Perlukah Merayakan Tahun Baru?

by Penulis Palontaraq | Senin, Des 31, 2018 | 102 views
foto: iNews.id

foto: iNews.id

Oleh:  Ummu ‘Adil

SEKADAR sebagai renungan, tentang apakah kita perlu merayakan tahun baru masehi. Ataukah sebenarnya perayaan tersebut suatu tanda seorang muslim telah berperilaku diluar keimanan yang dilaknat dan dilarang, sebagai suatu tindakan menyerupai kebiasaan Yahudi, Nasrani dan Majusi.

Hakekat ajaran Islam memerintahkan untuk menyelisihi agama lain dan Islam harus dimenangkan. (QS. Ash-Shaf[61]: 9 dan bahwa Islam memiliki tujuan, prinsip, pedoman, perintah, dan petunjuk yang tidak perlu dicampur-adukkan dengan ajaran manapun. (QS. Al-An’am[6]: 153).

Agama Islam telah lengkap dan sempurna, tidak membutuhkan syari’at baru, syari’at tambahan dari manapun. (QS. Al Maidah[5]: 3). Oleh karena itu merayakan tahun baru merupakan bentuk tasyabbuh (meniru-niru) orang kafir dan hukumnya haram bahkan digolongkan masuk di dalamnya sebagaimana Rasulullah SAW dengan tegas menyatakan bahwa:

 

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

 

Artinya:
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka. (HR. Ahmad, Abu Daud)

1. Dalam penelitian sejarah, ternyata perayaan tahun baru pertama kali dilakukan oleh Julius Caesar tahun 45 atau 46 SM (sebelum masehi), setelah dia diangkat menjadi Kaisar Bangsa Romawi.

كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

Artinya:
Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari, yaitu Hari Nairuz dan Mihrojan di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha. (HR. An-Nasa’i dari Anas bin Malik. Al-Albani: Shahih)

2. Di dalam Islam, hari raya tahunan hanya ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Wajibnya seorang muslim menyelisihi kebiasaan jahiliyah termasuk menyelisihi hari rayanya.

Ketika Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah beliau mendapati kaum jahiliyah memperingati hari rayanya yaitu Niruz dan Mihrajan dengan bersenang-senang, bermain-main, dan makan-makan, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyuruh menyelisihi 2 hari raya tersebut, muncullah Idul Fithri dan Idul Adha.  Meskipun dua hari raya jahiliyah tanpa beribadah hanya bermain-main dan makan-makan tetapi tetap Nabi menyuruh menyelisihinya karena ada tasyabbuh di dalamnya.

3. Islam melarang pemeluknya mengikuti kebiasaan atau tradisi non muslim dari kalangan yahudi, nasrani, majusi, dalam hal apapun, termasuk didalamnya soal pakaian, perayaan, dan lain sebagainya.

4. Orang di belahan Eropah dari kalangan Nasrani,  Yahudi,  Majusi, merayakan tahun baru dengan berbagai macam kegiatan, diantaranya: meniup terompet (kebiasaan yahudi), memukul lonceng (kebiasaan nasrani), menyalakan kembang api (api simbol majusi dan tuhan mereka), minum minuman keras, serta keluar rumah memenuhi jalanan, halaman, pantai, dan lain-lainnya.

5. Beberapa kemungkaran pada perayaan tahun baru, diantaranya ialah: meninggalkan sholat, khususnya sholat subuh, begadang tanpa ada manfaat, mengganggu orang lain, minum-minuman keras, ganja, zina mata, telinga, tangan, kaki, hati bahkan zina sesungguhnya, campur baur laki-laki dan wanita, serta mengumbar nafsu syahwat.

Waspadai pula amalan-amalan bid’ah di malam tahun baru. Tidak sedikit yang merekayasa amalan yang tanpa tuntunan seperti berdzikir, berdoa, shalawat, dan acara khusus sebagai bentuk tandingan acara tahun baru. Kelihatannya sepintas bagus, tetapi juga terjebak dengan amalan rekayasa (acara syukuran tahun baru) yang dipoles dengan doa dan dzikir.

6. Jika perayaan tersebut baik, niscaya telah dijelaskan didalam Islam. Namun realitanya perayaan tersebut bukan dari Islam.  Waspadai ucapan-ucapan selamat yang bukan pada tempatnya seperti ucapan “Selamat Tahun Baru” dan lain sebagainya.

7. Merayakan tahun baru berarti mengikuti  kebiasaan non muslim  yang merupakan musuh Allah. Waspadai pertambahan jumlah saudara setan dari pelaku-pelaku mubassir dengan petasan, terompet, dan perbuatan mubassir  lainnya yang banyak diperagakan oleh kaum yang mengaku dirinya muslim.

8. Jika masih merayakannya, apa faedah dari membaca Al-Fatihah yang di dalamnya terdapat doa memohon petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang diberi kenikmatan (kaum muslimin), bukan jalannya orang yang dimurkai (yahudi), dan bukan orang yang sesat (nasrani).

Hindari menjadi pemboros tanpa disadari, seperti menghambur-hamburkan harta yang bukan pada tempatnya, dimana  Yahudi, Nasharah, Ahli Bid’ah, Kaum Jahiliyah, dan ahli maksiat lainnya menjadi sponsornya di malam tahun kemaksiatan.

9. Amalan tergantung Akhirnya. Kematian bisa datang kapan saja, hendaknya kita khawatir bila ikut merayakan tahun baru, ternyata Malakul Maut datang menghampiri kita di jalanan, mati dalam keadaan melakukan tradisi non muslim, ikut merayakan hari istimewa musuh-musuh Allah, mati dalam keadaan su’ul khotimah. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

10. Hendaknya hari-hari yang ada sepanjang tahun diisi dengan kebaikan, bukan dengan kemungkaran dan kemaksiatan. Ingat, ada dua nikmat yang banyak dilalaikan manusia: nikmat sehat dan waktu luang.

Waspadai perbuatan mengganggu ketenangan istirahat orang yang butuh istirahat, seperti meledakkan dan membunyikan bunyian yang mengganggu karena itu semua sangat jauh dari ajaran Islam.

11. Sudahkah kita masuk ke dalam Islam secara kaffah? Sekedar nasihat yang bisa ditolak atau diterima. Namun masing-masing ada konsekuensinya. Semoga Allah merahmati siapa saja yang mengambil manfaat dari ucapan yang baik dan mengamalkannya.

Semoga bermanfaat adanya. Aamiin. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response