Prabowo-Sandi menang 60 %

by Kontributor Palontaraq | Sabtu, Apr 20, 2019 | 106 views
Prabowo Subianto mengacungkan simbol 02 usai mencoblos. (foto: ist/palontaraq)

Prabowo Subianto mengacungkan simbol 02 usai mencoblos. (foto: ist/palontaraq)

Oleh:  Zeng Wei Jian, Pekerja Media, Pemerhati Sosial Politik

 

PILPRES 2019, Jakarta tenang. Sepi. Tidak ada preman baju kotak-kotak merusuh. Di setiap TPS hanya ada seorang polisi. Nggak ada tentara dan laskar-laskar penjaga TPS. Semuanya berjalan smooth.

Pukul 11.00, Exit Poll mulai muncul. Semuanya menangkan Prabowo-Sandi.

Siangnya, saya putuskan bergerak ke Kemang Village. “Rabu-Biru” terakhir digelar di sana. Andi dan Nur Liea ikut.

Tiba-tiba, seorang taipan menelepon. Dia bilang, “Elo dikerjain. Saksi-saksi di daerah sudah diguyur. Media dikuasai.  Sebentar hasil Quick Count (QC) dirilis dengan angka 58:42. Paslon 01 menang.”

Saya kira dia bercanda. Pukul 03 sore, Litbang Kompas, Indobarometer, SMRC, Indikator, Charta Politika, dan Poltracking rilis Quick Count. Selisih angkanya sekitar 10%. Si Taipan benar.

Jangan lupa, semua pabrik polling itu pernah diundang makan siang di istana. Sejak itu, mereka lebih banyak berperan sebagai opini-maker.

Hanya CSIS yang menghasilkan angka 64.5% banding 43% untuk kemenangan Paslon Prabowo Sandi.

Lihat juga:  Quick Count itu adalah Match Fixing (Pengaturan Skor)

Shock. Saya banting setir. Nggak jadi ke Kemang Village. Putar arah ke Kertanegara 4. Pas, Komandan Don Dasco tiba di lokasi.

Di dalam kediaman Pa Prabowo sudah ada begitu banyak tokoh; Amien Rais, Rahmawati Sukarnoputeri, Jenderal Joko Santoso, Suryo Prabowo, Rizal Ramli, Priyo, Ahmad Muzani, Sandiaga Uno, Mpok Nur, Ustad Sambo, Said Iqbal, Erwin Aksa, Putra Jaya, Neno Warisman, Mulan Jamila dan lain-lain.

Semuanya bahas soal Quick Count yang dirilis pabrik-pabrik polling tadi. Media Sosial terpukul. Moral cyber fighter, saksi dan relawan TPS goyang. This is a psywar.  Kubu 01  ingin menciptakan kemenangan semu.

Stasiun televisi berulang-ulang umumkan hasil Quick Count itu. Debat digelar. Jokower euforia. Cyber oposisi gundah. Merunduk. Moral nyaris ambruk. Anehnya, mereka tidak bahas hasil survei CSIS.

Selisih angka 10% nggak masuk akal. Paslon 01 dinyatakan menang mutlak di Madura.

Selisih prosentase ini 2x lipat dari perolehan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) dalam Pemilu 2014.  Artinya Kyai Maruf Amin lebih hebat dari JK dan Sandiaga Uno yang lebih buruk dari Hatta Rajasa. Dukungan Ustad Abdul Somad (UAS),  Habib Rizieq Syihab (HRS) dan semua ulama tidak punya efek apa pun. Sambutan luar biasa di 1.500 titik blusukan Sandiaga Uno seolah tidak pernah ada. Milenial lebih gandrung kepada Kyai Maruf daripada Sandiaga Uno. What a joke?

Pak Prabowo keluar dan menyampaikan orasi pertama. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi menunggu hasil resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU), real count internal dan abaikan Quick Count.

Data C1 dari TPS terus dikumpulkan BPN. Masuk informasi hasil-hasil pendataan dari beberapa lembaga. Data TNI menghasilkan angka 62% kemenangan Prabowo-Sandi. Tapi data ini tidak dibuka ke publik. Karena untuk konsumsi internal. Semua orang yang berada di Kertanegara 4 sudah terima informasi ini sedari sore.

Tengah malamnya, data TNI beredar di Grup-grup Whatsapp. Belum pernah TNI memastikan diri seperti ini.

Lihat juga: Konsisten dengan Politik yang Bermoral

Tim BPN melaporkan telah memiliki data C1 dari sekitar 350 ribuan TPS. Artinya sekitar 40% dari total 809 ribu TPS. Angka Kemenangan Prabowo-Sandi sekitar 62%. Matematisnya, angka kemenangan sebesar ini tidak akan berubah banyak saat data C1 dari seluruh TPS telah masuk semuanya.

Berdasarkan data ini, sekitar pukul 8 malam Pak Prabowo keluar dan memberikan pernyataan kemenangan. Pecah suara isak tangis dan takbir semua relawan yang hadir.

But the war is over yet.  Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin belum mengaku kalah. Semua relawan Pro Perubahan mesti kawal. Hindari provokasi.

Seandainya ada anasir tertentu yang tidak mau kalah, dia bisa memilih cara anarkis. Bakar 1 obyek vital negara, serbu Glodok atau jarah pertokoan.

Aksi ini trigger amuk massa. Tak terkendali. Penguasa bisa merilis Darurat Sipil. Pemilu dianulir, DPR-RI dibubarkan.

Tapi harganya tinggi. Belum tentu sukses. Mata internasional sedang fokus memperhatikan Indonesia. Meleset sedikit, Pangkalan Amerika di Darwin bisa bergerak. TNI bersama pilihan rakyat yang 60%, yang memilih dengan ikhlas tanpa operasi money politic dan ditakut-takuti isu khilafah.

Dengan angka margin seperti ini, sebaiknya pihak-pihak tertentu segera loncat pagar dan berdiri di barisan rakyat mayoritas itu.

– THE END –

Like it? Share it!

Leave A Response