Kesehatan Ajakan Kembali Meramaikan Masjid itu Keren, Tapi ..... ?

Ajakan Kembali Meramaikan Masjid itu Keren, Tapi ….. ?

-

- Advertisment -

 

Oleh: Ust. Nanung Danardono, Ph.D *)

Related Post: Akhirnya Kita harus Berdamai dengan Covid-19

PALONTARAQ.ID – Sekarang lagi marak ajakan untuk melawan larangan meramaikan masjid. Bagaimana sebaiknya kita?

Ajakan untuk kembali sholat berjama’ah di masjid saat ada wabah itu keren. Tapi kalo itu kita turuti… Duaarrr…! Umat Islam masuk jebakan.

Pembukaan akses-akses massal, seperti bandara, mal, pasar, dan termasuk konser musik, itu jebakan agar umat Islam marah dan melonggarkan physical distancing.

Begitu umat Islam kembali meramaikan masjid, wabah berkembang biak di masjid, lalu dibawa pulang virusnya ke rumah masing-masing. Umat Islam terbantai.

MPR RI gelar Konser
MPR RI gelar Konser Peduli Covid-19. (foto: ist./palontaraq)

PKI dan kelompok yang takut Islam berkembang pesat akan menang banyak. Tidak usah repot perang pake senjata.

Ngapain? Banyak orang Islam yang pintar tapi mudah terbakar emosi dan masuk jebakan.

Jangan lupa. Kemaren ada pengumuman bahwa akan ada larangan pengumuman data penambahan jumlah pasien yang positif Covid-19.

Lengkap sudah skenario-nya. Virus berkembang biak di masjid, tidak kelihatan, dan umat Islam bertumbangan. Rumah Sakit tidak bisa menampung, tenaga medis kewalahan. Umat Islam mati!

Perang jaman sekarang berbeda dengan perang jaman kemerdekaan.

Kalau dulu, hampir selalu ada orang yang disusupkan ke pihak musuh dengan cara menyamar atau pura-pura membelot.

Orang yang disusupkan ini memakai baju seragam yang sama persis dengan baju seragam musuh. Tujuannya apa? Agar musuh tidak tahu kalau ada lawan yang disusupkan.

Jaman sekarang, cara kuno itu dimodifikasi. Tidak hanya pura-pura berpihak ke Islam, tapi juga pakai buzzer kafir yang berpura-pura menjadi buzzer Muslim.

Maka dibuatlah tulisan-tulisan provokatif, seakan-akan memberi semangat beribadah. Namun tujuan utamanya adalah membantah ulama dan Umat Islam kalah telak tanpa perlu sentuhan fisik.

Kita cukup cerdas untuk bisa paham dan mengenali strategi musuh ini. Tinggal kita mau melawan musuh, atau malah milih manut jebakan musuh.

Ulil albab itu mikir pakai otak, bukan pakai emosi dan balas dendam. Jendral perang itu mikir strategi pake otak, bukan pake nafsu amarah. Atau memang sengaja ingin mati konyol?

(* Pengurus MUI DIY dan Pengurus Wilayah MIUMI DIY

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you