menistakan…

Perhatikan: Jika benar situs situs di Nusantara berdasar pada ajaran yang terlahir di india Hindu atau Buddha…Kapan dan siapa Misionaris/Pendakwah/Bikhsu/Mikhu/Orang suci dua ajaran yang terlahir di india masa Pra Islam yang datang ke Nusantara ….?

Tidak ada jawabnya….karena memang tidak ada, ini propapaganda penjajah yang ingin menghilangkan jati diri kita untuk menjajah, dengan usaha meng “Indianisasi” Nusantara, dengan tokoh utama penyebar propapaganda ini “Coedes” yang di amini dipakai para sejarawan sebagai referensi utama…tanpa di kaji

Tentang Bangunan megah yang sudah ternamakan “Borobudur” :

Sanghăramā Mahăvihariyā Aryā Para Therrā Vhwănā Çakā Phalā , kini terpublikasi menjadi “Borobudur” penamaan versi penjajah tanpa dasar….

Sanghăramā Mahăvihariyā Aryā Para Therrā Vhwănā Çakā Phalā

Kalimat di atas adalah bahasa leluhur Bangsa Nusantara bernama bahasa “Nagoghi” atau terbaca menjadi “Nagari” yang mendasari “Sansekerta” . Bahasa itu bahasa Nusantara yang di Klaim dianggap dari india…

Sansekerta, disusun ulang oleh Pāṇini, orang Pakistan pertama menulis tentang tata bahasa Sanskerta yang berjudul Aṣṭādhyāyī, buku tata bahasa Sanskerta memuat 3.959 hukum tata bahasa Sanskerta ditulis abad ke-5 SM, Artinya Panini yang menyusun kembali tata bahasa Sansekerta, Bukan dia yang membuat Bahasa Sansekerta

Simak ini telaah perkalimat nya:

Sanghāramā adalah tempat belajar/pembelajaran “Dharmic Original” di masa terdahulu jauh sebelum abad 5 SM

Măha Thupă, Măha atau Mahe adalah berarti Besar atau Agung

Thupă adalah awal dari literasi kata “Stupa”, Peziarah Tiongkok ke Nusantara menyebut kata ini dengan “Tope”

Aryā adalah kaum Cakya/Saka leluhur bangsa Nusantara Indonesia maju terdahulu

Mahăvihariyā adalah tempat berlatih dan prosesi kontemplasi spiritual yang di buat besar dan megah, Mahă dan Vihariyā di gabung menjadi Mahăvihariyā, kata “Vihara”berawal dari kata ini

Para Therrā adalah orang orang yang belajar atau sudah menjadi “Master” atau Maha Rshi pada ajaran “Dharmic Original” , disebut dengan Para Therrān, kata Therrā ini masih dipakai di kelompok besar “Buddhis” Therapada selain Mahayana

Vhwănā Çakā Phalā adalah nama
bangunan nya, ajaran yang tergambar bukan salah satu dari 3 ajaran yang terlahir di india : Buddhis, Jaina atau Hindu, tapi ajaran yang tergambar di sini, mendasari lahirnya 3 ajaran di sana

Literasi kata Vhwănā/Buana,3 tahapan bentuk bangunan Vhwănā Çhaķâ Phalā adalah Gambaran 3 alam kehidupan yang ada di dalam semesta ini yaitu “Tri Laksana” di sebut juga “Bhawanatraya”:

1.Bhawana Langgeng/Alam Kekal;

2.Bhawana Driyo/Alam Lahiriah;

3.Bhawana Triya/Alam Rohaniyah

Bukan Kama,Rupa,Arupa Datu versi india, “Moksartham jagadhita ya ca iti dharma”

“Moksa”.. kontemplasi nya dengan laku “Tapa” atau Topo”, pengekangan diri untuk mencapai tingkat spiritual“Brata”disiplin/tata cara di lakukan untuk bisa meningkatkan kualitas kemanusiaan “Dharma”

Alam Kelanggengan ialah Alam “Suwung”yang tidak mempunyai “Purwa” dan “Wasana”,

Prosesi kontemplasi spiritual ini tampil pada patung arca orang posisi duduk bersila di “Borobudur”, Ini bukan patung YM.Sidharta Gautama

“Topobroto” kontemplasi spiritual nya:

1.Toponing Jasad;

2.Toponing Hawa Nafsu;

3.Toponing Budi;

4.Toponing Suksmao;

5.Toponing Cahyo;

6.Toponing Gesang

Samadhi, Suwung, Laku, Yoga adalah kontemplasi spiritual asli Nusantara

Jawa menyebut dengan Topobroto, Tapa-brata,istilah daerah Parahyangan, Bali menyebut Upasana, Kammala di Sulawesi,kalau sedang melakukannya disebut,Akkammala, dan Tapo/Bataghak di Svarnadvipa

Ada 12 kata “Şvãrggã”, bukan tertulis kata “Nirvana”, ini asli milik kita bangsa Nusantara Indonesia

Literasi teks kata “Şvãrggã”, Sumber lontar “Geguritan Bhima Svargga”, di fahami sebagai alam suci, persinggahan sementara bagi orang-orang yang berjiwa baik Svãrggãloka, ini bukti bukan Buddha/Hindu india

Svarnadvipa” Indonesia, bukan india …adalah tempat awal sumber Palsafah Utama “Dharma” yang mendasari lahir dan tumbuhnya ajaran disana…dan inilah tokoh tokoh putra Indonesia terdahulu “Para Therrān” jauh sebelum lahirnya 2 “Ajaran” Hindu/Buddha di india pada abad 5 SM :

Sañjaya
Śāriputra
Dharmadaśā
Dharmapāla
Suvarṇakeśa
Maudgalyāyana
Svārnadvpa Dharmākirti
Çhrį Janăyasā atau “Dapunta Hyang”

Dharmadasa 700-620 SM, Dharmapala 670-580 SM, Suvarnadvipa Dharmakirti 610 SM – 520 SM, Kumarila Bhatta I 618-540 SM,Adi Sankara 569-537 SM, Mereka Putra Nusantara dari Svarnadvipa/Sumatra Indonesia sumber awal “Dharmic Original” yang kini tersimpan sempurna di Bali

Beberapa Sangharama tempat pendidikan ilmu pengetahuan dan pembelajaran diantaranya :

Sanghăramā, Pusat pembelajaran “Dharmic”di Svarnadvipa bernama “Dharmā Phalā”

Sanghăramā,Cabang di india bernama “Nalanda”

Sanghăramā yang di bangun besar di Javadvipa bernama Vhwănā Çhaķâ Phalā

Banyak tempat tempat seperti itu di Nusantara,”Vhwănā Çaka Phalā kini terpublikasi bernama “Borobudur”…

Kitab kitab yang katanya mendasari desain nya adalah “Shilpa Shastra” & “Vastu Sastra” dari india,…ini tidak benar

Michael Meister, Stella Kramrisch, Kapila Vatsyayan, Para Profesor dan ilmuwan “Indologi” yang mengkhususkan diri pada arsitektur India berpendapat bahwa :

Makna “Shilpa” sangat kompleks sebagai kitab “Seni”, keterampilan, kerajinan, kecerdikan, secara harfiah berarti Ilmu seni dan “Kerajinan”, jadi buku ini adalah panduan untuk membuat patung dan “ikonografi” yang menjelaskan prinsip prinsip komposisi proporsi figur patung

“Vastu Shastra dan Vastu Vidya” sering di kaitkan dengan peradaban Lembah Indus “Mohenjodaro”, namun para ilmuwan seperti “Kapila Vatsyayan” menyangkal hal ini karena naskah teks kuno tentang kitab ini belum pernah di temukan pada peradaban Lembah Indus di india

“Varahamihira’s”…Brihat Samhita tertanggal abad ke 6 M,”Meister” adalah teks India pertama yang dikenal menggambarkan perencanaan “Tata Kota” …… “Kitab panduan merencanakan kota dan bangunan” dan kitab ini baru ada pada abad 6 M

“Manasara Shilpa” Kitab asal India Selatan, yang diperkirakan beredar pada abad ke 5 – 7 Masehi adalah buku panduan tentang desain dan konstruksi India Selatan bernama “Vastu”

“Isanasivagurudeva Paddhati” ,Adalah teks Sansekerta lainnya dari abad ke 9 M yang menggambarkan seni bangunan ini ada di India selatan & tengah

“Silpa Prakasa Odisha”, ditulis oleh Ramachandra Bhattaraka Kaulacara sekitar abad ke 9 M atau abad  ke 10 M sebagai pengembangan lain dari Vastu Sastra

Semua kitab kitab itu baru ada pada abad 5 M, dan “Borobudur” sudah ada jauh sebelum kitab kitab itu di buat di sana ….

Nusantara terdahulu adalah tempat nya “Belajar” bangsa lain..mereka melihat dan mencatat menyalin dan membawa pulang “ilmu” dari Nusantara ….bukan membawa ajaran dari negrinya lalu di sebarkan ke Nusantara

Perhatikan klarifikasi selanjutnya:

Dari buku perjalanan peziarah Tiongkok Fa-Hien 399-414 M dari teks bahasa Mandarin oleh James Legge yang diterjemahkan dan diberi catatan oleh Corean recension pada Bab XL

…”Dalam perjalanan Dua Tahun menumpang Kapal dari dan ke Cina ia mendapat bencana di perjalanan laut nya berlabuh di Javadvipa dari sana kembali ke Cina,Tiba di Shan-tung lalu ke Nanking”..

Setelah berjalan dengan cara ini selama lebih dari sembilan puluh hari,tiba di sebuah wilayah bernama “Java-dvipa”, di mana “Brahmanisme” berkembang,sementara “Pandangan Lain” dalamnya tidak layak untuk dibicarakan….

Fa-hien tinggal di Javadvipa dua tahun dan berhasil mendapatkan salinan “Vinaya-pitaka dari Mahisasakah Dirghagama dan Samyuktagama Sutra juga Samyukta-sanchaya-pitaka, Semua kitab kitab ini tidak diketahui di tanah Han….

Setelah memperoleh karya-karya Sansekerta ini, ia ikut kembali dalam kapal seorang pedagang besar, yang di dalamnya terdapat lebih dari 200 orang dan dengan kapal yang lebih kecil di dalamnya,untuk cadangan dari bahaya navigasi laut…

Hui-Ning melakukan perjalanannya selama 3 tahun di pulau Jawa (664 M – 667 M) menterjemahkan sebuah sutra,tentang pemahaman “Nirwana” yang agung,Penterjemahan ini dibantu seorang pakar Jawa yang bernama Jñânabhadra ,yaitu ilmu tentang “Kehidupan setelah kematian” di Nusantara ini bernama “Svarggā”…Teks literasi kata “Svarggā ini ada pada relief dasar bangunan …..dan bukan ter tulis “Nirvana/Nibana”…

Yang di lihat dan di catat Fa-Huan  337 – 422 M di Javadvipa

…..di atas bukit telah didirikan sebuah menara besar jarak antara keduanya  15 yojana,dengan tinggi 470 kaki dihiasi dengan emas dan perak,disempurnakan dengan setiap zat berharga….di sisi menara didirikan sangharama yang disebut “Abhayagiri” berisi 5000 imam…

…raja memerintah kan untuk membuat 9 penopang pohon,tapi akar pohon tetap menembus penopang itu dan akar keluar hingga 20″ menembus bumi,di bawah pohon itu didirikan sebuah “Kapel”…ditengah-tengah aula ini ada sosok “Patung” tingginya sekitar 22 kaki,seluruh tubuh berkilau di lapisi dengan tujuh zat berharga,di tangan kanan nya memegang mutiara yang nilainya tak ternilai…..( Yang dilihat Fa-Huan pafa saat ini bernama “Mendut” )

…lebih jauh lagi di dalam ibu kota kerajaan didirikan “Kapel” dengan konstruksi luar biasa,di mana ketujuh zat berharga telah digunakan,Raja menyucikan dirinya sesuai dengan aturan “Brahmanis” yang ketat,orang-orang di dalam kota juga menghormati bangunan ini,melakukan ritual kepercayaan yang telah lama ada….(Yang di sebut “Kapel” oleh Fa-Huan saat ini bernama “Borobudur” )

Pada tahun 399-414 M Fa-Hien dalam perjalanan di Svarnadvipa mencatat …mengikuti sungai Po-Nai (adalah sungai Pana’i adalah “Kampar”)…di tempat di mana para pelajar pernah tinggal di situ dan melakukan gerakan… “Berjalan Berputar”… mengelilingi “Tope”/Stupa juga 4 guru duduk di 4 sudut, di tempat ini “Menara”…telah didirikan
…(Yang di sebut “Tope dan “Menara” oleh Fa-Huan saat ini bernama “Muara Takus” dan “Berjalan Berputar”….adalah “Prasawiya/Pradaksina/Tawaf” ) di area inilah pusat ajaran Dharmic yang di sebut “Kota Suci” diarea Kadatuan sebelum di sebut “Srivijaya” yang pusat pemerintahannya di bukit “Katangka”, jejak rekamnya masih ada pada penyebutan daerah di sekitarnya dengan “Koto” yang memakai “Angka”

Sangharamā Mahæ Thupa Aryā
Mahævihariyā Parâ Therrâ  VHWÃNA ÇAKĀ PHALÃ …..adalah bangunan Megah Agung dengan “Stupa Besar” tempat belajar ilmu pengetahuan dan pelatihan kontemplasi spiritual Para Therrân kaum Çaka/Saka/Aryān..ini bukan candi Buddha…

Kapan dan siapa Misionaris/Pendakwah/Bikhsu/Mikhu/Orang suci dua ajaran yang terlahir di india masa Pra Islam yang datang ke Nusantara ….?

Jadi sebelum tahun 78 Masehi sudah ada peradaban maju di Nusantara, cara menghitung awal tahun saka itulah yang menjadikan sejarah kita hilang atau sengaja di hilangkan… sampai kapan kerancuan pencatatan sejara kita ini “Amburadul”

(* Santo Saba Piliang, Revicionist History ~ Exploration & Research #INDONËSIARYĀ
True Back History of Indonesia

https://santosaba.catalog.to
https://anchor.fm/santo-saba
https://www.youtube.com/c/SantoSaba234

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT